Kopi betapapun sederhana tetap menyimpan kerumitan proses di balik penyajiannya. Menjadi bagian dari keseharian hampir setiap pekerja, terutama di ibukota. Kopi pun memiliki peran penting dalam putaran hidup kaum urban. Karena itulah kopi menjadi salah satu komoditas yang dipilih untuk ikut menyemarakkan rangkaian acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers di Mal Ciputra pada 27 September – 8 Oktober 2017.

Sesi bincang kopi bersama Muhammad Aga dan Rio Dewanto di Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers.

 

Dalam rangkaian acara ini para pengunjung pun diajak untuk turut serta merayakan Hari Kopi Internasional. Hari raya penting bagi para insan perkopian ini jatuh pada 1 Oktober 2017 lalu di mana tim kopikini.com berkesempatan untuk memandu acara bincang kopi bersama dengan pemeran film Filosofi Kopi, Rio Dewanto dan Muhammad Aga. Berdiskusi mengenai pertumbuhan industri kopi di Indonesia, Rio selaku salah satu pendiri kedai Filosofi Kopi, mengungkapkan pertumbuhannya yang terus meningkat.

“Kalau tahun-tahun lalu kedai kopi di Jakarta mungkin sekitar 50. Tapi sekarang sudah lebih dari 150 kedai kopi. Di Jakarta doang. Di Makasar lebih gila lagi,” tutur Rio yang mengaku bisa menghabiskan lima hingga enam cangkir kopi sehari dalam kepadatan aktifitasnya, “ini membuktikan industri kopi Indonesia terus bertumbuh.”

Kemudian Muhammad Aga pun menambahkan bahwa masyarakat Indonesia sedang perlahan-lahan menuju keadaan di mana kopi dianggap sebagai kebutuhan. Menurutnya, hal ini juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat.

Usai sesi bincang kopi yang ditutup dengan pembagian 1000 cangkir kopi Tiwus dari Filosofi Kopi, Rio dan Aga pun membawa pengunjung menuju area cicip kopi.

Sesi Cicip Kopi Cacat

Dengan niat untuk mengedukasi para penikmat kopi, Klasik Beans Indonesia menghadirkan kopi-kopi cacat untuk dicicipi. Bersanding dengan kopi Sunda Gulali dengan kualitas yang baik, para pengunjung Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers diajak untuk memahami perbedaan rasa kopi-kopi yang gagal dalam proses produksi.

Ferry Irianto, General Manager Mal Ciputra.

Dihadiri pula oleh Ferry Irianto selaku General Manager Mal Ciputra yang ikut serta dalam sesi cicip kopi bersama dengan Rio Dewanto dan Muhammad Aga. Menurut Ferry, acara ini diharapkan dapat semakin membuka pemahaman masyarakat terhadap industri kopi Indonesia.

“Kami ingin memberikan pengalaman dan edukasi mengenai kopi. Masak negara penghasil kopi tidak mengerti kopi. Menurut saya, kopi itu tidak cuma sekadar minuman. Tetapi di dalamnya ada profesi dan juga karya seni,” ungkap Ferry.

Tim sukarelawan yang turut membantu Klasik Beans Indonesia dalam sesi cicip kopi.

Kang Deny yang pada saat itu mewakili Klasik Beans Indonesia mengatakan, kopi adalah komoditas yang sangat membutuhkan perhatian lebih. Dari proses penanaman hingga sampai dikonsumsi semua harus diperhatikan dengan seksama. Terjadi kesalahan pada cara penjemuran saja dapat sangat berpengaruh pada rasa.

Kang Deny dari Klasik Beans Indonesia menjelaskan jenis-jenis cacat kopi yang dapat mempengaruhi rasa.

Dalam sesi cicip 1000 cangkir kopi ini terdapat empat jenis cacat kopi yang dapat dicoba. Di antaranya:

– Kopi Pecah (Kuku Kambing)

Biasa terjadi pada kopi pada saat proses penggilingan dalam mesin atau gigitan serangga. Biji kopi dapat pecah jika belum mencapai tingkat kekeringan yang tepat. Termasuk dalam secondary defect.

– Kopi Biji Hitam

Disebabkan oleh kopi yang terlambat dipetik setelah matang atau terkena penyakit. Termasuk dalam primary defect.

– Kopi Lama/Kopi Tua

Terlalu lama ada dalam penyimpanan tanpa perawatan yang tepat.

– Kopi Earthy

Secara konvensional kopi dengan catatan rasa earthy masuk ke dalam kategori cacat meski kerap dianggap unik. Dapat terjadi karena proses penjemuran yang tidak merata, dijemur langsung di atas tanah, dan tidak mengalami proses penjemuran kembali usai digiling.

Diramaikan oleh kehadiran kedai-kedai kopi dari Jakarta, acara ini diharapkan dapat mengajak Coffeemates untuk dapat ikut serta menyemarakkan geliat industri kopi Indonesia yang kian meriah.

Coffeeclo, salah satu kedai kopi yang turut meramaikan acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers.

Eskrim kopi idaman insan kopi ibukota.

Acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers ini masih akan berlangsung hingga tanggal 8 Oktober 2017. Ditutup dengan kompetisi Latte Art Throwdown yang akan diikuti oleh 48 peserta dengan kehadiran juri di antaranya: Evelyn Yamin (Juara 2 Indonesia Latte Art Championship 2017 dan Head Bar Common Grounds), Reyner Oswald Herbert (Juri Singapore National Latte Art & Indonesia Latte Art Championship), dan Viki Rahardja (Latte Art Expert).

Dua Cipete pun menghadirkan manual seduh dan Kopi Kedua di acara ini.

(Liputan, tulisan, dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas

Relasi oleh Clarissa Eunike)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply