Makin banyak orang yang menulis “I am a coffee lover” di berbagai akun media sosialnya. Coffee snob lebih dari sekadar coffee lover, lho. Coba cek ciri-ciri ini. Mungkin Anda adalah salah satunya.

1) Pokoknya Starbucks itu salah.
Tanpa mau peduli bedanya bentuk bisnis dan sifat kedai kopi international chain dengan third wave coffee shops, seorang coffee snob wajib menganggap mereka semua salah –terutama Starbucks. Biarpun barista Starbucks sudah jadi juara di Indonesia Brewers Cup 2016, seorang coffee snob akan tetap menganggap Starbucks itu salah. Walaupun Starbucks sudah bantu mempromosikan kopi Indonesia ke seluruh dunia, tetap saja seorang coffee snob tidak akan memamerkan Starbucks Card koleksinya.

(Tidak dipamerkan, tapi ada di dompet.)

Musuh lain para coffee snobs: kopi luwak dan iced cappuccino.

160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_3

Pemberdayaan petani? Kopi spesial? Alahhh, pencitraan.

2) Koleksi t-shirt dan stiker kopi-kopian.
Tanpa kostum yang menampilkan kefasihan tentang kopi dan kecintaan mereka yang mendalam sekali pada kopi berkualitas tinggi, seorang coffee snob tidak akan berani keluar dari rumahnya. Kaos, topi, tote bag, dan stiker mobil dari Coffee Collective, Drop Coffee, Seven Seeds, Arabica Kyoto, Stumptown Coffee dan sejenisnya pasti jadi kebanggaan sekaligus pernyataan identitas diri. Bukan hanya itu, masker wajah dan luluran juga mesti dari kopi. Punya kebun di rumah? Pupuknya pun dari ampas kopi.

3) Bukan minum, tapi seruput.
Supaya terasa berbagai flavors dan notes dari secangkir kopi maka seorang coffee snob tidak akan meneguk, tapi selalu menyeruput. Selesai menyeruput wajahnya akan tampak berpikir-pikir serius dengan pandangan menerawang ke angkasa. Terkadang dibarengi dengan anggukan-anggukan kecil dan dahi yang sedikit mengerut.

Setelah itu, dengan hanya dipancing pertanyaan, “Bagaimana rasa kopinya?”, maka dari mulutnya akan keluar pembahasan rasa kopi itu sepanjang Pembukaan UUD 1945. Itu baru satu seruput, lho. Itu sebabnya seorang coffee snob bisa membuang waktu selama sejam untuk minum secangkir kopi saja. Dan, sesungguhnya, pemahaman cita rasa kopi yang paling agung hanya tercapai ketika kita menyeruput cappuccino.

160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_1

Sendok kok buat ngaduk? Ceu, itu buat tasting, lagi. 

4) Pesan yang tidak ada di menu.
Sudah ada espresso, double espresso, latte, cappuccino, piccolo dan flat white di menu. Namun, tentu selera seorang coffee snob terlalu sophisticated untuk bisa ditampilkan di papan menu yang diperuntukkan oleh peminum kopi biasa. Tanpa menoleh ke papan menu itu seorang coffee snob akan langsung saja minta Split. Atau, Magic. Atau, Tasting Flight. Quadrupple espresso. Pocahontas. Beelzebub.

5) Fasih bahasa kopi.
“Kalau varietal SL25 di-semi washed berarti acidity-nya tidak maksimal. Apalagi kalau elevasi-nya hanya 1.000 em-a-es-el. You pakai sistem steeping dan dripping juga percuma; nggak akan mengangkat acidity-nya. Mungkin kalau ada agitasi pas pre-infusion bisa bantu di first thirty seconds extraction-nya. Karena kalau nggak nanti bisa jadi under.”

Jangan nekat ajak debat lebih jauh. Lebih baik tawarkan air putih gratis saja. Tidak ada coffee snob yang tidak senang kalau disuguhi air putih gratis.

160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_7

Airnya infused water ya, tolong. Supaya tasting palate kami bisa siap buat cangkir kopi berikutnya. Makasih.

6) Paham kopi kesukaannya hingga detil.
“Saya maunya double ristretto di 18 seconds, dan vessel-nya pas 150 ml, ya.” “Tolong dibuatkan pakai Kallita Wave dengan grind size 8,5 di EK43 dan airnya 92 derajat supaya jadi 88 derajat pas pouring, dan contact time-nya pas dua setengah menit ya – selesai atau ngga tetap langsung di-cut saja. Oh ya, paper filter-nya yang bleached ya.”

Coba telusuri ke bawah akun Instagram-nya sampai tahun lalu. Siapa tahu masih ada gambar Grande Choco Chips Frappuccino with Extra Caramel and Extra Cincau.

7) Alamat liburan: Melbourne dan Skandinavia.
Dan, kalau sudah liburan ke tempat-tempat ini, akun Instagram-nya akan penuh dengan foto-foto berbagai cangkir kopi di depan mesin espresso enam grup-nya Proud Mary, pengkolannya Tim Wendelboe di Oslo, bar-nya Coffee Collective, kursi-kursi di langit-langit Brother Baba Budan, dan seterusnya. Itulah pertanda bahwa seorang coffee snob sudah “naik haji”.

160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_0

Biar afdol, supaya lebih ‘hidup menyatu dengan alam bebas’ a la manusia-manusia Skandinavia.

8) Kenal baik sama Matt, Tim dan Hide.
“Itu lho, si Matt waktu itu bilang bahwa levelling mestinya bukan begitu.”

“Kalau Tim sih waktu itu langsung ketemu sama petani-petaninya.”

“Gua sih ngelihat si Hide tamping tuh ngga kencang-kencang banget, ya.”

Pokoknya kesannya sudah “bro-bro”-an betul sama Matt, Tim, Hide dan tokoh-tokoh specialty coffee internasional lain. Padahal orang ini membaca artikel Matt Perger di baristahustle.com, atau baca company profile-nya Tim Wendelboe, dan menonton rekaman video penampilan Hidenori Izaki di World Barista Championship. Yah, pokoknya sebut nama depannya saja supaya kesannya seperti sudah jadi teman nge-bir di Legian sama mereka.

160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_5_twitter

Ya, gitu deh bro. Asik emang si Matt orangnya.

 

oleh Ve Handojo
ABCD School of Coffee

Ve Handojo

About Ve Handojo

Ve Handojo adalah seorang penulis sekaligus salah satu pendiri ABCD School of Coffee dan Ruang Seduh. Ia juga menjadi juri di berbagai kompetisi kopi. ABCD School of Coffee juga menyelenggarakan kompetisi-kompetisi kopi berskala nasional. Instagram: @vehandojo @abcd_coffee.

28 Comments

  • Odilia WS says:

    Hi Ve Handoyo, Salam kenal.
    Ngakak abis baca tentang coffee snob. Terutama nomor 1 yg nyimpen starbucks card di dompet tapi benci starbucks. Kapan-kapan pengin ngobrol2 tentang kopi. Boleh minta nomor kontak atau emailnya? Terima kasih. Salam,
    Odilia

  • Rumah Kopi Gembira Kawangkoan cabang Jakarta says:

    Hadirnya beberapa warung kopi tradisional kondang dari daerah ke Jakarta : Phoenam Makasar, Tikala Manado (tutup), Kok Tong Pematang Siantar, Gembira Kawangkoan, dll yang memang sudah tua dan terkenal di propinsi asal harus diakui tidak bisa melupakan jasa dari Coffee Shop terkenal seperti Starbucks, Coffee Beans, dll. Hadirnya beberapa warung kopi tradisional tersebut ( rata rata sudah berusia diatas 50 tahun ) justru membuat pasar lebih bervariasi dan menawarkan alternatif lain bagi penduduk Jabodetabek.
    Jika pasar mulai tersegmentasi dan tercipta fanatisme, itu berarti bisnis warung kopi baik modern maupun tradisionil telah berkembang pesat di Jabodetabek.
    Akan datang pemain-pemain baru termasuk warung kopi terkenal dari propinsi lain yang umumnya telah mempunyai pelanggan dari daerah warung kopi itu berasal.
    Contohnya adalah Gembira Kawangkoan. Sebagai warung kopi tua ( sejak 1946 ) sebagian besar pengunjung kami adalah orang Manado di Jabodetabek walaupun kini basis pelanggan kami lebih luas. Demikian juga dengan warung kopi tradisional lain.

    • Ve says:

      Tidak bisa dipungkiri salah satu fungsi Starbucks memang menjadi pionir di sebuah area yang mungkin belum terlalu akrab dengan cafe culture. Di luar negeri pun independent coffee shops akan lebih pede kalau buka di daerah yang tidak jauh ada Starbucks.

  • ditunggu ngopi-ngopi nya di kebun kopi Suroloyo, Kulonprogo, disana tidak perlu ribet untuk menjadi seorang peminum kopi 🙂

  • Timo says:

    Haha! berarti aku blm coffee snob, secara ngertinya bahasa tubuh bukan bahasa kopi.
    Balik pesen es kopi latte jelly – nya Starbucks kalo gitu 😀

  • jokopi kopi says:

    ha ha ha haaaiiiii…….salutos magnifitos avocados coy…..

  • Kitty says:

    Sarcasm at its best ???? #ngajakjugak

  • Lukman says:

    Hahaha…nice article mas! Semoga kita terhindar dari sikap sedemikian. *tetiba Bimbo* 🙂

    • Ve says:

      Ndak apa kok jadi Coffee Snob. Ndak dosa jugaaa! Hahaha. Tapi seorang coffee snob juga ngga boleh protes kalau orang lain menilai mereka “aneh”.

  • Baristaispassionwork says:

    Barista is about Passion….bagaimana mungkin konsistensi baristanya bisa tetap stabil macam di Starbucks yg antriannya panjang dan non stop…belum lagi mesin2 Strabucks sekarang Otomatis semua……by pass proses grinding, tamping…….apa masih bisa good or perfect??? just so so masih mungkin, senyum nya pun sudah hilang kl lg jam sibuk, bbrp coffeshop kecil dengan barista yg lebih santai dan ramah menghasilkan kopi yg jauh lebih baik

    • Ve says:

      Menurut saya sih sama saja dengan membandingkan antara KFC dengan warung ayam goreng kampung. Masing-masing punya market sendiri. Enak atau tidak enak kembali lagi ke selera pribadi.

  • kopiitem says:

    Yg nulis snob abiiiizzzzz hahahaha

  • ika says:

    hohohoho…kalau aku yg penting kopi hitam aja…,:)

  • Denny says:

    Nice writing style dude! Sarcasm at it’s best, hahaha!!

  • snydez says:

    endok kok buat ngaduk? Ceu, itu buat tasting, lagi.

    kopi kalau sudah di dalam wadah/cangkir/cup itu udah ga perlu diaduk lagi ya kak?

  • Chisna says:

    hahahaha asliiii ngakak abiiisss bacanya =))) thank you for sharing bro! ternyata gw belum sampe level coffee snob nih XD

  • Awan says:

    YES, IT IS TRUE…kata pertama yang keluar setelah membaca artikel ini…
    Kata coffee snob mungkin timbul karena kopi sudah menjadi gaya hidup yang sedang berkembang pesat di negeri kita saat ini…Dan jika kita ga menjadi coffee snob maka siap-siaplah menjadi penonton yang baik disaat orang-orang mulai ramai mengunjungi kedai kopi dan berbicara tentang a,b,c,d sampai Z tentang kompleksnya kopi dari hulu hingga hilir. Salam KopiKoe
    Satu Rasa Senikmat dan Semantap Kopi Kita

  • Bayu says:

    Mas, ini artinya apa?
    Split. Magic. Tasting Flight. Quadruple espresso. Pocahontas. Beelzebub???? Saya belum pernah denger. Mohon bimbingannya ???? Terima kasih sebelumnya.

  • Dewira says:

    Lho bukannya coffee snob itu produk pelatihan sekolah milik Ve Handoyo? Gua cuma baca aja di webnya lalu bandingin dengan tulisan di atas. “Why coffee? How did it start? What did dancing goats have to do with it? Why is it so different and delicious now? How can it taste like berries, nuts, chocolate, or flowers?! What is a green bean? What is roasting? Why should I grind my coffee right before I want to brew it? This class will answer those questions and turn you into a coffee snob in a flash. In short, you will know everything a cool barista should.”

  • Art says:

    Saya cuma pernah nyobain Magic, dan ternyata masih ada jenis-jenis “alien” lainnya.

  • pendekar kopi says:

    Atau yang sering disebut sang pendekar kopi 😀

  • sofyan says:

    gkgkg…sumpah ngakak. thank you for this story. sepertinya anda betul betul gemes sama snob ini,meski merekalah yg cukup membuat coffee viral. hahaha…smoga aku ga gini..haha…

Leave a Reply