Perpaduan antara efek “bangun” dan aroma kopi yang menenangkan tampak memiliki daya tarik personal bagi para pekerja kreatif. Khususnya, penulis.

Contoh paling ekstrim adalah Honoré de Balzac. Penulis asal Perancis ini saking produktifnya menulis sekitar 14 hingga 16 jam per hari ditemani oleh bercangkir-cangkir kopi hitam. Banyak tersiar kabar, ia menulis puluhan karyanya sambil mengkonsumsi 50 cangkir kopi per hari.

Tak pernah ada bukti jelas dari 50 cangkir kopi per hari-nya, namun dalam esai “The Pleasures and Pains Of Coffee” ia menuliskan kalimat pembuka:

Coffee is a great power in my life; I have observed its effects on an epic scale.”

(Kopi adalah energi besar dalam hidupku; Aku sudah mengamati efeknya dalam skala yang sangat besar).

Dalam esai ini, ia bahkan menyarankan resep buatannya teruntuk orang-orang ‘tahan banting’. Dengan gilingan super halus, kopi a la Balzac diendapkan menggunakan air dingin dan diminum saat perut kosong. Baginya, ini membantu otaknya bekerja lebih giat dalam menghasilkan karya.

Sang Honoré de Balzac, diperankan oleh Paul Giamatti dalam serial The New Yorker Presents. Sumber: openculture.com.

Namun, patut dicatat ia meninggal di umur 51 tahun akibat dosis kafein berlebihan. Ini tak hanya terjadi pada Balzac. Nama Voltaire, Bach, dan Beethoven pun disebut-sebut perihal kecanduan akan kafein.

Ketergantungan penulis terhadap kafein bukan tanpa sebab, Coffeemates. Menurut artikel yang ditulis oleh Maria Konnikova dalam The New Yorker, kopi memang memiliki efek yang dapat membantu proses kreatif penulis. Meski tidak berfungsi memberikan energi, kehadiran kopi dapat menunda efek lelah kinerja otak.

Konnikova menjelaskan, ketika kafein masuk ke dalam tubuh ia akan membentuk semacam penghalang untuk mencegah aktifnya adenosine. Layaknya dalam kisah Star Wars, kafein bertindak sebagai Darth Vader bagi adenosine. Dialah sang antagonis yang patut dicintai para pecandu kafein.

“Ketika ia (adenosine—red) terhalang, kemungkinannya lebih kecil untuk kita tertidur di meja atau kehilangan fokus,” jelas Konnikova.

Konon, ketika adenosine mulai bekerja, ia akan menurunkan level energi dan mulai mengalunkan nada nina bobo dalam kepala. Sebagaimana recehnya keong racun yang baru muncul langsung ngajak tidur, adenosine pun perlahan-lahan akan mengaburkan fokus kita pada pekerjaan yang harus dikerjakan saat itu.

Lalu, apa fungsi kopi bagi pekerja kreatif yang menjadikan aktivitas mengkhayal sebagai hobi?

“Pemikiran kreatif dan solusi imajinatif kerapkali terjadi ketika kita berhenti memikirkan masalah tertentu dan membiarkan pikiran kita melayang memikirkan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali,” jelas Konnikova dalam artikelnya.

Dalam proses khayal-mengkhayal, mungkin kopi tidak bisa diandalkan. Perannya adalah membuat kita tetap fokus pada satu pekerjaan. Namun, ketika hasil khayalan butuh direalisasikan untuk menjadi satu karya, di sini lah peran kopi menjadi penting. Pada akhirnya, kopi membantu kepala untuk mampu menyambungkan tiap ide yang ada di kepala.

“—sebagai penulis tentu suka membiarkan pikiran lari membayangkan banyak hal. Namun ketika tiba saatnya untuk menuliskan di atas kertas, kita membutuhkan fokus pada pekerjaan di depan kita. Karena itulah, kita mengambil secangkir kopi,” jelas Anna Brones dalam tulisannya di thekitchn.com.

Salah satu penulis Indonesia yang juga sangat produktif, Bernard Batubara pun menemukan ketenangannya dalam menulis ketika ditemani oleh double shot ice shaken espresso untuk melahirkan karya. Sejak tahun 2010 hingga tiga tahun setelahnya, ia mudah ditemui di satu gerai kopi waralaba internasional ketika sedang menyelesaikan buku-bukunya.

“Iya dari awal menulis, iya—mungkin lebih tepatnya dari 2010—,“ penulis yang akrab dipanggil Bara ini bercerita. “Hampir selalu menulis di coffee shop.“”

Selain efeknya pada kinerja otak, kopi juga ternyata mampu memberi Bernard Batubara secercah ide penulisan untuk karya berikutnya.

“Tentu saja, sama seperti semua penulis di dunia ini—mungkin juga di satu titik dalam karir kepenulisannya sangat terinspirasi dengan kopi. Baik itu minumannya, maupun suasana tempat dia meminum kopi gitu. Atau dengan siapa dia minum kopi,” kembali Bara menungkapkan.

Apapun yang melebihi dosis seharusnya, tentu akan merusak. Asal dosisnya tepat, Coffeemates, kopi dapat menjadi penuntun jalur untuk menyelesaikan pekerjaanmu.

(Disadur dari thekitchn.com, newyorker.com, nytimes.com,
blizzbat.net, airshipdaily.com, & britannica.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto ilustrasi Balzac disadur dari openculture.com.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply