Bertempat di garasi sebuah rumah kontrakan, terhalau pohon dan tembok rumah, Bahasa Kopi akan dengan mudah terlewatkan begitu saja. Meski demikian, bukan berarti Bahasa Kopi sepi pengunjung. Kedai kopi berukuran kecil yang terletak di sebuah gang di kawasan Caturtunggal, Yogyakarta ini justru sudah didatangi para pelanggan setianya sejak pukul tujuh pagi. Jumlahnya terus bertambah ketika siang dan sore menjelang.

“Awalnya aku enggak kepikiran sama kopi. Aku bahkan enggak suka kopi.” kata Gilbert Sandy, pemilik Bahasa Kopi. “Aku cuma mikir karena aku mahasiswa, aku harus membiayai diriku sendiri. Maka aku cari usaha.”

Perkenalan Gilbert dengan seorang pemilik kedai kopi lain di Yogyakarta pada tahun 2013 membawanya masuk ke “dunia hitam”-begitu cara Gilbert mengumpamakan dunia kopi.Kecintaannya pada kopi semakin tertanam ketika ia mendapat kesempatan pergi ke kebun kopi dan bertemu langsung dengan petani kopi.

“Di situ aku mulai yakin, kopi bisa jadi batu pijak untuk aku melangkah ke mana-mana.” ujar Gilbert. “Aku bisa belajar banyak hal, dapat banyak teman, juga cari duit dari kopi.”

Walau berujar bahwa motivasi awalnya adalah berbisnis, Gilbert punya visi yang lebih mendalam di dunia kopi dari sekadar mencari uang untuk dirinya sendiri.

“Aku orang yang sangat cuan (cari duit==red). Tapi dari kopi aku belajar bahwa hidup tuh bukan cuma buat cari cuan,” papar Gilbert. Gimana caranya supaya pas beli kopi dari petani, kita senang karena kopinya enak, dan petani senang kerja mereka dihargai. Begitupun kalau kopinya lagi enggak bagus, gimana caranya kita tetap menghargai kerja mereka.”

 

Gilbert Sandy pemilik kedai Bahasa Kopi

Naksir Lokasi Kedai Sejak Pandangan Pertama

Tentang lokasi Bahasa Kopi yang terkesan nyempil dan tersembunyi, Gilbert punya alasan sendiri kenapa ia memilih lokasi tersebut.

“Dulu, rute dari kosku ke kampus selalu bolak-balik daerah sini. Setiap lewat rumah kontrakan ini aku selalu bilang rumah ini akan jadi punyaku,” kenang Gilbert. “Aku suka rumah ini sejak awal karena garasinya bisa dibikin usaha.” kenang Gilbert. Baginya, lokasi tersebut juga sesuai untuk menjangkau pelajar asing yang menjadi target pasarnya.

“Rumah ini dekat Homestay Heru, Wisma Bahasa, dan Alam Bahasa. Itu juga yang jadi alasan kenapa nama kedainya Bahasa Kopi, karena segmentasi pasarnya,” imbuh Gilbert.

Berbekal pengalaman menjadi server dan barista, Gilbert mencari lokasi untuk membuka kedai sendiri. Pemuda asal Kupang ini memulai bisnisnya karena tidak ingin terus bekerja di bawah komando orang lain. Bersama rekan yang memberinya investasi untuk Bahasa Kopi, Gilbert memiliki mimpi yang lebih besar .

“Aku dan partner-ku sedang membangun satu grup perusahaan, dan Bahasa adalah salah satu bentuk bisnisnya,” papar Gilbert. “Aku dan teman-teman juga main bertemu anak-anak di desa dekat kebun kopi, untuk menyemangati mereka menjadi orang berhasil bagi tempat asalnya.”

Pemandangan pertama yang akan kamu lihat ketika memasuki kedai Bahasa Kopi

Kelas Bahasa Asing Gratis

Hal yang paling membuat Bahasa Kopi menjadi unik, selain bertempat di garasi rumah kontrakan, adalah keberadaan kelas-kelas bahasa yang boleh diikuti siapapun tanpa membayar. Tertulis di tembok garasi, jadwal belajar kelas Bahasa Prancis dan Bahasa Spanyol. Baru-baru ini, bertambah satu lagi: Bahasa Arab.

“Awalnya itu ada customer kedai tempat aku kerja dulu yang jadi temanku. Lalu aku ajak bikin kelas di Bahasa. Pengajar kelas lain, bahkan admin medsosnya Bahasa, juga tadinya customer di sini,” ujar Gilbert. “Itu kenapa tadi aku bilang, hubungan manusia lebih penting dari kopi. Karena dari sana kita bisa ketemu orang-orang baik yang punya hati dan semangat berbagi.”

Ngopi sambil ngilmu bahasa Arab gratis!

Buka pukul tujuh pagi hingga enam petang setiap Senin hingga Sabtu, Bahasa Kopi terlihat ramai di pagi dan sore hari. Sebuah kursi kayu panjang yang menempel pada tembok gang khusus disediakan bagi para pelanggan. Meski tidak ada ruang berpendingin seperti kedai kopi pada umumnya, duduk di Bahasa tetap terasa sejuk karena pohon rindang yang juga menjadi salah satu penanda lokasi kedai.

Minuman di Bahasa Kopi pun terhitung murah. Secangkir kopi saring dan kopi berbasis espresso bisa ditebus hanya dengan selembar sepuluh ribu rupiah. Sementara, untuk kopi berbasis susu seperti cappuccino dan latte, tinggal menambah lima ribu rupiah. Selain kopi, ada beberapa jenis pastry seperti danish, croissant, dan brioche yang juga murah dan sedap. Sebagai penambah kekhasan, Bahasa Kopi juga mengeluarkan produk kopi susu bernama Kopi Bahasa Indonesia atau KBI.

Patah hati? Ngopi, lalu berceritalah kepada orang yang tepat. Dengan Bernard Batubara, misalnya.

Ketika ditanyai mengapa namanya Kopi Bahasa Indonesia, Gilbert menjawab, “Karena coffee itu bahasa Inggris.”

Melihat ukuran kedai yang mungil, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa Gilbert punya mimpi besar untuk Bahasa Kopi.

“Aku ingin Bahasa Kopi ada di seluruh dunia.” ungkap Gilbert. “Tempatnya akan tetap kecil kayak gini, tapi ada di mana-mana. Aku ingin dalam setahun ke depan, semua orang di sekitar sini sudah kelihatan bawa-bawa paper cup Bahasa Kopi.”

Dengan mimpi-mimpi yang besar untuk Bahasa Kopi, Gilbert tetap memiliki pandangan bahwa kopi tetaplah sesuatu yang sederhana.

“Buatku, kopi itu hanya media untuk kita berbahasa. Untuk kita ngobrol.” Gilbert menutup ceritanya.

 

(Liputan dan tulisan oleh Bernard Batubara

Suntingan oleh Klara Virencia

Foto-foto oleh Dadad Sesa

Suntingan Foto Oleh Andreansyah Dimas)

Bahasa Kopi

Jalan STM Pembangunan, Gang Gatotkaca 4E

Pringgodani, Mrican

Yogyakarta

 

Hari Buka: Senin – Sabtu

Jam Buka: Pukul 07.00 – 18.00 WIB

 

Related Post

Bernard Batubara

About Bernard Batubara

Bernard Batubara (Bara) lahir di Pontianak, kini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 2007 dan menerbitkan sejumlah karya fiksi. Kini bekerja sebagai penulis penuh waktu, editor lepas, dan sesekali mengisi kelas penulisan kreatif di kampus, sekolah, dan komunitas. Semenjak rutin menulis, kopi sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Selain menulis artikel lepas dan menerbitkan buku fiksi, Bara juga mengelola blog pribadi: bisikanbusuk.com.

Bara dapat dihubungi via twitter & instagram: @benzbara, atau e-mail: benzbara@gmail.com.

Leave a Reply