Sudah latihan berbulan-bulan demi kompetisi kelas dunia, eh datang bencana yang tak disangka. Boleh jadi kamu latihan siang dan malam demi mengusir gugup dan mencegah milk spill. Tapi yang kali ini  di luar kuasa manusia—ehm—barista: mati lampu, saudara-saudara.

Itulah musibah  yang menimpa beberapa penampilan ajang final lomba barista nasional di Indonesia Coffee Events (ICE) 2017  kemarin. Dari empat cabang lomba, Indonesia Barista Championship (IBC) dan Indonesia Latte Art Championship (ILAC) boleh jadi paling merana. Tanpa mesin espresso, bubarlah itu lomba.

Beberapa korbannya adalah  barista yang kebagian mati lampu di tengah penampilan. Layaknya barista kelas nasional, masing-masing punya caranya sendiri menghadapi situasi ini.

1)  KONTROL DIRI

Jangankan barista, anak band saja bisa ngamuk nggak keruan begitu mati suara di tengah nampil. Bedanya, di kala anak band ngambek maka panitia yang pusing, barista ngambek yang pusing ya… baristanya sendiri aja.

Emosi wajar saja. Evelyne Yamin, salah satu finalis ILAC 2017, mengaku ia refleks menangis ketika lampu mati saat ia tengah men-split susu.

Evelyne Yamin, Runner Up ILAC 2017 asal Common Grounds Jakarta.

“Sebenernya gue pernah bercanda, kayak kemarin. ‘Aduh gue takut nih. Nanti kalo gue tiba2 panic attack, gue berharap JIExpo tiba-tiba mati lampu.’ And then it happens,” cerita Evelyne, setelah turun panggung. “Sampe nangis tadi.”

Di saat seperti inilah, pelatih hadir bak malaikat penyelamat. Setelah ditenangkan oleh pelatihnya, Evelyne kembali naik ke atas panggung.

Di panggung Indonesia Barista Championship (IBC), mati lampu menyergap Yanuar Arlif tepat saat ia akan menyajikan signature drink-nya. Namun toh, ia tetap melanjutkan penampilannya. Tanpa bantuan mikrofon, Yanuar mendekatkan badannya  dan lanjut presentasi dengan suara yang lebih kencang.

Saat lampu menyala, Yanuar dengan anggun menyelesaikan tuangan signature drink-nya ke empat gelas di hadapan juri.

2) FOKUS PADA FLOW

Juri sempat menghampiri Yanuar, menanyakan apakah ia ingin mengulang performanya. Yanuar menolak.

“Dibanding nanti aku makin grogi? Makin ketauan kan? Yaudah aku cuma senyum aja, aku maksimalin,” ujar Yanuar. “Soalnya, menurutku udah bagus sih.”

Saat lampu mati, Yanuar baru saja selesai mengekstraksi espresso untuk minuman terakhirnya. Tak perlu lagi bantuan mesin espresso, Yanuar mencampur bahan signature drink-nya dalam gelap.

Yanuar Arlif, finalis 24 besar nasional IBC 2017 asal Vens Coffee Malang.

Di sisi lain, Evelyne mengaku butuh flow yang tak putus dari awal sampai akhir untuk melukis latte art.

“Kita kalo mulai dari tengah-tengah juga pasti bingung, kan. ‘Ini gue harusnya dari mana ya?’ Biasanya kan gue run-nya udah dari awal, gitu.”

3) BICARA DENGAN JURI

Hampir selalu, juri teknis akan menghampirimu di situasi genting macam ini. Pakai momen ini untuk menentukan nasib penampilanmu. Mau lanjut atau ulang? Semua terserah padamu.

Sementara Yanuar memilih lanjut, Evelyne Yamin mengambil kesempatan ulang kembali yang ditawarkan juri.

“Kebetulan head judge bilang, mau start dari awal atau go through it,” papar Evelyne. “Gue pikir mungkin enggak bisa go through it soalnya itu kan udah steaming the milk and then udah mau split the milk

Dari segala kemungkinan kecelakaan, ide latihan skenario mati lampu juga menggelikan. Siapa juga yang mau merelakan mesin espresso-nya korslet demi latihan untuk kejadian yang tak diinginkan?

Juri Kepala ICE 2017 Brydon Price, mengecek kesiapan peserta pasca mati lampu.

Mati lampu di Indonesia Coffee Events 2017 sendiri terjadi di luar kendali panitia. Diadakan dalam rangkaian acara Food Hotel Indonesia (FHI), ICE 2017 hanyalah salah satu dari ratusan stand yang mengoperasikan mesin kopi di saat yang bersamaan. Ketua ICE 2017 Cindy Herlin Marta menjelaskan, pergantian gensetlah  yang jadi penyebab mati lampu berulang kali. Segedung-gedung pameran di Jakarta International Expo kena akibatnya.

Amit-amit sampai terulang lagi. Namun, bersiap untuk yang terburuk tak pernah rugi. Mungkin justru, di situ kemampuan kita diuji. Atau, dalam cerita ini, profesionalitas baristalah yang jadi bukti harga diri.

Salah satu kompetitor IBC lainnya yang jadi korban mati lampu pula, Andrew Tandra, menyimpulkannya dengan prinsip sederhana.

“Ya, show must go on.”

Andrew Tandra, finalis 12 besar nasional IBC 2017 asal Papa & Mama Bakery and Coffee Tangerang.

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.
Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply