Mengawali karir sebagai barista di sebuah kedai kopi di kota Malang, Anggara Rizky yang kini menjadi barista kepala di kedai kopi One Fifteenth Coffee masih menyimpan keinginan untuk turun kompetisi. Bahkan, setelah empat kali mencicipi panggung kejuaraan barista nasional alias Indonesia Barista Championship (IBC). Memang, cita-citanya adalah berlaga di tingkat dunia.

“—ya masih bercita-cita untuk ikut kompetisi di WBC atau di internasional yang lain,” ujar Anggara Rizky yang sempat membawa pulang gelar juara ke-3 dari kompetisi Indonesia Barista Championship 2014 ini.

Anggara Rizky, finalis Indonesia Barista Championship 2013-2015 & barista kepala kedai One Fifteenth Coffee.

Ia pertama kali diboyong ke Jakarta pada tahun 2012 oleh Doddy Samsura yang menjadi rekannya semasa bekerja di kedai kopi di Malang, Anggara Rizky terhitung sudah empat kali turun kompetisi Indonesia Barista Championship sejak tahun 2011. Barista yang akrab dipanggil Rizky ini mulanya mengaku tidak banyak tahu soal kompetisi kopi ketika pertama kali ikut serta di tahun 2011.

“2011 itu memang awalnya gak terlalu banyak tau tentang apa sih kerjaan barista, gitu. Kemudian tiba-tiba denger, ‘oh ada kompetisinya’,” kenang Rizky. “Jadi sebenernya awalnya pengin coba-coba aja di tahun 2011.”

Ketidaktahuan tak menghalangi niatnya untuk tetap ikut serta dalam pertandingan. Di tahun yang sama dengan Doddy Samsura menjadi Juara Indonesia Barista Championship 2011, Rizky pulang tanpa piala. Namun berawal dari situ, kenekatannya berbuah rasa penasaran yang menuntunnya untuk mengikuti kompetisi di tahun-tahun berikutnya.

“Di tahun 2011 kan memang awalnya hanya sekedar pengin ikut aja.,” cerita Rizky. “Tahun 2013-nya pengin lebih tau lagi kompetisi seperti apa. Jadi, akhirnya ikut lagi.”

Seperti yang dikatakan oleh banyak juri dan peserta kompetisi lain bahwasannya mengikuti kompetisi adalah ajang belajar, Rizky pun mengamini hal ini.

“Menurut saya sih penting. Kenapa penting? Karena dari sana si baristanya bakal bisa lebih improve lagi,” ujar Rizky lebih jauh memaparkan. Ia percaya, kemampuan dan kepribadian seorang barista akan otomatis terpacu untuk jadi lebih baik dengan adanya peraturan dalam kompetisi.

Lebih dari itu, baginya kompetisi adalah arena puncak bagi seorang barista untuk mendapat apresiasi. Selain itu, kompetisi juga menjadi ajang untuk memperkenalkan warna-warni aroma dan rasa kopi kepada warga awam.

Biji kopi untuk diolah dan dipresentasikan kepada juri pun ia pilih dengan seksama. Jika hari-hari ini biji kopi luar Indonesia lebih sering dipakai dalam berkompetisi, Rizky sudah dua kali menggunakan biji kopi lokal dari empat kali bertanding di Indonesia Barista Championship (IBC).

“Tahun 2013 saya pake beans dari Sumatra Dolok Sanggul, single origin. 2014 saya pake kopi dari Sunda, natural process yang biasanya kita bilang harum manis itu, Sunda Aromanis,” papar Rizky. Tahun 2015, barulah ia coba menggunakan biji kopi luar asal Ethiopia Yirgacheffe dengan proses natural.

Sarat dengan nuansa fruity dalam tiap pilihan kopinya, Rizky pun menciptakan signature beverage dengan nuansa seirama.

“Nah, iya jadi hampir 3 tahun berturut-turut saya pakai bahan-bahannya dari buah, jelas Rizky ketika ditanyakan soal nuansa fruity yang kerap ia angkat. “Jadi memang, saya pakai bahan baku memang ambil dari karakter si kopi yang saya pakai.”

Alhasil, Rizky mengamankan posisi ke-4 di tahun 2013 dan 2015. Prestasi terbaiknya justru ia capai di tahun 2014, saat ia menyorot biji kopi Sunda Aromanis dan memboyong posisi ke-3.

Meski ingin sekali membawa biji kopi lokal jika memiliki kesempatan bertanding di kejuaraan kopi internasional, Rizky mengaku kompetisi memang tak lepas dari hitungan menang-kalah.

“Ya kalau seandainya gak memungkinkan buat pake kopi lokal ya mau gimana lagi? Ya tujuannya biar bisa bersaing, gitu,” ujar Rizky.

Dengan rentang koleksi biji kopi One Fifteenth yang mencakup biji kopi lokal maupun luar, Rizky memulai proses pilih-pilih bijinya dengan proses cupping. Baik lokal maupun luar, jika memang cocok di lidah maka terjadilah. Toh, menurutnya, kompetisi lebih soal mental dibanding biji kopi yang dibawa. Meski sudah membawa biji kopi unggulan, presentasi sudah siap sedia, dan konsep matang sudah.

“Jadi, misalnya kalo kita udah punya—kita udah siapin semuanya nih—maksudnya kopi sudah ada, kopi terbaik dari indonesia, misal. Kemudian konsepnya juga sudah dapet, presentasinya juga sudah ada, jadi kalo misalnya mentalnya masih belum kebentuk ya menurut saya sih bakal susah juga sih.”

Tahun ini, boleh jadi ia absen dari panggung kompetisi. Apa boleh buat, cabang seduh manual alias Indonesia Brewers Cup (IBrC) yang diincarnya justru paling cepat penuh. Sayang, ia kehabisan tempat. Tahun ini, boleh jadi ia absen dari penggung kompetisi. Namun tahun depan, Rizky berjanji akan kembali.

(Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan Klara Virencia.

Foto-foto Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply