TUTAN MENY dari Tusara Coffeehouse, Bandar Lampung, keluar sebagai pemenang #SamuraiThrowdown yang diadakan oleh Common Grounds, Minggu (28/5) kemarin di ST. ALi Jakarta. Bersaing dengan 31 peserta lainnya melalui 5 ronde pertandingan, Tutan Meny memenangkan hadiah tunggal sebesar 10 juta rupiah.

Untuk mempersiapkan lomba yang dijurikan oleh latte-artist kelas dunia Shinsaku ‘Shin’ Fukayama (@shinsaku_samurai) ini, Tutan mengaku berlatih selama seminggu terakhir. Namun untuk menekuni latte art sendiri, Tutan sudah melakukannya sejak tahun 2015. Sebelumnya, Tutan juga berhasil meraih Juara III untuk kompetisi ‘barista championship’ di Batam Coffee Festival.

Tutan Meny dari Tusara Coffeehouse, Lampung, keluar sebagai pemenang lomba latte art Samurai Throwdown 2017.

Tutan mengaku, motif butterfly yang ia temui di babak perempat final justru menjadi motif tersulit di antara semua motif lainnya. Dalam menentukan motif yang akan dilukis di setiap ronde, dadu bawaan Shinsaku jadi alat penentu.

“Kalau untuk finalnya… gimana, ya. Pattern-nya lebih menguasai. Cuma yang agak sulit itu yang tulip invertednya (tulip terbalik—red). Karena pake cup yang 5 oz, jadi lebih nyesuaiin bener-bener,” ujar Tutan Meny, saat diwawancarai kopikini.com lewat telepon, Senin (29/5). “Kalau yang flower-nya itu lumayan mudah.”

Selain besaran hadiahnya, jajaran juri lomba latte art throwdown ini turut menjadi daya tarik tersendiri. Bersama Shinsaku, jajaran juara latte art nasional seperti juara ILAC 2014 & 2015 Johni D’ Roadrunner, juara ILAC 2017 Ovie Kurniawan, dan runner-up ILAC 2017 Evelyne Yamin turut menjadi juri. Ketiganya berasal dari Common Grounds.

Dadu Shinsaku, penentu motif latte art di setiap ronde #SamuraiThrowdown.

Jajaran juri #SamuraiThrowdown. Kiri ke kanan: Ovie Kurniawan, Shinsaku Fukayama, Evelyne Yamin, & Johni D’roadrunner.

Evelyne Yamin, yang juga menjadi ketua panitia, mengaku sistem hadiah tunggal ini dibuat agar peserta fokus mengejar titel juara.

We really want them to focus on how to be a winner. Coming 2nd or 3rd wouldn’t mean anything (Kami ingin mereka fokus menjadi juara. Posisi kedua atau ketiga tidak ada artinya—red),” jelas Evelyne, melalui chat WhatsApp.

Lomba latte art throwdown oleh Common Grounds ini merupakan yang kedua kalinya. Pertama kali diadakan tahun 2014, lomba latte art throwdown serupa dimenangkan oleh Irma Purnama dengan hadiah 5 juta rupiah. Untuk throwdown kali ini, barista dari Common Grounds, ST. ALi, maupun Sensory Lab hanya boleh jadi penonton.

Pelan tapi pasti membangun prestasi, Tutan Meny berkata ‘insyaallah’ akan ikut lomba latte art nasional (ILAC) di ajang Indonesia Coffee Events tahun depan. Saat ini, Tutan masih berada di Jakarta untuk mengikuti kelas ‘Advanced’ Latte Art Workshop, yang akan dipandu langsung oleh Shinsaku pada Selasa (30/5) besok.

Tutan Meny (kiri) bersama finalis Senda Siska (kanan) dari Kopimana 27 Jakarta.

(Liputan oleh Klara Virencia & Andreansyah Dimas;
Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply