“Tapi, aku belum pernah sejatuh hati ini sama kopi sebelum-sebelumnya.”

–Bernard Batubara

Aktif berkarya di dunia kepenulisan selama tak kurang dari 10 tahun, nama Bernard Batubara akrab di kalangan pembaca buku Indonesia. Hingga tahun 2017, total sudah 10 karya novel yang ia terbitkan. Dua di antaranya sudah diangkat ke dalam layar lebar. Ia kini tengah menyusun novel berikutnya, Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran, yang disadur dari film dan direncanakan terbit di akhir tahun 2017.

Di antara padatnya jadwal berkarya, promo sana sini, proyek ini itu, ketemu si ini dan si anu, ternyata Bara masih menyempatkan waktu untuk menjawab rasa penasarannya akan kopi. Ditemui di Yogyakarta, beruntung tim kopikini.com dapat menyelip di sela kesibukannya untuk berbincang seputar pujaan hatinya yang baru: kopi.

Berawal Dari Menulis di Kedai Kopi

Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, Bernard Batubara tak bisa mengabaikan hasrat menulisnya. Sebelumnya, Bara menggunakan sarana internet dari kampus untuk membantu mengasah kemampuan menulisnya. Sebagai mahasiswa, ia tidak bisa seenaknya jajan di kedai kopi sambil duduk menulis.

Namun setelah buku keduanya Radio Galau FM mencapai level penjualan terbaik  hingga kemudian difilmkan, Bara lantas menemukan kenyamanan duduk menulis di kedai kopi.

“Karena aku sudah mencoba beberapa tempat untuk menulis. Awalnya aku menulis di coffee shop hanya karena tempatnya ber-AC. Kemudian, di coffee shop aku bisa pesen minum,” jelas Bara. “Kalau aku bosen, aku bisa tutup laptop dan pergi ke bioskop. Kalo coffee shop-nya di mall gitu, misalnya.”

Ada hal sangat spesifik dari kedai kopi yang membuat Bara betah berlama-lama duduk sambil menyelesaikan karya-karyanya. Selain inspirasi yang bisa datang dari mana saja, kedai kopi memiliki tingkat kebisingan yang tepat untuk memicunya menelurkan ide tulisan.

“Suaranya itu just about right. Volume-nya, musiknya gak terlalu gede. Ada orang ngobrol itu bikin aku gak ngantuk tapi juga gak mengganggu aku untuk menulis. Background sound-nya itu yang aku butuhkan setiap masuk ke coffee shop, gitu,” Bara bercerita dengan antusias.

Dulu, mudah sekali menemukan Bara. Pilihan kedai kopi tempatnya menulis terbatas di tiga gerai Starbucks yang ada di kota Yogyakarta. Selama tiga tahun penuh dalam karirnya, hampir pasti kamu dapat menemukan sosok Bara menulis di kedai kopi ini ditemani segelas double shot ice shaken caramel latte. Sekarang? Belum tentu.

“Dulu gampang, karena coffee shop-nya cuma di itu-itu terus kan? Cuma di Starbucks terus. Sekarang gampang nemuin aku di coffee shop, tapi kamu gak bisa tau aku di coffee shop di mana, gitu. Karena aku sedang mengeksplor coffee shop-coffee shop,” cerita Bara sambil tertawa.

Rasa Penasaran Tak Kunjung Usai

“Aku selalu penasaran dengan cara kerja barista di balik bar,” cerita Bara. Hal ini ia rasakan semasa tiga tahun menulis di Starbucks. “Aku tuh seneng denger mereka copot pasang-copot pasang alat yang pada waktu itu aku gak tau apa namanya. Bunyi mesinnya tuh aku suka.”

Bertahun-tahun ditemani kopi saat menulis,
bertahun-tahun Bara akrab dengan kopi sebagai bagian dari proses kreatifnya.
Bertahun-tahun, sampai dua bulan lalu ia benar-benar dibuat jatuh hati oleh kopi.
Mulanya, sederhana saja. Rasa penasaran atas kerja barista dibalik bar, bunyi mesin espresso, dan kesempatan membuat sendiri espresso untuk pertama kalinya.

Kedai kopi No. 27 di Yogyakarta adalah saksinya. Bertemu dengan Katarina Supit sang pemilik kedai kopi, mata Bara terbuka pada dalamnya cerita dari sebuah biji kopi. Dari perbincangan singkat,  rasa penasarannya pesat meningkat.

“Jadi, bisa dibilang mungkin persentuhan pertama aku dengan mesin espresso dan percakapan aku dengan seorang pemilik kedai kopi yang membuat aku sekarang sangat—bukan tergila-gila ya—tapi aku hampir gak bisa memikirkan hal lain selain membaca tentang kopi, gitu,” Bara mengungkapkan.

Detail-detail kecil soal kopi, bagaimana kopi yang sama bisa berbeda rasa di tangan dua barista berbeda, cerita tak terhingga soal kopi–inilah hal-hal yang membuatnya jatuh hati.

“Aku takut dengan rasa penasaranku sendiri. Karena aku sudah mulai merasa kopi akan literally mengubah arah hidupku. Dari penulis mungkin gak tau bakal jadi apa, gitu. Aku gak tau.” Antusiasme Bara sama sekali tidak menurun ketika menceritakan soal kopi. “Aku tense terus setiap kali ngobrol sama orang soal kopi, setiap kali baca soal kopi.”

Ketakutan Bara bukan tanpa sebab. Pasalnya, meski baru benar-benar mencari tau soal kopi selama dua bulan, Bara sudah terlihat mendaftarkan diri di kelas kopi. Antusiasmenya terhadap kopi terlalu tinggi untuk dihentikan, terlihat dari semangatnya ketika berbicara soal kopi.

Di tengah kesibukannya sebagai penulis, hari-hari ini kamu dapat menemukan Bara main ke kedai kopi mencoba olahan espresso dari beragam kedai kopi. Meminjam kalimatnya, ia sedang menambah kosakata kopinya.

“—Masing-masing kopi punya bahasanya sendiri. Sulit bagiku untuk menjawab bahasa mana yang aku suka.”

(Liputan & tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply