Dari semua hal yang dapat dilakukan oleh kopi, mulai dari menurunkan resiko penyakit jantung hingga sesederhana membuat bahagia, muncul fakta terbaru yang mengejutkan. Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa semakin banyak minum kopi dapat membuat kamu semakin bodoh.

Baik. Mari kita coba dulu pahami apa penyebabnya.

Kesimpulan itu diambil atas dasar sebuah penelitian yang dilakukan oleh Best Mattress Brand yang menganalisa 1.000 mahasiswa di AS. Setelah meneliti pola konsumsi kopi anak-anak kuliahan ini ditemukan fakta bahwa mahasiswa yang sama sekali tidak minum kopi memiliki nilai IPK 3,43. Sementara, mahasiswa yang mengkonsumsi dua cangkir kopi setiap harinya mendapat nilai IPK 3,39 dan bagi mereka yang minum hingga lima cangkir kopi per hari hanya mendapat nilai IPK 3,28.

Kabarnya, kafein yang terkandung di dalam kopi sebagai penyebabnya. Menurut penelitian tersebut, meski kopi memberi kita efek “bangun” saat memulai hari, kopi jugalah yang membuat kualitas tidur kita menurun pada akhirnya. Kualitas tidur yang rendah ini kemudian berdampak pada menurunnya kemampuan ingatan jangka panjang.

Terbukti, mahasiswa yang minum kopi dua cangkir atau lebih per harinya rata-rata hanya tidur lima hingga enam jam setiap malam. Semakin sedikit waktu tidur maka nilai IPK para mahasiswa ini cenderung lebih rendah. Setidaknya, menurut penelitian ini.

Lalu apa kabar dengan Thomas Edison?

Orang yang menerangi kehidupan malam para manusia urban dengan bola lampu ciptaannya ini justru menolak untuk tidur berlama-lama. Demi terus produktif menciptakan teknologi yang kini mampu memudahkan kehidupan modern. Bola lampu ciptaannya seakan menggemakan pesan bahwa tak ada matahari bukan berarti aktifitas kehidupan harus terhenti.

“Kita selalu mendengar orang bicara tentang ‘kehilangan waktu tidur’ sebagai bencana,” Thomas Edison menulis dalam sebuah surat pada tahun 1921. “Mereka lebih baik menyebutnya kehilangan waktu, kekuatan, dan kesempatan.”

Jika bicara soal kopi, tidur, dan tingkat kecerdasan mungkin kita harus mengangkat nama lain.

Presiden ke-26 Amerika Serikat, sekaligus termuda sepanjang sejarah, Theodore Rooselvelt bahkan mengkonsumsi satu galon kopi sehari. Baik, mungkin ini berlebihan. Namun, dikisahkan oleh sang anak bahwa cangkir kopi ayahnya digambarkan seperti, “lebih pantas disebut bathtub.”

Yha. Maka ungkapan ‘segalon’ rasanya tidak terlalu berlebihan.

Kebiasaan ngopi segalon Presiden Roosevelt nyatanya tak mencegah beliau menjadi warga Amerika pertama yang mendapatkan hadiah Nobel pada tahun 1906. Penghargaan ini diberikan berkat kegigihannya dalam mencapai perdamaian antara Rusia dan Jepang dalam perang merebut kekuasaan di Manchuria dan Korea. Pada 5 September 1905, Presiden Roosevelt berhasil membuat kedua negara berseteru ini menandatangani Perjanjian Portsmouth.

Kuncinya Ada Pada: Siesta

Memang, pernyataan Thomas Edison dalam suratnya seakan mengatakan bahwa tidur hanya untuk manusia lemah. Namun, beliau menyimpan rahasia di balik itu. Yakni, siesta. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan tidur siang atau mungkin rebahan bentar.

Thomas Edison tercyduk tidur siang di dalam laboratorium.

Memiliki kesamaan bunyi dengan fiesta atau pesta dari Bahasa Spanyol. Siesta adalah kunci ramainya setiap fiesta hingga dini hari di negeri matador ini. Berasal dari kata bahasa latin ‘hora sexta’, yang berarti jam ke-enam. Dihitung dari dimulainya aktifitas saat matahari mulai bersinar, maka siesta dimulai enam jam setelah itu. Tepat di tengah hari.

Meski siesta merupakan tradisi Spanyol dan negara-negara lain yang berbahasa Spanyol, namun budaya tidur siang juga dimiliki oleh berbagai tradisi di dunia. Termasuk dalam agama islam yang dikenal dengan Kailulah. Konon, Nabi Muhammad pun melakukan kebiasaan ini.

Para ilmuwan kemudian menemukan fakta bahwa efek tidur siang dapat meningkatkan fokus, ingatan, kewaspadaan, dan memperbaiki kualitas otak yang hilang akibat kurang tidur saat malam hari. Inilah Coffeemates, kunci sukses Thomas Edison, John F. Kennedy, hingga Salvador Dali.

Tidur Setelah Ngopi

Jadi Coffeemates, mari kita kaji lagi. Masalah utama menurunnya tingkat kecerdasan adalah kurang tidur. Kafein, memang memiliki efek untuk mencegah kita tertidur dan otak selalu siaga. Tentu, efek inilah yang dicari untuk membantu para mahasiswa dalam belajar dan menyelesaikan tugasnya di malam hari. Namun, masalah turunnya tingkat kecerdasan bukan pada kopi. Melainkan, kurangnya waktu tidur.

Kunci tetap pintar dan performa kerja maksimal: Siesta.

Penelitian terbaru dari para ilmuwan Inggris di Loughborough University menyimpulkan bahwa tidur sebentar setelah minum kopi justru lebih efektif daripada kedua kegiatan ini dilakukan terpisah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kafein baru memiliki efek setelah 20 menit dikonsumsi.

Maka, yang harus kamu lakukan setelah lelah lembur semalaman hingga mengantuk seharian adalah:

  1. Temukan tempat rebahan yang nyaman. Sofa kantor, tangga darurat, musholla, atau pangkuan kekasih;
  2. Teguk secangkir espresso atau seduhan kopi kesukaan kamu;
  3. Pasang alarm yang akan membangunkan kamu dalam waktu 15-20 menit;
  4. Jangan tunda. Tidak perlu ngopi sambil bergosip atau membuka sosial media. Daripada terjebak twitwar lebih baik lepas sepatu, ambil bantal leher, lalu tidurlah.

Niscaya, kopi tak akan membuat kamu bodoh. Melainkan, membantumu untuk lebih fokus menyelesaikan semua pekerjaan. Usai siesta, tentunya.

 

(Informasi dan data disadur dari enterpreneur.com, brainpiciking.com, researchgate.net, sleepjunkies.com

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto diambil dari brainpicking.com, pexel.com dan pixabay.com )

 

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply