Apalah arti secangkir cappuccino kita tanpa si putih cantik yang memikat manja nan instagrammable di atas permukaannya?

Suatu ketika, Coffeemates memperhatikan. Di kafe langganan, si barista kok tampak asik nian pas nuang susunya. Putar-putar sedikit saat dituang, goyang-goyang sedikit milk jug-nya, lalu ditarik segaris ke arah bawah. Voila! Jadi sudah motif ‘love’ berlapis di atas cangkir yang niscaya bisa jadi ‘kode halus’ buat gebetan.

161027_motif-love_2

Begitu dia ngomong ‘Wah lucu! Persik ya?’, mungkin itu tanda sudah waktunya kamu mundur teratur.

Seperti mudah, ya. Seperti bikin gatal ingin coba.

Ibarat lukisan, maka espresso adalah ‘kanvas’ bagi para latte artist. Ehm, bagian ini agak pe-er, memang. Untuk membuat ‘kanvas’ ini, Coffeemates perlu punya mesin espresso, dan mesin penggiling biji kopi alias grinder. Lalu, untuk menampung si ‘cat air’ alias susu berliter-liter untuk latihan, Coffeemates juga perlu siapkan ‘kuas’-nya yaitu milk jug.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-milk-jugs-benedict

Barisan milk jug.

Sialnya, ya, di bagian ini ‘modal’ memang berbicara, saudara-saudara.

Tapi! Patah arang pantang hukumnya. Ada tekad, pasti ada jalan.

Lagipula, ada loh persiapan versi gampang nan murah.

Cobalah pedekate dengan barista di kedai kopi langganan. Niscaya dengan apel rutin, sekilas senyum-senyum culas, dan beberapa basa-basi pakai hati tak berarti, Coffeemates lalu diberi akses ‘bermain’ ke balik bar.

Nah!

La Marzocco gagah nan megah sudah terpampang di depan mata. Berkarton-karton susu sudah diikhlaskan barista untuk kalian coba. Tangan Coffeemates sudah gatal bukan buatan. Bicara mengulik latte art, rasanya ingin cepat-cepat bereksperimen melukis motif yang ada di kepala.

Tunggu dulu. Ini boleh jadi kali pertama Coffeemates bermain-main dengan melukis kopi. Tapi, ehm, gengsi juga kalau culun banget di depan barista langganan yang… ternyata lucu juga kalau dilihat-lihat.

Coba Coffeemates tengok dulu beberapa tips dari jagoan latte art yang satu ini, Johni D’Roadrunner.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-benedict

Soal jago nggak-nya, nggak perlu ditanya lagi. Johni D’Roadrunner, pemenang Indonesia Latte Art Championship 2015 & 2016.

Sekadar contekan, sang Juara Indonesia Latte Art Championship (ILAC) 2014 & 2015 ini berbagi resep-resep juaranya sembari memandu workshop latte art di pembukaan Benedict Coffee Bar. Di samping berbagi soal motif-motif latte art dasar yang perlu dikuasai, Johni D’Roadrunner turut mengulas pakem-pakem persiapan latte art yang kudu jadi pegangan.

Tekstur, suhu, dan cara frothing susu, misalnya. Cara pegang dan posisi tuang milk jug juga suka luput, nih, dari perhatian para autodidak latte art. Yap, bisa jadi justru malah Coffeemates yang sharing soal ini ke si barista langganan. Lumayan, buat bahan modusan obrolan.

1) Tekstur & Suhu Susu

Menurut Johni, dari segala jenis susu karton di pasaran, susu yang terbaik untuk melukis kopi adalah susu pasteurisasi atau fresh milk. Lantaran ‘segar’ dan masa kadaluarsanya cepat banget, susu pasteurisasi memang kudu disimpen di kulkas. Keluar-keluar dari kulkas, suhunya sekitar 0-4°C.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-susu-benedict-1

Selama merknya nggak kebaca, bukan endorse.

Nah, tugas Coffeemates pertama-tama adalah meningkatkan suhu susu ini ke 50-55°C dengan bantuan steamer wand yang ada di ujung mesin espresso. Dipanaskan dengan uap, susu akan terlihat mengembang naik, lebih kental, dan sedikit berbusa di permukaannya.

Selain jadi agak hangat, susu hasil proses frothing ini idealnya terlihat halus (silky), berkilau (shiny), dan terasa agak manis saat dicicip (sweetness).

workshop-latte-art-johni-roadrunner-nozzle-tip-benedict-1

Steam wand yang jadi bagian hakiki mesin espresso. Di ujungnya, nozzle tip.

.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-tekstur-susu-benedict-1

Silky, shiny, sweetness, 50-55 derajat. Sip.

Untuk menciptakan susu yang seperti itu, Johni punya tekniknya sendiri saat melakukan frothing susu.

2) Cara Frothing

Saat akan frothing, Johni D’Roadrunner menekankan hasil susu yang ‘konsisten’ dan ‘bagus’. Untuk itu, Coffeemates, posisi celup steam wand dan kemiringannya juga perlu diperhatikan.

Bagian ujung steam wand, atau nozzle tip, baiknya tenggelam dalam susu.

“Supaya tidak membuat bubble terlalu banyak,” ujar Johni D’Roadrunner. “Karena kita harus membuat microfoam yang silk, yang benar-benar shiny.”

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-frothing-susu-benedict-6

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-frothing-susu-benedict-7

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-frothing-susu-benedict-8

Permukaan susu yang kian naik dan berbusa.

Kalau Coffeemates sering lihat milk jug yang posisinya dimiringkan saat frothing, Johni D’Roadrunner justru percaya bahwa posisi milk jug yang ideal itu tegak lurus dengan steam wand. Menurutnya, posisi ini lebih efektif untuk membuat seluruh bagian susu terpanaskan secara merata.

“Biasanya yang saya lakukan adalah: posisi milk jug-nya tegak, tegak lurus,” papar Johni, sembari memperagakan. “Dan steam wand-nya dia akan lebih miring beberapa derajat, itu akan disesuaikan dengan ukuran milk jug.”

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-frothing-susu-benedict-4

Tegak lurus, milk jug-nya. Steam wand, miringnya menyesuaikan ukuran milk jug.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-frothing-susu-benedict-5

Ditadahin, kalau perlu. Biar stabil nan mantap.

Usai memanaskan susu, saatnya mengatur posisi cengkram Coffeemate pada milk jug.

3) Cara Pegang Milk jug

Selain soal kenyamanan, posisi pegang yang stabil juga penting rupanya.

“Posisinya yang baik dan benar, yang nyaman seperti apa. Kadang nyaman juga nggak selalu benar,” papar Johni, menjelaskan prinsip dasar memegang milk jug. “Tapi kita harus mengetahui juga, yang nyaman tapi baik dan benar.”

Suka menonton tutorial-tutorial dari barista-barista latte artist kelas dunia? Johni mencontohkan kebiasaan barista-barista ini memegang milk jug di bagian bawah. Cara pegang ini, menurut Johni, timbul karena ukuran genggaman barista-barista bule yang cenderung lebih besar.

Johni sendiri lebih memilih untuk menggunakan jempol dan telunjuknya untuk mencengkram sampai ke bagian atas milk jug. Gaya ini, bagi Johni, menjamin cengkraman yang lebih stabil.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-pegang-milk-jug-benedict-1

Gaya pegang milk jug yang stabil.

Begitu cengkraman sudah mantap, saatnya Coffeemates beraksi.

4) Cara Tuang

Demi latte art perdana yang tidak ambyar, tarik napas dan perhatikan langkah-langkah ini, Coffeemates.
Siap?

Pertama, atur kemiringan gelas.

“Biasanya saya normal sekitar 60 derajat,” ujar Johni. “Cup yang sebelum saya tuang, saya miringkan terlebih dahulu.”

Dengan memiringkan gelas, permukaan espresso yang jadi ‘kanvas lukis’-mu akan lebih luas. Seberapa miringnya akan tergantung dari seberapa besar gelas yang Coffeemates pakai. Semakin besar, semakin miring ke arah milk jug.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-pouring-benedict-6

Khusus untuk gelas ‘clear’ yang biasa dipakai untuk caffe latte, Johni lebih pilih untuk menuang dengan posisi gelas tegak lurus.

“Kalau saya start tidak dimiringkan, lurus. Tuang susunya di middle espressonya,” papar Johni. “And then kalau sudah mau saya bentuk, baru saya miringkan.”

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-pouring-milk-jug-salah-gelas-sempit-clear-glass-benedict-1

Johni mencontohkan akibat dari memiringkan gelas latte yang permukaannya sempit. Yaitu…

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-pouring-milk-jug-salah-gelas-sempit-clear-glass-benedict-2

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-pouring-milk-jug-salah-gelas-sempit-clear-glass-benedict-3

…akan ada bercak yang tertinggal di dinding-dinding gelasnya.

Kedua, atur posisi milk jug

Menurut Johni D’Roadrunner, bagian ujung milk jug perlu dan kudu diatur agar posisinya membentuk sudut siku-siku dengan bibir cangkir.

Masin ingat aspek ‘simetris’ dalam tips-tips menilai latte art kece oleh Ve Handojo? Nah, Johni menganjurkan, siku Coffeemates membentuk persis sudut 90 derajat saat menuang. Niscaya dengan pose ini, Coffeemates bisa lebih gampang melukis latte art yang simetris.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-pouring-benedict-5

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-pouring-benedict-4

Lalu, mulailah tuang dari tengah.

Dimulai dari tengah, lalu dilanjut dengan gerakan menuang berputar. Johni menjelaskan, gerakan memutar ini sekaligus memecah crema espresso.

Setelah kira-kira setengah gelas terisi, angkat milk jug. Rehat sejenak.
Lalu…

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-pouring-benedict-10

Tuang dari tengah…

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-milk-jug-pouring-benedict-7

…lalu buat gerakan menuang sembari memutar.

Terakhir dan yang terutama, saatnya melukis motif.

TANCAAAP!

Konsentrasi penuh, Coffeemates. Awas tremor. Atur kecepatan aliran susunya. Sembari melukis dan menuang, perlahan-lahan Coffeemates tegakkan kembali gelasnya. Nah, awas luber.

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-gelas-pouring-benedict-1

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-gelas-pouring-benedict-3

workshop-latte-art-johni-roadrunner-posisi-gelas-pouring-benedict-2

Tadaaa! Jadi sudah si latte art perdana!

workshop-latte-art-johni-roadrunner-latte-art-benedict-1

Kalau latte art perdanamu kayak gini, Coffeemate perlu serius mempertimbangkan ikut ILAC.

Sudah puas mencoba, Coffeemates? Atau, ketagihan malah?
Eits, nggak perlu terus kecewa lho, Coffeemates, kalau yang tertuang nggak sesuai sama yang di kepala.

“Kita bisa karena terbiasa,” ungkap Johnnie di awal workshop. Buat Johni sendiri, terlepas dari teknik apapun, latihan berulang kali tetap jadi pegangan utama.

Meski tidak terus jadi ‘bisa dalam semalam’, semoga kuncian-kuncian dari Johni D’Roadrunner tersebut bisa Coffeemates pegang untuk mulai bermain-main dengan latte art.

Selamat mencoba!

workshop-latte-art-johni-roadrunner-suhu-susu-benedict-2

workshop-latte-art-johni-roadrunner-suhu-susu-benedict-1

(Tulisan oleh Tania Kahuwa;
liputan & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Klara Virencia;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply