Kedai kopi yang lahir dari tangan orang yang segan menyeduh kopi?
Nyatanya ada. Brewphobia namanya.

DSC_0242

DSC_0231

“Ya, percaya nggak percaya, sebenarnya dari awal saya orang yang paling nggak pede buat nyeduhin kopi buat orang lain,” ungkap Mirza Luqman, sang pemilik kedai sekaligus pencicip kopi profesional (Q-Grader). “Terlalu banyak yang dipikirkan gitu. ‘Emang ini yang benar?’ Kayak ragu semuanya.”

Ia pun menyebut dirinya ‘brewphobia’.

DSC_0133
DSC_0121

Melalui sesi obrol-obrol dengan berbagai orang kopi dan menonton sejumlah tutorial youtube, perlahan-lahan ‘phobia’ ini memudar. Kini, menjadi barista di kedai sendiri, Mirza kian fasih menyajikan kopi setiap hari. Hanya nama ‘Brewphobia’ saja yang tersisa.

Seperti halnya keberaniannya, kedai ini juga Mirza rintis tahap demi setahap. Keinginan untuk punya kedai sudah ada sejak lama. Namun rutinitas kantoran dan modal yang besar membuat mimpinya terasa jauh dari nyata. Untungnya, ia tidak kenal kata putus asa.

“Apa yang saya lakukan? Ya pertama ngumpulin alat-alat kopinya dulu,” ujar Mirza Luqman, yang juga menjadi karyawan di waralaba kedai kopi terbesar di dunia. Setiap ada uang lebih, ia pakai dan sisihkan untuk beli alat ini dan itu. Alat-alat kopi itu kini menghiasi kedai mini miliknya. Dari semua alat-alat itu, Aeropress jadi favoritnya.

DSC_0122

“Saya sendiri seneng pake Aeropress karena mudah banget dibawa ke mana-mana, nggak ribet bersihinnya, nggak mudah pecah, dan cara penggunaannya itu ringkas,” jelas Mirza.

Mengusung tagline ‘Jakarta’s First Aeropress Coffee Bar‘, Brewphobia turut mengunggulkan Aeropress sebagai alat seduh mereka. Bukan sekadar karena jadi favorit Mirza pribadi.

“Saya yakin banget semua customer di industri ini penginnya kopinya tersaji dengan cepat,” ujar Mirza. “Itu dia kenapa saya pilih aeropress.”

Membimbing Ryan Wibawa
Brewphobia boleh jadi kisah seorang Mirza Luqman menaklukan ketakutannya. Usai era ‘brewphobia‘, babak kedua Mirza dimulai ketika ia berbagi keyakinan dengan barista yang baru-baru ini mewakili Indonesia di ajang dunia. Mirza Luqman lah yang melatih Ryan Wibawa secara khusus untuk Indonesia Brewers Cup (IBRC) 2015. Usai Ryan meraih juara pertama di IBRC 2015, Mirza kembali membimbing persiapan Ryan sampai di panggung World Brewers Cup (WBRC) 2016.

“Jujur saja, kalau kita ngomongin apa yang ada di kompetisi dengan apa yang ada di kehidupan Ryan Wibawa di perusahaan, itu bertolak belakang,” ungkap Mirza. Ryan yang dulu bukan Ryan yang sekarang. Mirza lah saksinya.

DSC_0149

Nggak confident, takut, bingung nyeduh kopinya kayak gimana,” kenang Mirza, menceritakan sosok Ryan yang dulu. Ia lalu mencari cara untuk memberi pengertian yang lebih tentang kopi. “Saya bilang sama Ryan, nyeduh kopi itu bukan kopi yang diseduh. Tapi gimana pikiran kita seluruhnya itu benar-benar pengin melayani customer.”

Sebelum IBRC 2015, Ryan memang sempat berlaga di kompetisi manual brew sejabodetabek dan kompetisi internal perusahaannya. Namun tahun itu, IBRC baru pertama kali diadakan. Kompetitornya sulit dipetakan. IBRC menjadi ajang kompetisi nasional pertama bagi Ryan dan para ahli manual brew lainnya. Di sini, Ryan menjadi gentar.

“Dia lihat, ‘Wah lawannya gila.’ ‘Tuh dia udah master banget, udah sampe a-b-c-d‘,” kisah Mirza, menggambarkan kegelisahan Ryan. Bagi Mirza, tahap pembentukkan pola pikir inilah yang menantang. Pola pikir orang yang jam terbangnya belum tinggi, khususnya. Akan selalu ada keraguan dan pertanyaan berulang-ulang.

DSC_0151

“Nah di situ, saya cuma jadi motivatornya. Saya yakin banget untuk masalah skill, knowledge, dia udah matenglah.” Ryan sendiri, dalam bincang-bincang dengan kopikini.com, menyebut Mirza sebagai ‘tak hanya pelatih, tapi juga sahabat’. Selesai huru-hara kompetisi, Mirza selaku mentor tak lupa kembali memberi pesan.

“Yang paling saya tekankan—still humble. Semua orang bisa bikin kopi, kok,” ujar Mirza. “Diundang acara apapun, sebisa mungkin ya sempetin. Karena kita nggak mau dia membuat sebuah kesan, ‘kalau udah jadi juara itu beda dunia’.”

Manusia, Yang Utama di Balik Kopi
Memoles seseorang, from zero to hero, nampaknya memang kepiawaian Mirza. Di tempatnya bekerja dari pagi sampai sore, Mirza mengolah  sumber daya manusia dengan melatih cara mereka melayani pelanggan dan mengeluarkan potensi mereka.

Manusia di balik secangkir kopi selalu menjadi ketertarikan sendiri bagi Mirza. Ia percaya, kopi hanyalah perantara. Ada yang lebih penting untuk dirawat demi mempertahankan budaya ngopi yang hangat-hangatnya ini.

“Hubungan antar manusianya,” tukas Mirza, lugas. “Kopi itu, seperti yang saya bilang, itu medianya doang.”

DSC_0128

13 tahun malang melintang di dunia kopi, Mirza kian terpukau dengan kemampuan kopi menarik teman dan orang-orang baru.

“Dulu saya nggak kepikiran, karena kopi bisa ke mana-mana,” ungkap Mirza. “Karena kopi, bisa punya teman banyak. Itu yang berkesan buat saya dari kopi.”

Malam hari, di Brewphobia, Mirza turun tangan membimbing para baristanya. Untuk Brewphobia, Mirza hanya menerima mereka yang belum punya pengalaman sebagai barista. Alias, nol pengalaman.

Valuenya tuh gimana melihat orang berkembang,” ujar Mirza Luqman. “Kalau bisa mereka berkembang lebih dari saya. Di situ saya berpikir, itu adalah sukses saya.”

***

Tersembunyi di pojok tikungan antara Jalan Kemang Utara dengan Kemang Timur, Brewphobia diam-diam menjadi bengkel para barista muda dalam mengulik kopi.

DSC_0224 Pojok mungil bernuansa putih bersih ini memang tidak menampung tempat duduk yang terlalu banyak. Bar kopi mendominasi sebagian besar ruang indoor dan berjarak sangat dekat dengan tempat duduk-tempat duduk mungil yang menempel ke dinding. Namun melalui ruang-ruangnya yang rapat, Brewphobia menjanjikan suasana ngopi yang hangat.

DSC_0235

Brewphobia Coffee
Jl. Kemang Utara No. 50
Jakarta Selatan, 12730

Hari buka: Setiap hari
Jam buka: Pukul 10.00 – 22.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

Leave a Reply