Banyak yang percaya kopi adalah entitas yang sangat penting. Di level personal, kopi membantu kita untuk lebih aktif. Di level yang lebih luas lagi, kopi membantu membentuk budaya dan sejarah manusia. Jika saat ini kedai kopi hanya dipandang sebagai tempat nongkrong, dulu kedai kopi pernah memiliki peran penting sebagai tempat berkumpulnya kaum intelektual.

Mark Pendergrast menulis dalam bukunya Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World, kedai kopi pernah menjadi tempat lahirnya berbagai ide-ide revolusioner sekaligus memiliki sejarah gelap.

1) Menginspirasi Patriotisme

Dalam masa Kolonial Amerika, minum kopi menjadi simbol kesetiaan pada revolusi. Kopi jadi simbol perlawanan terhadap naiknya pajak teh oleh pemerintah Inggris. Hal ini juga memicu pembuangan teh besar-besaran di pelabuhan Boston.

Pendergrast bahkan menemukan surat dari presiden ke-2 AS, John Adams, kepada Abigail sang istri yang menyatakan bahwa dia akan belajar untuk menikmati kopi karena minum teh dianggap sebagai tindakan yang tidak patriotik.

Demi revolusi, ia mengorbankan kecintaannya pada teh. Sumber: gaspee.org.

2) Tempat Lahirnya Revolusi dan Pertukaran Ide

Bogota terkenal dengan kopinya yang terasa halus dan manis. Bogota juga disebut-sebut sebagai Athena-nya Amerika Latin. Bukan karena perkebunan kopinya, tapi justru kedai-kedai kopinya.

Dari tahun 1800-an hingga pertengahan abad ke-20, kedai-kedai kopi dikenal karena budaya, intelektualitas, dan politik di dalamnya. Kedai kopi dijadikan sarang seniman, mahasiswa, jurnalis, politisi dan para pemikir penting pada masa itu. Dari wanita pejuang hak pilih hingga para nihilis, semua gerakan sosial menemukan rumahnya di dalam kedai kopi sederhana.

Pada awal abad ke-20, Bogota merupakan sebuah kota metropolis yang sangat berkembang. Konstruksi kota sedang panas-panasnya. Orang-orang di jalan seakan memancarkan kelas dan intelektualitas. Para laki-laki, berpakaian formal, berjalan menuju rumah kedua mereka: kedai kopi.

Kedai-kedai kopi ini seolah berfungsi sebagai kuil duniawi. Pusat berpikir, di mana orang-orang dapat mendiskusikan berita internasional terkini, gerakan politik, karya seni, dan segala urusan publik.

Sekumpulan intelektual di suatu kedai kopi di Bogota. Sumber: banrepcultural.org.

Kedai kopi adalah tempat keanekaragaman berada, meski datangnya hanya dari laki-laki. Meski tak dilarang, kedai kopi dianggap bukan tempat untuk perempuan. Hanya wanita yang dianggap revolusionerlah yang terlihat memasuki kedai kopi. Para pejuang hak pilih kaum perempuan, misalnya.

Nyatanya, pemerintah Bogota pada saat itu pun menganggap kedai-kedai kopi tradisional sebagai tempat berbahaya di mana orang-orang berkonspirasi untuk membentuk gerakan perlawanan.

Saat seorang kandidat presiden yang karismatik dibunuh, kericuhan timbul di seluruh negara dan Bogota menjadi pusat kerusuhan. Protes dan kerusuhan menghancurkan banyak sarana publik, termasuk kedai kopi yang paling populer di kota Bogota. Dari 500 kedai kopi tradisional yang ada saat itu, hanya 6 yang bertahan hingga kini.

3) Penggerak Revolusi Industri

Kopi, dipercaya memiliki peran besar dalam revolusi industri. Akibat upah buruh yang minim dan jam kerja yang panjang, para buruh tidak mampu membeli makanan yang pantas untuk memenuhi kebutuhan asupan tenaga. Alhasil, kopi lah yang dicari saat jeda makan siang sebagai pengganti makanan.

Konon, istilah “coffee break” lahir di era ini. Datang dari para pekerja pabrik yang mendapatkan bantuan energi dari kopi.

Karena mereka butuh dopping murah nan meriah. Sumber: aquaespresso.co.za.

4) Penyebab Ekspansi Kolonial dan Kerusakan Lingkungan

Meski banyak kebaikan yang dibawa kopi ke dunia modern, kopi juga memiliki sisi gelap. Sebagai akibat dari meningkatnya permintaan kopi, para pejabat kolonial memutuskan untuk meningkatkan produksi kopi dan mulai mengekspansi wilayah Afrika, Asia Tenggara, dan Karibia. Perdagangan kopi meningkat, namun diikuti pula dengan kolonialisasi dan praktek perbudakan di berbagai negara.

“Salah satu ironi tentang kopi adalah kopi membuat orang berpikir. Kopi tampak membantu menciptakan tempat-tempat egaliter—kedai kopi di mana orang-orang berkumpul—dan lagi Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika pun direncanakan di kedai kopi,” tambah Pendergrast. “Di sisi lain, kopi yang sama yang membantu munculnya Revolusi Perancis juga diproduksi oleh budak Afrika yang dibawa ke San Domingo, yang sekarang kita kenal dengan nama Haiti.”

Di Brazil, praktik perbudakan legal hingga tahun 1888. Praktik pembukaan lahan untuk perkebunan kopi melibatkan penebangan hutan hujan. Penanaman pohon kopi  menghabiskan nutrisi dalam tanah. Ketika tanah sudah tidak subur untuk kopi, pemilik kebun akan memindahkan perkebunannya ke tempat lain.

Sumber: recipereminiscing.wordpress.com.

(Disadur dari npr.org, spoonuniversity.com, & perfectdailygrind.com.
Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto diambil dari gaspee.org, banrepcultural.org, aquaespresso.co.za, & recipereminiscing.wordpress.com)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

  • […] Dari tahun 1800-an hingga pertengahan abad ke-20, kedai-kedai kopi dikenal karena budaya, intelektualitas, dan politik di dalamnya. Kedai kopi dijadikan sarang seniman, mahasiswa, jurnalis, politisi dan para pemikir penting pada masa itu. Dari wanita pejuang hak pilih hingga para nihilis, semua gerakan sosial menemukan rumahnya di dalam kedai kopi sederhana. […]

Leave a Reply