Sejatinya perlu dilakukan usaha berkali-kali dan kegagalan yang sama banyaknya untuk menggapai mimpi. Begitu pula yang dilakukan oleh Muhammad Ramiz Abdul Jabbar dari SRSLY Coffee, Jakara. Berhasil meraih gelar juara dalam puncak rangkaian acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers di Mal Ciputra Jakarta pada 8 Oktober 2017 lalu, ini adalah gelar juara pertama bagi Ramiz.

Berawal dari keberhasilan meraih gelar juara ketiga pada saat mengikuti kompetisi ALASKADABRA 2017 di Museum Mandiri pada April lalu, Ramiz perlahan mulai mengukuhkan namanya di jajaran latte artist Indonesia. Sebelum berhasil menjadi juara di latte art throwdown kali ini dan mengantongi hadiah tunggal sebesar Rp 5.000.000, Ramiz pun sudah mencuri perhatian Evelyne Yamin yang pada saat itu menjadi salah satu juri di ALASKADABRA.

Ramiz menerima hadiah berupa uang tunai senilai Rp. 5.000.000 dari Maya sebagao perwakilan dari Mal Ciputra.

“Ramiz sudah menarik perhatian aku dari ABCD Latte Art Throwdown kemarin (ALASKADABRA-red). The way he pours is very calm and he has steady hands.”, tutur Evelyn Yamin, juara dua Indonesia Latte Art Championship (ILAC) 2017 dan head judge di Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers melalui pesan singkat whatsapp kepada tim kopikini.com.

Dengan total 38 peserta, Ramiz berhasil menyingkirkan 37 peserta lainnya dalam lima babak. Bersenjatakan milk jug pribadi, masing-masing peserta diharuskan membuat motif latte art sesuai tuntutan babak masing-masing: tulip 10 tingkat pada babak pertama, hanging heart untuk babak kedua, wing tulip 3-2-1 untuk babak ketiga, rosetta inverted tulip pada babak keempat, lalu tripple rosetta dan fire fighting swan untuk babak final.

Pola fire fighting swan dan triple rosetta pada babak final.

Berterima kasih dan mengidolakan Roni Mulyawan dari Tangkal Kopi Tasik yang pertama kali mengajarkannya seni melukis kopi, Faisal Risky sebagai rekan kerja sejak awal menjadi barista selama lebih dari setahun, dan Johni D’Roadrunner yang dideskripsikan sebagai ‘best figure so far’, Ramiz mengaku justru mengalami kesulitan di babak pertama.

“Aku dari dulu memang paling sulit bikin tulip. Jadi, pattern paling pertama itu paling nguras emosi hahaha,” ungkap Ramiz dalam pesan whatsapp diiringi tawa.

Kesulitan tak hanya dirasakan oleh para peserta. Beberapa kali terdengar keluhan ‘duh syulit’ di meja para juri ketika harus memilih yang terbaik dari dua hasil latte art para peserta di tiap babak. Menurut Eve tingkat kesulitan untuk memilih hasil latte art para peserta mencapai 25%. Pasalnya, tiap peserta memiliki keunggulan di titik penilaian berbeda.

“Karena ada banyak banget yang identical dan punya keunggulan masing-masing. That’s why i really love latte art, everyone can express themselves into their art and every art has its own beauty.” Eve selaku juri yang membuat soal-soal latte art untuk para peserta menambahkan, “Pertimbangan untuk nge-judge latte art sih biasanya identical to given pattern, symmetrical, harmony of the pattern, use of space in the cup, and milk/foam texture.

Ramiz unggul pada babak final ketika harus berhadapan dengan Febriansyah dari Brownbag Specialty Coffee & Sandwich dan Akbar Zibran dari Common Grounds. Pada babak terakhir ini peserta diharuskan untuk membuat dua motif bersamaan dan juri memilih yang terbaik di antaranya. Seketika Ramiz pun mengantongi hadiah uang tunai dan plakat untuk dijadikan bekal semangat menuju kompetisi selanjutnya.

(ki-ka) Akbar Zibran, Febriansyah, dan Ramiz bersanding sebagai tiga besar dalam Latte Art Throwdown Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers.

Tak tanggung-tanggung, hanya seminggu berselang barista asal Jawa Barat ini kembali mengikuti latte art throwdown yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung pada akhir pekan ini, “Iya, sekalian pulang hahaha,” kelakarnya.

Bagi Ramiz perjuangannya tak berakhir di sini. Semenjak menjadi barista sejak lebih dari setahun lalu, Ramiz sudah mengikuti berbagai kompetisi latte art. Terhitung sudah tujuh kali ia berada di panggung kompetisi. Sementara kompetisi yang diadakan di sosial media sudah tak terhitung lagi. Mimpinya kali ini ingin mencicipi panggung Indonesia Latte Art Competition.

Sempat membuka kedai kopinya sendiri bersama dua orang temannya, Cup of Joy dan Bee’s Knees Coffee Roastery di kota kembang, Ramiz ingin terus belajar menekuni dunia seni melukis kopi di berbagai kesempatan.

“Sebenarnya sempat kepikiran buat ikut ILAC, tapi belum ada yang mau mentorin. Jadi, wait and see dulu sementara ini. Yang pasti belajar-belajar lagi dulu.”, ungkap Ramiz.

Viki Raharja sedang mempraktekan seni melukis kopi sambil berkelakar dengan para peserta.

Evelyn Yamin dikelilingi para penggemar. Eh, peserta.

Viki Raharja, Evelyn Yamin, dan Reyner Herbert sebagai juri.

Usai pertandingan, ketiga juri pun digadang para peserta untuk beradu kemampuan. Para juri, Viki Raharja dan Evelyne Yamin akhirnya membuat tiga pola latte art, sementara Reyner Herbert menjadi juri bagi para juri. Kelakar para juri di penutupan acara ini pun mengakhiri puncak acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers yang sudah berlangsung sejak 27 September 2017 lalu.

Disamping kompetisi latte art throwdown terdapat pula jajaran kedai kopi yang membuka booth di acara Urban Life: Coffee, Fashion, & Sneakers ini. Para pengunjung Mal Ciputra Jakarta pun dimanjakan kehadiran seduhan kopi para barista dari kedai-kedai kopi ternama di Jakarta.

 

(Liputan, suntingan, & tulisan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas

Relasi oleh Clarissa Eunike)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply