Dear Coffeemates,

Tatkala menghirup secangkir kopi spesialti yang kau pesan untuk diseduh vee-siks-ti, dan menemukan rasa yang lebih mirip teh daripada kopi, jangan lekas patah hati.

Apa boleh buat, lidah kita ini memang terlanjur nyaman dimanja kopi goreng campur jagung gosong sejak pertama kita kenal kopi. Oleh kopi saset, lidah kita dibuat percaya bahwa kopi itu soal satu sensasi: kalau enggak pahit, ya manis. Oleh tren spesialti, kita diajak untuk menghargai kekayaan sensasi yang ada dalam secangkir kopi yang tampil sederhana. Tanpa pemanis buatan maupun susu tambahan, tanpa es batu maupun blender, secangkir kopi hitam panas yang lahir dari perpaduan cinta kasih para petani dengan berkah dari langit & bumi bisa begitu indah dalam ke-’telanjangan’-nya. Demi cita rasa yang lebih hakiki, lidah kitalah yang perlu terasah agar lebih peka dan tajam untuk mengenali rasa.

Ini bukan soal bakat, Coffeemates.

Kita sendiri dapat melatih lidah kita untuk merasa warna-warni sensasi yang ada di dalam kopi spesialti. Tentu, ada banyak jalan menuju Roma. Kelas ‘Coffee Characteristics’ yang diselenggarakan Starbucks, salah satunya. Tanpa perlu pengetahuan akan kopi sebelumnya, Coffeemates yang ikut kelas pelatihan kepekaan lidah macam ini niscaya akan mengerti mengapa beberapa kaum purist peminum kopi bersikeras bahwa kopi itu sejatinya nikmat tanpa gula.

Dipandu oleh penyeduh manual andalan Starbucks, Ryan Wibawa sang Juara IBrC 2016, kelas ‘Coffee Characteristics’ Starbucks yang diikuti kopikini.com beberapa waktu (17/2) lalu merangkum ilmu para sensory judge agar bisa Coffeemates praktikkan sehari-hari.

Berikut 4 (empat) karakteristik yang perlu Coffeemates perhatikan saat menikmati secangkir kopi spesialti:

1) AROMA

Coba ingat terakhir kali Coffeemates terjangkit influenza. Makan apapun jadi hambar rasanya, bukan? Sebagian besar rasa yang muncul di lidah memang bertalian erat dengan indra penciuman kita, Coffeemates. Maka pentinglah bagi kita untuk menghirup dulu aroma secangkir kopi sebelum kita meminumnya.

Istilah yang umum dipakai untuk mendeskripsikan ‘Aroma’ kopi antara lain: ‘earthy’ (tanah), ‘spicy’ (rempah-rempah), ‘floral’ (bunga), atau ‘nutty’ (kacang-kacangan).

Untuk mengenalkan hidung para peserta workshop dengan ‘Aroma’, Ryan Wibawa meminta peserta workshop untuk mencium wangi rempah-rempah sebatang kayu manis dan sebiji pala. Menurutnya, wangi rempah-rempah yang tajam lebih ampuh untuk melatih kepekaan hidung kita.

2) ACIDITY

Tingkat keasaman, atau ‘Acidity’, adalah sensasi yang akan terasa di bagian ujung dan samping lidah. ‘Asam’ di sini bukan kebalikan dari ‘Basa’. Mirip dengan yang Coffeemates bisa temukan dalam buah limau, asam yang ada dalam kopi bersifat ‘membersihkan lidah’. Kopi dengan keasaman yang tinggi umumnya dideskripsikan sebagai ‘bright’, ‘tangy’, & ‘crisp’. Sementara itu, kopi dengan tingkat keasaman yang rendah akan terasa halus dan menempel di lidah.

Istilah yang umum dipakai untuk mendeskripsikan keasaman secangkir kopi adalah ‘lose’ (longgar), ‘smooth’ (halus), ‘high’ (tinggi), ‘bright’ (cerah),  ‘tangy’ (tajam), ‘crisp’ (garing), dan ‘clean’ (bersih).

Ryan Wibawa menekankan, bahwa tingkat keasaman kopi itu murni soal selera. Demi menyalakan bagian lidah yang mendeteksi ‘Acidity’, Ryan menyajikan jus jeruk kepada para peserta workshop Coffee Characteristics.

3) BODY

Bicara soal ‘berat’ cairan di mulut, maka kita bicara ‘Body’. Saat merasakan ‘body’ secangkir kopi, bayangkan kamu sedang merasakan beda antara susu full-cream dan susu tanpa lemak. Ya, ini soal kekentalan cairan dan seberapa lama rasa itu akan membekas di lidahmu. Seperti halnya susu tanpa lemak, kopi dengan ‘light body’ akan terasa ringan dan lewat begitu saja. Sementara, kopi dengan ‘full-body’ akan menyisakan rasa yang melekat di lidah. Sama halnya dengan susu full-cream yang akan menyisakan rasa creamy di mulutmu.

Istilah yang biasa dipakai untuk mendeskripsikan ‘body’ adalah ‘light’ (ringan), ‘medium’ (sedang), dan ‘full’ (penuh). Ryan pun meminta peserta workshop untuk mencicip susu full-cream dan non-fat secara bergiliran. Seketika, semuanya mengangguk paham.

4) FLAVOR

‘Flavor’, tak lain tak bukan, adalah soal rasa kopi.

Coffeemates, move on lah dari anggapan bahwa kopi itu pahit, harus pahit, dan akan selalu pahit. Ketika lidahmu lebih peka untuk merasa, rasa akan muncul di sejumlah bagian berbeda di mulutmu. Bisa jadi rasa manis itu tampil dengan begitu tegas, seperti rasa biji cola, atau hadir dengan lembut seperti manis buah melon.

Istilah yang biasa dipakai untuk mendeskripsikan rasa-rasa kopi antara lain ‘citrus’ (limau), ‘berries’ (buah beri-berian), ‘caramelly’ (karamel), ‘earthy’ (tanah), dan ‘herbal’ (rumput obat).

Mungkin karena rasanya yang tegas, minuman Cola pun disajikan sebagai contoh dari ‘Flavor’ pada kelas Coffee Characteristics Starbucks. Ryan Wibawa lalu meminta para peserta workshop untuk meneguk Cola sembari menutup hidung. Alhasil, hanya manis yang terasa. Bukti bahwa soal rasa memang tak lepas dari penciuman. Seperti halnya rasa-rasa makanan yang kian hambar tatkala kita diserang influenza.

Sesudah memantapkan perkenalan dengan indra, Ryan Wibawa lantas menyajikan empat jenis kopi secara bergantian dengan alat seduh flat-bottom filter. Di sesi ini, para peserta workshop diajak untuk mempraktikan langsung kelihaian mereka mencari jejak-jeja4 karakteristik kopi tersebut dalam kopi Italian Roast, Breakfast Blend, single origin Sumatra, dan single origin Kenya.

Bermain-main dengan variasi alat seduh manual yang terhampar di bar Starbucks Experience, Ryan Wibawa lantas menjelaskan perbedaan hasil seduh dari setiap alat.

Sembari bergantian merasakan hasil seduhan Siphon yang cenderung ‘kencang’ dengan seduhan encer mirip teh (‘tea-like’) namun dengan rasa yang lebih kompleks a la Flat-Bottom, para peserta workshop yang terdiri dari kalangan food bloggers menikmati sajian soes mini isi krim oranye dan espresso brownie demi memperkuat rasa di lidah.

Kelas Coffee Characteristics ini merupakan bagian dari rangkaian kelas yang akan diadakan pada tanggal 17 setiap bulannya di gerai-gerai Starbucks yang memiliki Starbucks Experience Bar. Selain mengulas soal kepekaan lidah, kelas-kelas ini juga akan mengupas berbagai hal yang dapat memperkaya pengalaman minum kopi Coffeemates sekalian.

Pastinya, dikemas dengan sederhana hingga bisa Coffeemates praktikkan di rumah.

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Klara Virencia & Ryan dari Starbucks;
Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply