Dear Coffeemates,

Belum lama, bukan, kita move on dari rasa bahwa kopi itu harus hitam dan pahit?
Sungguh, untuk ini kami bersyukur pada tren spesialti yang mengenalkan warna-warni kopi. Ia bisa seasam jeruk atau semanis gula jawa. Punya wangi macam air kembang ataupun punya warna yang bikin bertanya-tanya ‘ini teh kopi?’

“Ini kopi, bukan teh.”

“Iya, ini teh kopi?”

“Kopi woi, bukan teh.”

“Iya, ini teh—“

“Pergi kamu.”

Adegan yang terjadi bukan cuma di kedai kopi, tapi juga di dapur rumah pagi hari.

Ya, lagi-lagi kemewahan spesialti membuat nyeduh fancy dengan alat-alat vee-siks-tee, siphon, ketel leher angsa, vietnam drip tak cuma milik para ‘ahli kopi’. Sehari-hari, siapapun bisa menyeduh kopi tanpa ampas melayang di atas gelas yang meninggalkan kumis di atas bibir. Dari sekumpulan biji berwarna hitam gosong yang sekarang tak lagi harus gosong dengan adanya light-roast & medium-roast, pilihan lidah kita kini makin bervariasi. Runtuhlah segala kutipan yang menyatakan ‘kehidupan memang sepahit kopi’. Jika memang kopi itu kehidupan, maka hari ini kita perlu berbahagia karena ia hadir dengan segudang rasa dan pilihan untuk menikmatinya.

Tentu, kami percaya pilihan saudara sekalian jatuh pada bagaimana lidah kita hendak merasa. Tak dosa juga kalau ingin mengikuti kata hati yang rindu kopi hitam saset dengan sensasi jagung gosong. Kali-kali lagi pengin pop-corn, ya kan. Atau memang, saudara sekalian lagi butuh melancarkan pencernaan. Lagi-lagi, kami percaya ini bukan soal mana yang lebih baik. Cuma soal situasi dan kondisi. Bahwa kopi tak lagi cuma punya bapak-bapak di pos ronda.

Senada dengan spesialti yang datang memberi sentuhan lain pada kopi, lidah penikmat dan pembuat kopi yang berbeda akan memberi sentuhan yang beda pula. Jika sebelumnya dan sampai sekarang juga kopi masih dianggap minuman yang ‘laki banget’, kami bertanya-tanya apa jadinya jika secangkir kopi diolah, diseduh, dan dinikmati oleh para perempuan.

Di dunia barista, misalnya, penyeduh perempuan tak kalah jumlah dari para laki-laki. Tingkat keseriusan nyeduh kopi pun membawa para barista ini berlaga di kompetisi tingkat dunia, dalam World Barista Championship. Sudah tradisi, barista juara ini kemudian jadi panutan barista sedunia. Tak jarang, mereka kemudian merambah aktif di sisi industri kopi yang lain selain menyajikan kopi.

Namun selama 16 tahun kejuaraan barista sedunia World Barista Championship berlangsung, tak satupun juaranya adalah perempuan. Alhasil, ada cara pandang yang hilang di sini. Kita tahu bahwa penyajian kopi memang membutuhkan ukuran-ukuran teknis seperti angka gram kopi, suhu air, dan metode seduh yang konsisten demi rasa yang bisa dinikmati berkali-kali. Dunia barista saat ini kental dengan hitung-hitungan sains macam itu. Namun justru, dalam keasikan para barista mengulik hitungan yang tepat demi rasa kopi terbaik, mereka kerap lupa bahwa tanggung jawab mereka juga mencakup membuat pelanggan merasa nyaman dengan keramahtamahan mereka. Alhasil, lahirlah istilah coffee snob. Kanal online bitchmedia.com, yang gamblang mengusung kesetaraan gender, lantas menyimpulkan bahwa fokus berlebih terhadap teknis ini justru terjadi karena tak ada barista wanita yang hadir memberi cara pandang segar untuk industri kopi.

Sembari tetap giat menyemangati agar para eneng lebih semangat untuk turun lebih sering dalam kompetisi barista, kami pun akan memberi panggung untuk para eneng kopi angkat bicara. Mungkin tak perlu menunggu sampai barista wanita menjuarai panggung kompetisi dunia. Karena yang dibutuhkan hanyalah tempat untuk bersuara. Sebulan ke depan, kopikini.com akan menampung cerita mereka, tentang mereka, dari mereka ataupun Coffeemates sekalian. Ya, jangan ragu untuk menitipkan cerita para eneng di kopi pada kami sekiranya Coffeemates mendengarnya sendiri.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

(Foto-foto ilustrasi disadur dari dokumenter “Women In Coffee: A Short Documentary” oleh Equal Exchange.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply