Melihat Jack Hanna melukis kopi setiap hari hingga ia ditetapkan menjadi juara nasional Australia Latte Art Championship sampai menjadi juara World Latte Art Championship pada tahun 2007 membuat Arnon Thitiprasert menetapkan tujuan hidupnya. Menghabiskan waktu empat tahun di Australia, Arnon bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi selama dua tahun hingga membuka kedai kopinya sendiri, Djava, di tepi pantai Cronulla Beach, Sydney pada tahun 2009. Dengan latar belakang senang menggambar, latte art menjadi bidang yang mudah ia kuasai.

“Jadi, itulah bagaimana saya bisa terjun ke dunia kopi. Dengan melihat juara dunia bekerja di samping saya setiap hari.”, ungkap Arnon pada tim kopikini.com saat ditemui usai menjadi juri di Bamboo Latte Art Throwdown pada Agustus lalu.

Djava bertahan selama dua tahun sebelum Arnon memutuskan untuk menjualnya dan kembali ke Chiang Mai, Thailand pada tahun 2011. Tak lama berselang ia pun mengikuti kompetisi latte art yang diadakan oleh Thailand Coffee and Tea Association dan meraih juara ke-3 di hari yang sama Ristr8to dibuka.

“Waktu itu Thailand belum punya National Latte Art Competition, ijinnya masih di bawah asosiasi kopi dan teh itu. Jadi, waktu saya menang juara tiga saya mendatangi mereka dan mengatakan bahwa saya sudah berlatih untuk mengikuti kompetisi dengan standart Internasional saat tinggal di Australia. Akhirnya, mereka melihat kemampuan saya dan memutuskan mau membantu saya lanjut ke kompetisi Internasional.”, tutur Arnon.

Dengan jeda 10 hari setelah Ristr8to dibuka, Arnon pun lolos ke babak final dan mendapatkan posisi ke-6 di World Latte Art Championship pada tahun 2011. Karena kesibukannya di kedai kopi yang baru saja ia buka ia sama sekali tidak memiliki banyak waktu berlatih untuk persiapan menuju kompetisi dunia. Baginya semua karena ia sudah berlatih bertahun-tahun, kesempatan yang datang di waktu yang tepat, dan keberuntungan.

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!

Tan Malaka memparafrasakan kata “proses” dengan sangat baik di sini dan sungguh menggambarkan perjalanan sukses Arnon. Mendengar ia bercerita tentang prosesnya menuju juara dunia seperti melihat seorang ahli perang menyusun rencana di meja strategi. Dibutuhkan kesabaran juga determinasi kuat hingga tiba waktu yang tepat untuk mengeksekusi rencana. Semua dimulai saat Arnon masih melanjutkan sekolah di Australia dan menjadi saksi kesuksesan Jack Hanna.

Dengan sedikit pengalaman sebagai barista ia perlahan mulai mengikuti beberapa kompetisi latte art di Australia. Sebagai warga negara Thailand tentu saja ia tidak bisa menjadi juara nasional dan mewakili Australia di kejuaraan dunia. Namun, hal itu tak membuatnya berhenti.

“Saya hanya ikut beberapa kejuaraan regional untuk melihat peraturan dan regulasiya dan untuk melihat sebaik apa kemampuan saya di antara para barista di Australia.” Arnon melanjutkan bercerita. “Hal itu memberikan saya pengalaman yang sangat baik untuk menuju kejuaraan dunia. Saat itu posisi Australia sangat kuat di kejuaraan dunia. Mereka menjadi juara dunia tiga tahun berturut-turut. Jadi, saya belajar dari yang terbaik di sana lalu kembali ke Thailand, membuka kedai kopi saya sendiri, dan langsung menuju dunia. Waktu yang sangat tepat dalam hidup saya.”

 

Sayangnya pada tahun 2012-2014 sama sekali tidak ada kompetisi latte art di Thailand sehingga untuk sementara Arnon harus memendam mimpinya tanpa ada kesempatan. Hingga tahun 2015 Thailand Latte Art Championship kembali diadakan, Arnon tanpa ragu kembali ke panggung kompetisi dan menjadi juara Nasional dan hanya menyentuh peringkat ke-5 di dunia setelahnya.

“Sungguh membuat frustasi. Karena saya membuat kesalahan besar pada saat final. Saya sudah menghentikan steamer pada saat susunya belum cukup panas.”, kenang Arnon yang saat itu harus mengulang memanaskan susu hingga kehilangan banyak nilai karena melebihi batas waktu.

Diyakinkan oleh mentor dan teman-temannya untuk tetap menapaki panggung kompetisi di tahun berikutnya membuat Arnon kembali menjadi juara nasional. Sayangnya, saat kembali mewakili Thailand di kejuaraan dunia peringkatnya turun ke posisi sebelas di tahun 2016.

“Saya mendapatkan nilai rendah di babak art bar. Mereka (juri—red) tidak suka dengan warnanya. Tidak terlihat seperti kopi. Saya menggambar pegassus dengan latar belakang warna biru. Jadi seperti penampakkan pegassus pada malam hari. Namun, mereka mengatakan itu tidak terlihat seperti kopi. Karena semua latar belakangnya berwarna biru dan warna biru tidak membuatmu ingin meminum kopinya. Terlalu banyak warna membuat saya keluar.” Papar Arnon.

Arnon merasa setelah tiga kali bertanding di panggung dunia ia terus menerus membuat kesalahan yang membuatnya gugur tanpa membawa pulang gelar juara. Selayaknya manusia hal ini pun membuatnya patah semangat. Namun, lagi-lagi atas semangat mentor dan teman-temannya ia kembali ke panggung kompetisi di tahun berikutnya. Menjadi Juara Nasional, mewakili Thailand, dan akhirnya berhasil menjadi World Latte Art Champion 2017.

Kegigihan belajar, memahami makna proses, pantang menyerah digerus waktu, dan latihan tanpa henti menjadi kunci kesuksesan Arnon. Siapa bilang menjadi yang terbaik adalah persoalan mudah?

 

(Liputan, tulisan, dan suntingan oleh Lani Eleonora,

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply