Tempat duduk di ButFirst Coffeeshop yang satu ini memang terobosan. Menangkap kegelisahan tongkrongan yang kerap harus pisah jalan lantaran beda paham soal ‘merokok’ dan ‘tidak merokok‘, Rizky Firdaus menengahinya dengan meja ngopi dua arah: satu sisi indoor & satu sisi outdoor. Ditengahi oleh jendela, baik perokok maupun mereka yang tidak merokok dapat bercengkrama tanpa jeda.

Inspirasinya tak lain tak bukan, dari pengalaman pribadi Rizky sendiri. Ia sendiri bukan perokok.

butfirst-coffee-rizky-firdaus-2

Rizky Firdaus, pemilik ButFirst Coffeeshop.

“Tapi teman-teman gue ngerokok semua,” ungkapnya.

Tentu saja, perkara timbul  ketika mereka ‘nongkrong’ di ruangan non-smoking.

“Di tengah lagi ngobrol-ngobrol seru, mereka kayak ‘eh gue ngerokok dulu ya’. Jadinya harus keluar dulu,” lanjut Rizky. “Akhirnya gue temenin tapi ya harus, gitu.” Ia terkekeh kecil. Antara pengertian atau keasep-an. Gitu.

Jadilah tempat duduk dua arah di jendela ButFirst Coffeeshop.

butfirst-coffee-exterior-4

Namun niatan Rizky lebih dari sekadar merangkul kaum perokok dan bukan perokok dalam satu meja. ButFirst Coffeeshop, dalam bayangan Rizky, adalah tempat mereka-mereka yang terjangkit ‘bad day’ khas ibukota berlabuh.

“Ya, mereka mungkin abis pulang kantor, habis dikasih tahu sama bosnya, habis dibilangin, kena marah, atau misalnya, macet.  On the way ke sini, terus berantem sama supir, whatever,” paparnya.

Sesampainya mereka di ButFirst Coffeeshop, Rizky menjamin ‘bad day’ mereka akan terobati.

butfirst-coffee-interior-1 “Kita pengin jadi tempat yang tujuan untuk rejuvenate, untuk istirahat gitu,” ujarnya saat berbincang dengan Kopikini.com melalui jendela. “Just to chill over a cup of coffee. Productive great time.

Baik untuk jeda sejenak sebelum meeting, untuk bersantai seharian di akhir minggu, ataupun justru demi suasana tenang untuk bekerja, ButFirst Coffee menawarkan kenyamanan yang memanjakan.

“Ya kita pengin bikin break time itu konstruktif. With the surrounding experience.”

Kopikini.com pun menelusuri pojok ngopi di bilangan Dharmawangsa ini.

Sepotong Communal Restaurant

Meski berukuran mini, ButFirst Coffeeshop menjanjikan lebih dari sekadar pastries sebagai pendamping kopi.

Selain ButFirst Coffeeshop, bangunan No. 4 di Jalan Dharmawangsa Raya ini turut menjadi rumah bagi tiga jenis kuliner sekaligus: kuliner Meksiko di ‘Taco Local‘, ‘Bao Ji’ dengan kuliner khas Asia, dan santapan a la vegetarian di ‘SNCTRY’.

Di antara restoran-restoran tersebut, ButFirst Coffeeshop hadir tanpa niat mencuri atensi. ButFirst Coffeeshop terletak di bagian paling belakang dari communal restaurant atau kumpulan tempat makan ini. Bukannya ‘berebut pelanggan‘, Rizky percaya kopi justru bisa tampil selaras dengan pilihan makanan apapun.

butfirst-coffee-pastry-1

butfirst-coffee-pastry-3

butfirst-coffee-pastry-2

Pastries andaan ButFirst Coffeeshop. Racikan langsung dari koki alumni Le Cordon Bleu Paris.

“Kita sync to semuanya. Kalau misalnya mau mesen something healthy from the health bar, mau makan di sini. Without ordering coffee, bisa,” papar Rizky. “The flavour that we have in our coffee? It’s in sync with the others.

Cappuccino ‘garang’ & Filter ‘tebal’

Bermodal pengalamannya sebagai barista saat kuliah di Inggis, Rizky mengutak-atik minuman kopi favorit rakyat, cappuccino, menjadi Iced Cappucino yang dibuat melalui metode french press.

“Prosesnya beda. Biasanya kopi dulu, baru susu. Ini kita susu dulu, baru kopi,” jelas Rizky. “Kita menggunakan french press untuk nge-plunge susunya. Terus baru kopinya dituang.”

Hasilnya? Sensasi semi-frappuccino dengan tekstur yang lebih creamy dibanding cappucino biasa, plus sensasi kopi yang lebih ‘garang’.

Tak puas sekadar memanjakan peminum kopi kasual, Rizky turut merangkul para penggemar kopi specialty dengan variasi biji kopi lokal.

Beans single origin yang dibikin untuk manual brew, sejauh ini kita (biji kopi—red) lokal semua,” papar Rizky. “Ada Timor Timor, Papua Jayawijaya, Surawidha, Danau Toba.”

Dengan pilihan biji kopi nusantara yang kurang lazim di telinga, para barista ButFirst Coffeeshop lebih gemar menanyakan selera lidah pelanggan dibandingkan mempromosikan biji kopi mereka. Suka sensasi karamel? Manis gula? Atau sensasi buah-buahan? Biar Coffeemates katakan, para barista yang akan meracikkan.

Jika biasanya manual brew identik dengan sensasi cairan yang ringan, manual brew ButFirst Coffeeshop justru hadir dengan body yang lebih terasa.

“Kita tetap coba buat supaya semua origins yang kita punya tuh, kita seduh gimana caranya supaya mereka masih berbody,” ujar Rizky. “So…. the least is medium body.”

butfirst-coffee-manual-brew-2

butfirst-coffee-manual-brew-1

Kecil Nan Bermakna

Tapi, ButFirst lebih dari sekadar soal kopi enak. “Berani buka coffee shop, itu udah harus enak kopinya,” ujar Rizky singkat.

Tidak, lebih dari itu. ButFirst Coffeeshop adalah tentang servis untuk Coffeemates yang dipikirkan dengan seksama setiap jengkalnya. Sampai ke detail terkecil mengenai cara para barista menaruh gelas kopi.

“Kalau misalnya kita taruh gimana, takutnya orangnya ngerasa kayak, ‘Ah it’s gonna be a bad day. Ini kopi gua. Kok barista-nya naronya begini, sih. Kagak enak.’ Jadi negatif. Seharian di kantor bisa ngaruh juga, gitu,” jelas Rizky.

Ya, ia percaya setiap detail menambah makna.

So we try to keep the positive energy into communicate nicely with our customers. To give them a good day.”

butfirst-coffee-interior-3

Menciptakan atmosfer yang nyaman boleh jadi semacam kewajiban kedai-kedai kopi di ibukota Jakarta, hari-hari ini. Lalu lintas yang gila, bos yang demanding, tekanan di tempat kerja, keriuhan klakson dan percakapan yang terlampau bising, sewaktu-waktu bisa bikin ‘meledak’ jika tidak segera terobati.

ButFirst Coffeeshop, syukurnya, menjamin ‘good day’ untuk para Coffeemates dengan secangkir kopi nikmat dan atmosfer di sekelilingnya. Bukan sekadar kata, namun nyata lewat cara.

(Liputan oleh Clarissa Eunike;
foto oleh Andreansyah Dimas;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply