Jeruk campur coklat, sudah biasa. Nah, jeruk campur kopi?
Khusus yang satu ini, mungkin cuma di Kintamani.

#20_masukkebon (2)

Trio Viva Barista di antara kebun kopi, kawasan agrowisata ‘Giri Alam’, Bali

Kawasan ‘Giri Alam’ di kaki Gunung Batur, Kintamani diolah oleh sekelompok petani tradisional. Dengan anggota 20 orang, kelompok tani ‘Harapan Maju’ sengaja membuat kawasan perkebunan ini menjadi tempat wisata untuk menjelaskan proses kopi yang benar dari hulu sampai hilir.

“Awalnya ini perkebunan keluarga.” Bli Komang, pengolah sekaligus penyuplai kopi Kintamani.

Awalnya, tanah seluas 2 hektar itu perkebunan keluarga. Dan isinya pohon jeruk saja. Baru belakangan pohon kopi ditanami di sela-sela pohon-pohon jeruk. Cuaca sejuk a la pegunungan di Kintamani memang pas untuk menumbuhkan kopi Arabika.

Viva Barista - Bali-66

Bli Komang, salah seorang anggota kelompok tani ‘Harapan Maju’ di kaki Gunung Batur, Bali

Viva Barista - Bali-65

Alhasil, rasa lemon jadi ciri khas kopi Kintamani. Dengan karakter buah-buahan ini, Kintamani jadi kopi pertama di Indonesia yang dapat Sertifikasi Indikasi Geografis (SIG). Sertifikat SIG ini juga yang mensahkan kopi-kopi dari daerah-daerah lain seperti Aceh Gayo, Sumatra Mandailing, Java Preanger, Flores Bajawa dan sebagainya.

Kopi Kintamani ini sungguhnya peninggalan zaman Belanda. Setelah sempat diambil alih pemerintah tahun 80an, kebun kopi Kintamani kini diolah oleh lembaga tani lokal, ‘Subak Abian’. Petani-petani dalam kelompok tani ‘Subak Abian’ memegang teguh prinsip Tri Hita Karana.

“Karena ada konsep filsafat di Bali, sesuai dengan Tri Hita Karana itu: ‘Lingkungan rusak, peradaban akan hilang‘,” imbuh I. Dewa Made Raka, anggota koperasi MPIG Bali. Kopi, buat orang Bali, bukan soal nikmat lidah semata.

Viva Barista - Bali-68

Disadur dari VivaBarista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply