Saat dihampiri Kopikini.com sesaat sebelum pengumuman juara, Bambang tidak tampak seperti orang yang gelisah menanti pengumuman. Ia tengah menikmati alunan musik sembari berdansa dengan anaknya, di depan panggung yang terhampar di lantai 1 kedai Noah’s Barn. Lepas dari panggung seduh, ia adalah pria keluarga.

Sedikit menjauh dari keramaian, kami bergerak ke lantai dua, tempat ia tadi bertanding seduh dengan 11 peserta lainnya di semifinal, hingga menjadi 3 besar di babak final. Rautnya berubah serius. Anak & istrinya menanti di bawah.

161209-juara-1-bambang-wahyu-bandung-bbrc-2016-bandung-4-jpg

“Menang kalah sudah biasa. Saya hanya ingin ngebawa kopi Cianjur,” Bambang memulai kisahnya. “Insyaallah, kopinya  masih bisa dinikmati. Kita sudah ada loh dunia kopi kecil-kecilan di Cianjur.”

Mulanya, Bambang hanya menyiapkan diri untuk berlaga sampai di dua belas besar. Di semifinal, ia menggunakan kopi Cianjur proses madu (honey-processed), yang ia janjikan beraroma coklat murni (‘dark chocolate’) serta menyisakan bercak rasa teh hitam (‘black tea’) usai diteguk. Begitu tahu dirinya masuk final, Bambang memilih untuk improvisasi menggunakan kopi Cianjur proses natural (natural-processed), yang sama sekali tidak ia sediakan sebelumnya.

“Akhirnya itu tadi teman saya baru datang buat nganterin biji kopi,” ujar Bambang.

161209-juara-1-bambang-wahyu-cianjur-bbrc-2016-bandung-3

Bambang Wahyu, dari Bastaa Coffee Stand Cianjur, saat menyeduh di babak final BBRC 2016.

Sementara itu, kopi Cianjur proses natural yang ia pilih untuk babak final hadir dengan ‘rasa yang lebih ceria’. Aroma gula merah (‘brown sugar’), wewangian bunga (‘floral’), dan nangka (‘jackfruit’) ia munculkan untuk menggantikan sensasi coklat murni di babak sebelumnya. Bercak rasa teh hitam dari kopi Cianjur proses madu, pun berganti menjadi sensasi nangka (‘jackfruit’) dan manis gula jawa (‘tamarind’).

“Buat saya untuk mengakhiri hari yang melelahkan di malam ini, ya dengan kopi yang rasanya ceria,“ ujar Bambang.  “Biar ceria, lah, jurinya. Makanya saya bilang, mudah-mudahan kopi ini bisa membuat para juri tersenyum.”

Segala pertaruhan Bambang tidak sia-sia. Diiringi oleh kibaran para pemain api, Bambang ternobatkan sebagai pemenang Bandung Brewers Cup 2016.

header_161209-juara-i-bambang-wahyu-cianjur-bbrc-2016-bandung-1

161209-juara-i-bambang-wahyu-cianjur-bbrc-2016-bandung-2

Selama dua hari penuh, Bandung Brewers Cup 2016 yang diadakan oleh Manual Brew Community ini menjadi ajang bagi 64 peserta dari dalam maupun luar Bandung untuk bertanding seduh manual. Ketua dewan juri (head judge) Bandung Brewers Cup 2016, Adi W. Taroepratjeka, membenarkan bahwa slot pendaftaran peserta penuh terisi hanya dalam waktu setengah jam.

“Tahun lalu nggak segila ini. Yang saya lebih bahagia lagi, tahun lalu pesertanya mayoritas Jakarta, Bandung, Jogja,” ujar Adi W. Taroepratjeka, yang juga menjadi juri kepala di BBRC pertama tahun lalu. “Tahun ini benar-benar sampe kota-kota kecil ikutan. Sumedang, Tasik, Cianjur.”

161209-head-judge-juri-kepala-adi-w-taroepratjeka-bbrc-2016-1

161209-head-judge-juri-kepala-adi-w-taroepratjeka-bbrc-2016-2

Juri Kepala BBRC 2016, Adi W. Taroepratjeka.

Selain diramaikan para penyeduh dari kota kecil, Bandung Brewers Cup (BBRC) di tahun yang kedua ini berhasil memikat para penyeduh rumahan alias homebrewers.

Dari 64 peserta yang terdaftar, 11 di antaranya merupakan homebrewers. Di babak final bahkan, Bambang bersaing dengan dua penyeduh rumahan untuk meraih titel juara BBRC 2016. Kedua penyeduhan rumahan tersebut adalah Rifqi Hawari dari Bandung, dan Prayudha Adikuasa dari Jakarta.

“Tahun lalu homebrewers-nya belum terlalu banyak,” ujar Adi W. Taroepratjeka. Ia berharap maraknya penyeduh rumahan justru dapat meningkatkan standar.

Untuk kejuaraan seduh manual satu-satunya di Bandung ini, Adi W. Taroepratjeka yang sehari-harinya mengelola sekolah kopi 5758 Coffee Lab ini justru berharap BBRC tidak ‘naik’ ke skala yang lebih besar.

“Saya suka dengan skala sekarang. Hangat. Akrab. Dan semua senang,” ujar Adi W. Taroepratjeka. “Di akhir hari, bikin semua senang ini yang susah.”

161209-head-judges-juri-kepala-juri-kepala-mirza-luqman-mira-yudhawati-adi-w-taroepratjeka-ahmad-hidayat-bbrc-2016

Para juri utama BBRC 2016, sebelum babak final. Kiri ke kanan: Mirza Luqman, Mira Yudhawati, Ahmad Hidayat, Adi W. Taroepratjeka.

161209-para-penonton-bandung-brewers-cup-2016-bbrc-2016-noahs-barn-1

Saat masa persiapan, ia sendiri dikejutkan oleh antusiasme dan dukungan dari kedai-kedai kopi se-Bandung. Disiapkan dalam waktu singkat, BBRC 2016 justru berjalan berkat uang ‘keroyokan’ sebesar 500ribu rupiah dari 35 kedai kopi di Bandung. Alhasil, 1kg Guatemala Geisha Natural tersedia untuk dibawa pulang Bambang sebagai juara utama BBRC 2016.

Bagi Adi, BBRC 2016 menjadi bukti hidup bahwa tidak butuh sponsor besar untuk mengadakan sebuah acara kompetisi lokal yang ‘niat’.

“Gue berharap kayak gini bisa kejadian di kota lain, sih.”

161209-guatemala-geisha-natural-bandung-brewers-cup-2016-bbrc-2016-noahs-barn-1

161209-guatemala-geisha-natural-bandung-brewers-cup-2016-bbrc-2016-noahs-barn-2

161209-bbrc-2016-bambang-rifqi-prayudha-adikuasa-noahs-barn-3

161209-bbrc-2016-bambang-rifqi-prayudha-adikuasa-noahs-barn-2

161209-piala-bandung-brewers-cup-2016-bbrc-2016-noahs-barn

(Liputan oleh Andreansyah Dimas & Klara Virencia;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;
foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply