Di tengah rintihan generasi-generasi terdahulu akan ‘rusak’-nya mental ‘generasi sekarang‘, sehembus penerimaan berpihak pada kaum muda di Hari Sumpah Pemuda ini.

Tatkala ‘nasionalisme’ dianggap sudah luntur dari diri para generasi muda bangsa, Harian Kompas melihatnya terwujud dalam bentuk lain. Fenomena ini terulas melalui artikel “Wajah Baru Nasionalisme” yang terpampang di halaman depan Harian Kompas, 28 Oktober 2016. Perjuangan para ‘pemuda‘, yang identik dengan sebutan ‘generasi milenial‘, bukannya tidak ada.

Alih-alih, ia berubah bentuk: dari bermodalkan senjata laras panjang dan teriakan ‘merdeka’ berulang, menjadi gerakan-gerakan aktivasi sosial seperti kerelawanan dan penandatanganan petisi berbasis teknologi. Harian Kompas melihat tren ini dengan kacamata yang positif. Bisa jadi, tren ini merupakan indikasi bahwa generasi muda bukannya ‘apatis’ seperti yang didengungkan generasi-generasi terdahulu. Mereka hanya bergerak dengan cara yang berbeda.

“Revolusi tak harus dengan kekerasan,” ujar tokoh sastra pembentuk identitas bangsa, Pramoedya Ananta Toer, dalam sebuah pidato di tahun 2002 untuk kaum muda. Mungkin turun ke jalan dan meneriak-neriakkan aspirasi memang sudah usang. Apalah artinya demonstrasi ketika ia tidak lagi jadi alat aspirasi, dan tereduksi jadi sekadar simbol heroisme kosong? Maka nyatalah kegelisahan sosiolog Geger Riyanto dalam tulisan ‘Pemuda, Imajinasi, dan Perjuangan’: bahwa perjuangan-perjuangan demikian dilakukan hanya untuk mengejar citra gagah, bukan perubahan nyata.

Namun, bukan berarti pergerakan yang sifatnya ‘maya’ ini bebas lepas dari risiko menjadi gerakan ‘heroisme kosong’. Lantas, dari mana kita harus memulai revolusi?

“Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.” Kutipan ini laris manis dicatut teman-teman saya yang tergolong ‘kaum pergerakan’ semasa di kampus. Semangat ‘aktif berpikir‘, yang senantiasa mengemuka dalam karya Pramoedya, kerap disebut sebagai akar perubahan.

Tinjauan Harian Kompas dalam artikel “Memaknai Kembali Sumpah Pemuda” mengamini bahwa generasi ‘muda’ ini secara umum terdidik dibandingkan generasi sebelumnya. Secara kuantitas, porsi bersuara kaum ini pun sangat besar. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2014 mencatat bahwa 49% dari 88 juta pengguna internet di Indonesia berusia 18-25 tahun. Tak kalah signifikan, 33,8% pengguna berasal dari kelompok usia 26-35 tahun. Jumlahnya yang besar ini pun sedikit banyak menunjukkan potensi energi kaum muda untuk ‘mengubah wajah Indonesia’.

Jika memang ‘berpikir’ adalah privilese kaum terpelajar, hari Sumpah Pemuda yang ke-88 ini sekiranya jadi refleksi: sudahkah kita memanfaatkan ‘privilese berpikir’ ini sepenuhnya untuk membuat perubahan?

Ups, pelik untuk dijawab dalam sekejap? Bernapaslah sejenak dan seduhlah secangkir kopi.

Sepanjang sejarah, saat mencipta karya dan melahirkan ‘revolusi mini‘, ‘minum kopi’ jadi ritual yang tak lepas mendampingi ritual berpikir para pemikir ikonik dalam sejarah. Mulai dari penggubah musik klasik hingga bapak filsuf modern, mereka semua didampingi eliksir yang sama: secangkir kopi. Aneh tapi nyata, masing-masing pemikir ini punya ‘cara’-nya sendiri untuk menikmati kopi. Berikut 5 pemikir ikonik dengan karya pemikiran mereka:

1) Ludwig Van Beethoven: Kopi untuk Berpikir Kreatif circa 1800: Ludwig van Beethoven (1770 - 1827), German composer, generally considered to be one of the greatest composers in the Western tradition. (Photo by Henry Guttmann/Getty Images)

Komposer yang terkenal dengan temperamennya yang buruk ini memulai hari dengan persis 60 biji kopi. Tidak kurang, tidak lebih. Beethoven tidak main-main soal jumlah ‘60’ ini. Menurut penulis biografinya, Beethoven sengaja meluangkan waktu untuk menghitung dengan hati-hati demi memastikan jumlah biji kopi yang akan ia minum benar ‘60’.

 

 

 

 

 

 

2) Benjamin Franklin: Kopi untuk Berpikir Independen 2_franklink_philanthropyroundtabledotorg

Sosok di lembaran ‘100 Dollar’ sekaligus perumus Deklarasi Kemerdekaan AS ini tidak menutup-nutupi kecintaannya akan kopi. Ia menyatakan, “Dari sekian banyak kemewahan di atas meja… kopi selayaknya dianggap yang paling berharga. Kopi menimbulkan keriangan tanpa efek samping; kopi tidak pernah berujung kesedihan.”

 

3) Voltaire: Kopi untuk Berpikir Bebas
3_voltaire_stanforddoteduGagasan-gagasan ‘radikal’ akan kebebasan berbicara, kebebasan beragama, serta pemisahan institusi agama dan negara lahir dari filsuf asal Perancis ini.

Jauh sebelum ada pagelaran yang sah untuk meresmikan titelnya, Voltaire sudah terlebih dulu menumpuk kebiasaan yang membuatnya layak menyandang gelar ‘duta kopi’. Tidak tanggung-tanggung, ia menenggak 40-50  cangkir kopi per hari untuk ‘stimulus pikiran dan kreativitas’.

Meski ia diperingatkan oleh dokternya bahwa kecintaannya akan kopi ini dapat membunuh dirinya, Voltaire hidup sampai usia 80 tahun.

Begitu ‘tengil’-nya Voltaire untuk tetap kekeuh meminum kopi, ia tercatat pernah berkata, “Kalau memang kopi adalah racun, jelas ia racun yang bekerja dengan lambat.”

4) Søren Kierkegaard: Kopi untuk Berpikir ‘Esensi’ 4_kierkegaard_openculturedotcom Sebagai filsuf asal Denmark yang identik dengan gagasan eksistensialismenya, Kierkegaard punya kebiasaan meminum kopi yang tak kalah ekstrem dengan Beethoven. Setiap sebelum menikmati secangkir kopi, Kierkegaard menuang segunung gula ke dalam cangkirnya sampai melewati batas bibir cangkir. Selanjutnya, ia menuangkan kopi hitam yang ‘kencang’ nan pahit untuk melarutkan tumpukan gula tersebut, perlahan tapi pasti.

5) Immanuel Kant: Kopi untuk Berpikir Mandiri

Terakhir dan yang terutama, tak lain dari bapak filsafat modern Imannuel Kant. Pemikiran Kant menjadi dasar sejumlah pemikiran dalam filsafat modern, namun ia lebih dikenal sebagai sosok yang memulai Abad Pencerahan dengan mencetuskan semangat ‘Sapere Aude’. Semangat ‘berani berpikir sendiri’. 5_immanuel-kant_philosophersdotcodotuk Rutinitasnya minum kopi Kant umum saja, yakni secangkir kopi tepat sesudah makan malam. Namun Kant punya tuntutan yang tinggi soal rutinitas ini. Apabila ia merasa bahwa ia tidak akan mendapatkan kopinya tepat waktu, ia uring-uringan dan meneriakkan agar kopinya dibawa ‘tepat di hadapanku, saat ini juga’.

Menurut penulis biografi Kant, Thomas De Quincey, para pelayan Kant akan seketika bermunculan ‘seperti anak panah’ begitu perintah tersebut diteriakkan. Lucunya, Quincey mengamati, penantian proses penyeduhan yang dilakukan secepat kilat oleh para pelayan itu tetap ‘tidak tertahankan bagi Kant’.

* * *

Tidak, saya tidak akan meracau soal dampak kandungan kopi secara ilmiah kali ini. Pembuktian ilmiahnya sendiri masih simpang siur. Untuk saat ini, cukuplah kita tahu bahwa kopi pernah hadir di sejarah penciptaan mereka. Tak ada salahnya kita mencoba menyertakan kopi dalam hidup kita, sembari berpikir dan melakukan perubahan selagi masih bisa. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Mari minum kopi dan membuat revolusi.

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

Informasi disadur dari artikel Harian Kompas, 28 Oktober 2016 (“Pemuda, Imajinasi & Perjuangan”, “Wajah Baru Nasionalisme”,
& “Memaknai Kembali Sumpah Pemuda”),
infossible.com, willpowered.co, openculture.com, & huffingtonpost.com;

Gambar-gambar diambil dari classicfm.com, philanthropyroundtable.org, standford.edu, openculture.com, & philosopher.co.uk.)

Klara Virencia

About Klara Virencia

Kurator kopikini.com.

One Comment

  • Gunadi says:

    Gue jadi ketawa waktu baca artikel ini. Karena ingat betapa tergila-gilanya gue sama minuman yang bernama kopi. Well, gue minum kopi gak buat gaya2an atau sekedar alat bersosialisasi. Begitupun rokok. Kopi, khususnya kopi hitam kental, udah jadi kebutuhan. Bahkan kalo lagi kumat, sehari bisa minum kopi sebanyak 20an kali. Pernah dan seringkali malah, gue di protes ma istri juga mertua. Katanya kebanyakan minum kopi, bahaya buat ginjal. Gue anggap angin lalu. Toh, sampai detik ini ginjal gue gak ada masalah. Banyak bukti, orang gak doyan kopi dan gak merokok tapi tahu2 kena penyakit ginjal. Karena tidak diimbangi minum air putih. Itu pendapat saya.

Leave a Reply