Sebagai zat yang juga mampu meningkatkan kadar serotonin atau hormon kebahagiaan, wajar saja kafein jadi agenda utama banyak orang di pagi hari. Saking banyaknya penggemar kopi yang merasa hari-harinya diselamatkan oleh kafein, Dewi Caffeina muncul sebagai sosok untuk disembah. Meski tidak pernah termasuk dalam barisan dewa-dewi ‘sah’ bangsa manapun, konon kelahiran Dewi Caffeina erat kaitannya dengan pengalaman spiritual salah seorang kaisar Romawi.

Sekitar abad ke-3 M, seorang bangsawan bernama Julianus yang senang bermeditasi di malam hari meminta bantuan alam supaya ia dapat terus terjaga di tengah meditasinya.

Ketika sedang berjalan di kebun belakang untuk menghilangkan kantuk, ia melihat seekor domba yang sedang menari. Heran, Julianus pun bertanya kepada gembala kambing, sebab apa yang membuat kambingnya begitu bersemangat.

Sang gembala menjawab dengan memberikan segenggam buah kepada Julianus. Ia bercerita, kambingnya baru saja menemukan dan memakan buah-buahan ini yang tumbuh di pegunungan. Ketika Julianus mencoba buah-buahan tersebut, ia seketika merasa ingin berdansa pula! Julianus pun lalu  merebus buah-buahan tersebut menjadi minuman. Minuman tersebut, tak lain tak bukan, adalah kopi. Julian lalu memutuskan untuk meminumnya setiap malam. Merasa energinya meningkat dan sanggup terjaga semalaman untuk bermeditasi berkat kopi, Julianus berpikir ‘Mukjizat ini pasti kiriman dewi!’

Lalu dimulailah penyembahan rakyat Roma terhadap Dewi Caffeina.

Ya, Coffeemates, sangat mirip dengan kisah Kaldi dan kambingnya yang populer sebagai penemu kopi pertama kali. Tidak ada sumber jelas yang mencatat keberadaan Dewi Caffeina, memang. Kisah mengenainya tersebar acak di berbagai belahan world wide web. Sama samarnya dengan kisah Dewi Caffeina, tokoh Kaldi dan kambingnya pun baru muncul di abad ke-9 SM. Namun toh sumber yang lebih terpercaya mencatat bahwa kopi pertama kali digunakan di abad ke-15 SM sebagai minuman pendamping ibadah para sufi di kuil-kuil Yemen. Baik kisah Julianus maupun catatan sejarah mengenai para sufi menunjukkan bahwa kopi lekat kaitannya dengan kegiatan spiritual.

Seiring waktu, kepercayaan tentang menjelma jadi pemujaan akan sosok yang ‘dipercaya dapat menganugerahi pemikiran jernih juga membantu meningkatkan energi dan kreatifitas’. Dewi Caffeina juga dipercaya mewakili kekuatan dari empat unsur kehidupan di Bumi, yaitu, tanah sebagai tempat tumbuhnya, api sebagai sarana untuk membuatnya matang, air sebagai elemen utama untuk menyeduh, dan udara yang membantu aromanya menyebar.

Kaum Bedouin di Suriah tengah menyesap kopi, 1930. Sebelum merebak ke Eropa, budaya minum kopi sudah terlebih dulu mengental di antara masyarakat Timur Tengah.

Meski hampir semua keterangan yang ditemukan sepakat bahwa sang dewi membawa berkah pada jiwa-jiwa yang butuh konsentrasi dan inspirasi, ada pula perdebatan sengit tentang kopi macam apa yang berterima bagi Dewi Caffeina. Digambarkan sebagai perempuan cantik yang muncul dari secangkir kopi, kelompok fanatik pemuja Dewi Caffeina berkeras bahwa hanya kopi panaslah yang layak. Sama-sama garis keras, ada pula kelompok lain yang percaya bahwa susu, gula, dan tambahan lainnya adalah nista. Dengan kata lain, hanya kopi hitam yang bisa diterima.

Di tengah perselisihan aliran ini, setidak-tidaknya hampir semuanya sepakat akan satu hal: bahwa kopi decaff alias kopi tanpa kafein 100% tidak ada faedahnya.

Saat menelusuri pemujaan yang nampak begitu kental dan saru asal-usulnya ini, tim kopikini.com menemukan sepenggal doa teruntuk Dewi Caffeina di tengah belantara internet. Ritual ini, untungnya, tidak melibatkan papan ouija maupun tetesan darah. Hanya secangkir kopilah yang kalian butuhkan untuk menjalankannya. Sudah dicoba oleh tim kopikini.com, dan terbukti aman tanpa efek samping berkepanjangan.

Ritual Modern untuk Menghormati Dewi Caffeina

Berdiri, menghadaplah ke arah timur, genggamlah cangkir kopimu yang sudah terisi penuh,
dan berdirilah dengan postur tegak dengan penuh kewaspadaan.

Lalu angkat cangkir kopi mu ke depan dahi dan katakan: “LATTE”
Kemudian bawa cangkir kopimu ke tengah pusar dan katakan: “MOCHA”

Lalu arahkan cangkir kopimu ke bahu kiri dan katakan: “CAPPUCCINO”
Lalu geser dan arahkan cangkir kopimu ke bahu kanan dan katakan: “ESPRESSO”

Terakhir letakkan cangkir ke dekat bibir. Minumlah seteguk, kemudian katakan:
“OH DEWI, AKU BUTUH ITU!”


(Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;

suntingan oleh Klara Virencia.

Informasi disadur dari goddessgift.com, witchfox.com, & laman wikipedia.org ‘History of Coffee’.

Gambar-gambar ilustrasi disadur dari
truepaganwarrior.wordpress.com, & goddessofrandomthoughts.blogspot.com )

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply