STEVANO dari Popolo Coffee, Bogor, keluar sebagai pemenang Bamboo Latte Art Throwdown yang diadakan oleh East Indische Koffie, Jumat-Sabtu (18,19/8) kemarin di acara I Love Bazaar, Grand Indonesia, Jakarta. Bersaing dengan 42 peserta lainnya melalui 6 ronde pertandingan, Stevano memenangkan hadiah tunggal sebesar 17.845.000 rupiah.

Kompetisi ini diadakan bersama dengan perayaan ulang tahun ke-5 I Love Bazaar Jakarta. Sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh sebelum hari pertandingan, nama bamboo pun dipilih.

“Karena bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Kan dulu pejuang kita pakai bambu.” Ujar Yoga Purnama, pemilik East Indische Koffie.

Yoga Purnama dari East Indische Koffie dan Arnon Thitiprasert dari Ristr8to

(ki-ka) Jervis Tan juara ke-empat WLAC dan Arnon Thitiprasert Juara I WLAC

Untuk mempersiapkan lomba yang dijurikan oleh juara 1 dan 4 World Latte Art Championship 2017 Arnon Thitiprasert dan Jervis Tan ini, Stevano mengaku paling sulit melawan diri sendiri. Menjadi barista sejak tahun 2013 membuat Stevano kerap mengikuti berbagai ajang kompetisi latte art yang diadakan di kotanya, Bogor. Dalam kompetisi yang pernah diikutinya, Stevano mengaku beberapa kali mendapatkan piala juara.

Stevano mengaku, motif “kelinci meloncat di pohon” dari Arnon Thitiprasert menjadi motif tersulit di antara motif lainnya. Setelah babak penyelisihan pada hari Jumat (18/8) lalu, Arnon sempat memperagakan kepada para peserta yang lolos ke babak berikutnya cara membuat motif yang membuatnya menjadi juara dunia ini.

“Soal final sudah diberitahu hari sebelumnya oleh Arnon, jadi untungnya masih ada waktu latihan.” Stevano mengungkapkan ketika diwawancara oleh tim kopikini.com usai ia dinobatkan menjadi juara. “Final itu sulit. Untungnya Tuhan kasih kesempatan buat latihan. Itu bener-bener udah stres.”

Arnon memperagakan cara membuat motif ‘kelinci meloncat di pohon’ di hadapan para peserta.

Bagi Stevano sendiri, ia mengaku sangat mengaggumi sosok Arnon dan menjadikannya inspirasi.

“Arnon sih. Karena kayaknya orangnya humble banget. Jadi kayak bener-bener memang dia itu sebenernya champion banget lah.” Ungkap Stevano yang mengaku tanpa ijin dan dukungan Tuhan tentu ia tidak akan bisa menjadi juara.

Selain besaran hadiahnya, jajaran juri lomba latte art throwdown ini turut menjadi daya pikat tersendiri. Bersama Arnon dan Jervis, jajaran juara latte art nasional seperti juara II ILAC 2017 Evelyne Yamin dan juara IBC 2011 & 2013 Doddy Samsura serta pemilik kedai kopi Pigeonhall Laksamana Gusti, turut menjadi juri.

Yoga Purnama juga mengaku hadiah uang tunai hanya diberikan kepada juara pertama agar para peserta termotifasi untuk melakukan yang terbaik.

“Karena emang penginnya juara satu aja yang dapet (hadiah uang tunai—red). Biar melakukan yang terbaik untuk menjadi juara.”, jelas Yoga, melalui chat WhatsApp.

Lomba latte art throwdown oleh East Indische Koffie ini merupakan yang pertama kalinya diadakan dan akan diadakan lagi setiap tahunnya.

“Insyaallah tiap tahun akan diadakan terus,” ungkap Yoga.

Stevano menerima sertifikat juara pertama dari Jervis Tan

Meski hanya juara pertama yang mendapatkan hadih berupa uang tunai, juara kedua dan ketiga pun diberikan sertifikat kompetisi. Wilson Houryansa barista dari Medan mendapatkan sertifikat juara kedua beserta kaus dari Bamboo Latte Art dan Qiqie Biannt barista dari Yogyakarta mendapatkan sertifikat juara ketiga.

 

(Liputan oleh Andreansyah Dimas dan Lani Eleonora

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas

Hubungan kerjasama oleh Clarissa Eunike)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply