Apa Anda Pemilik ‘Gen Kopi’?

Selalu ada dua kubu ketika kita bicara tentang kopi. Pertama, mereka yang jatuh cinta setengah mati dan tidak bisa hidup tanpanya setiap hari. Kedua, kubu yang semacam alergi hingga mendengar kata kopi pun anti. Bukan soal yang satu mau promosi palsu, yang satu berniat mencela semu.

Sains pun mengaminkan, bahwa kopi memang soal cocok-cocokan.

#63_coffee choice

Hampir sepuluh tahun yang lalu, Ahmed El-Sohemy, Profesor Departemen Ilmu Nutrisi asal Universitas Toronto, menyadari hasil riset tentang kopi yang seringkali berlawanan satu sama lain. Ada yang menemukan bahwa kopi bisa mengurangi risiko penyakit jantung. Ada pula yang sebaliknya. Ada yang serta merta segar habis minum segelas kopi, ada pula yang masih ngantuk mesti sudah minum berkali-kali. Dr. El-Sohemy menduga bahwa hubungan antara kopi dan penyakit jantung mungkin beda-beda kasusnya di setiap orang.

Ia menemukan bahwa peminum kopi terbagi menjadi dua: orang-orang dengan metabolisme kafein cepat dan lambat. Mereka yang mewarisi gen ‘cepat’ memiliki metabolisme yang mencerna kafein empat kali lebih cepat dari mereka yang mewarisi gen ‘lambat’.

Alhasil, kaum ‘gen cepat’ lebih cepat ‘melek’ dan berenergi habis minum secangkir kopi. Sedangkan, kaum ‘gen lambat’ bisa butuh waktu berjam-jam untuk mengalami efek melek kafein yang dinanti-nanti.

Tidak hanya soal melek mata. Kasus ‘gen cepat’ vs ‘gen lambat’ ini juga jadi berpengaruh terhadap hubungan kopi dengan jantung. Menguatkan penelitian El-Sohemy, sekelompok peneliti asal Italia menemukan bahwa pemilik ‘gen lambat’ cenderung berisiko terkena darah tinggi apabila mereka mengonsumsi kopi berat setiap hari.

Curangnya, kemungkinan darah tinggi pada peminum kopi berat yang memiliki ‘gen cepat’ justru menurun seiring meningkatnya konsumsi kopi mereka.

#63_coffee in the morning

Jenis metabolisme juga memengaruhi bagaimana segelas kopi berperan dalam performa para atlet. Dr. Christoher J. Womack, seorang profesor yang mempelajari kinerja tubuh manusia dari Universitas James Madison, bersama timnya menemukan efek kafein yang berbeda pada atlet sepeda pemilik ‘gen lambat’ dan ‘gen cepat’.

Untuk lomba jarak 40 kilometer, para atlet sepeda dengan ‘gen lambat’ memiliki catatan waktu lebih cepat 1 menit pasca minum kopi. Sedangkan, catatan waktu atlet sepeda dengan ‘gen cepat’ lebih cepat 4 menit untuk jarak yang sama. Pusat riset kebugaran FitnessGenes mencatat bahwa sekitar 40% orang secara umum masuk dalam golongan ‘gen cepat’. Sekitar 45% orang punya perpaduan antara gen cepat dan lambat, sedangkan 15% sisanya pemilik ‘gen lambat’ murni.

Dari waktu ke waktu, FitnessGenes menguji sejumlah peminum kopi untuk mengetahui apakah mereka termasuk dalam ‘gen lambat’ atau ‘gen cepat’.

“Singkatnya, rata-rata orang bekerja lebih baik dengan kafein,” simpul Dr. Womack. “Untuk beberapa orang, efeknya lebih besar. Tidak heran, efek ini ada hubungannya dengan gen kita.”

Tanpa tes dari FitnessGenes, para pecinta kopi dapat mengira-ngira sendiri apakah mereka termasuk ‘gen lambat’ atau ‘gen cepat’. Selain melihat seberapa cepat kita mendapatkan ‘efek melek‘, kita juga dapat memperhatikan reaksi badan kita usai menyeruput kopi. Jika badan kita menunjukkan gejala-gejala semacam detak jantung meningkat cepat, badan lemas dan pegal-pegal, mungkin badan kita masih sulit berkompromi dengan kopi.

Namun satu yang pasti. Baik pemilik ‘gen cepat’ dan ‘gen lambat‘, haram hukumnya minum kopi untuk mengganjal lapar. Bagaimanapun, perut keroncongan dan kafein tak pernah ditakdirkan untuk bersama.

Disadur dari nytimes.com, mydomaine.com, & ecowatch.com.

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply