Gempuran hawa panas di tengah kota Surabaya tidak membuat surut semangat para peserta Indonesia Aeropress Championship pada akhir pekan lalu, 29-30 Juli 2017. Bekerjasama dengan ABCD School of Coffee, Pesta Kopi Mandiri pun memilih Monumen Kapal Selam sebagai situs bersejarah yang senada dengan tema Ngopi di Museum.

Monumen Kapal Selam yang terletak di Jl. Pemuda No. 39, Surabaya, ini merupakan satu-satunya museum kapal selam di Indonesia dan terbesar di Asia. Memiliki nama KRI Pasoepati dengan nomor lambung 410, kapal ini berperan penting dalam operasi Antareja Jaya Wijaya dengan misi pembebasan Irian Barat pada tahun 1962.

Sebelum memasuki area Pesta Kopi Mandiri, pengunjung pun dapat berkeliling melihat isi lambung kapal selam sepanjang 76,6 meter dengan lebar 6,3 meter, milik TNI Angkatan Laut. Sergapan aroma kopi langsung menemani siapapun, seusai berkeliling melihat kapal selam tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952, saat menuju bantaran sungai Kalimas.

Bangkitnya Kopi Specialty di Kota Pahlawan

Jika membandingkan perkembangan kedai kopi specialty di Jakarta yang sudah menggerayangi seluruh wilayah Ibukota hingga garis-garis terluarnya, niscaya Surabaya sedang menuju ke arah sana. Menurut Odi Anindito, pemilik Coffee Toffee, semangat kopi specialty sudah mulai bergerilya di Kota Pahlawan sejak tiga tahun belakangan dan terus tumbuh.

“Jadi secara data, penikmat kopi yang benar-benar itu—definisi kita adalah pemesan espresso, black coffee, atau manual brew—2 tahun lalu itu hanya sekitar 16% saja. Tapi di semester 2 tahun 2017 ini kita lakukan riset data lagi, kan. Angka yang dulu 16% meningkat menjadi 23%.” Ujar Odi Anindito kepada tim kopikini.com, “—artinya awareness atau pemahaman pelanggan atau masyarakat terhadap kopi itu meningkat. Impact-nya terhadap kita pemain di industri kopi berarti kita tidak boleh lagi menganggap remeh soal ini.”

Odi Anindito pemilik Coffee Toffee, berkemeja putih saat menghadari temu wicara di Pesta Kopi Mandiri, Surabaya.

Dengan tingkat pemahaman konsumen yang terus meningkat, Odi pun meyakini dampaknya sangat jelas terhadap kualitas seorang barista dan kedai kopi. Sebuah kedai kopi yang sudah mengakui diri sebagai kedai kopi specialty mau tidak mau harus memperhatikan kualitas kopi yang disajikan.

“Peningkatannya luar biasa sekali. Di Klampis saja—(Jl. Klampis Jaya, Surabaya—red) dalam 3 tahun terakhir, dalam radius 1 km mungkin ada 10 coffee shop baru yang menyatakan diri sebagai specialty ya. Baik besar maupun kecil.”, Odi menambahkan.

Jeffry Lukito dari Korte Chocolate pun mengamini data yang diungkapkan oleh Odi Anindito. Sebagai salah satu pemasok coklat ke kedai-kedai kopi di Surabaya, Jeffry tau betul sejauh mana perkembangan kedai kopi specialty di kota ini.

“Industri kopi Surabaya mulai meningkat, 3-4 tahun lalu mulai melonjak. Tahun lalu wah luar biasa itu. Dalam 1 bulan itu ada 12 coffee shop buka dan semuanya ramai. Benar-benar mulai naik sekali itu tahun lalu. Awal tahun 2016.”, imbuh Jeffry.

Sebagai kota besar kedua di Indonesia, pasar kopi Surabaya memang tidak boleh disepelekan. Oleh karena itu, Surabaya pun dipilih sebagai tempat Indonesia Aeropress Championship regional kanan diselenggarakan.

Coffee scenes-nya memang lagi booming juga. Kita melihat memang banyak sekali coffee shop yang baru-baru buka di Surabaya ini.” Ujar Hendri Kusuma, dari ABCD School of Coffee. “Coffee Toffee itu membantu. Mereka meng-create kultur kopi di Surabaya. Sangat berjasa untuk industri kopi.”

(ki-ka) Jeffry Lukito dari Korte Chocolate dan Hendri Kurniawan dari ABCD School of Coffee.

Suntikan Semangat dari Berbagai Festival Kopi

Tidak bisa dipungkiri rangkaian festival dan kompetisi berperan besar untuk membentuk kesadaran masyarakat terhadap eksistensi sebuah industri. Jika dalam dunia musik berbagai festival membuka mata masyarakat terhadap banyaknya genre musik yang digeluti para musisi, festival kopi pun demikian.

Surabaya sedang lucu-lucunya soal ini. Setelah Urban Coffee Week di akhir pekan sebelumnya, Pesta Kopi Mandiri diadakan pada akhir pekan berikutnya. Sementara, di saat yang bersamaan Festival Kopi Jawa Timur berlangsung di Grand City dengan penyelenggara Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur sejak tanggal 26-30 Juli 2017.

“Bulan ini penuh, minggu lalu ada, di sini ada, di saat yang bersamaan juga ada event kopi. Surabaya lagi hits deh soal kopi.”, Hendri Kusuma menambahkan. “Semoga setelah event ini scene kopi di Surabaya semakin terbentuk. Semakin fokus. Buat saya, saya berharap ini semakin fokus, benar-benar kopinya makin fokus.”

Juri memilih cangkir dengan hasil seduhan paling sedap tanpa mengetahui barista mana yang menyeduh.

Setelah Indonesia Aeropress Championship regional tengah diadakan di pelataran Candi Prambanan bulan April lalu, kembali terpilih 27 kompetitor dari 81 peserta regional kanan. Usai kota Surabaya, kali berikutnya kota Medan akan disinggahi untuk kompetisi Indonesia Aeropress Championship regional kiri. Di sana kembali akan dipilih 27 kompetitor dari  81 peserta.

Tiap peserta yang lolos di masing-masing regional nantinya akan kembali bertemu untuk merebut gelar Indonesia Aeropress Champion di Jakarta Coffee Week, bertempat di HYPE Pantai Indah Kapuk pada tanggal 8-10 September 2017. Juara Indonesia Aeropress Championship pun akan menjadi wakil Indonesia untuk kejuaraan dunia World Aeropress Championship pada bulan November 2017 di Seoul, Korea Selatan.

 

(Liputan, tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas

Relasi oleh Clarissa Eunike)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply