Di sela-sela Jakarta Coffee Week 2016,  juara World Latte Art Championship 2015, Caleb Tiger Cha berbagi kisah perjalanannya sebagai barista dengan Kopikini.com. Mulai dari bulan-bulan pertamanya di Melbourne sebagai pelayan restoran makanan Asia, bakat ‘latte art’ yang tidak terduga, krisis identitas sebagai barista, hingga motif ‘flirting peacock’ buatannya yang masih sering bikin lengah.

dsc02030

KV: Konon kau pernah menjalani hidup sebagai akuntan keuangan? Selama 4 tahun?

CTC: Ya, konsultan keuangan selama 4 tahun.

KV: Setelah itu kau pindah ke Melbourne, dan dapat pencerahan untuk menjadi barista. Bagaimana kejadiannya?

CTC: Well, semasa di Korea Selatan, aku orang yang sangat terstruktur. Aku mengikuti perintah, memenuhi kewajiban dan tanggung jawab. SD, SMP, SMA, universitas, sekolah militer, lalu akuntan keuangan. Hidupku sangat terstruktur. Tapi suatu hari, aku menyadari aku sangat tidak bahagia. Aku merasa ini bukan hidup yang ingin kujalani. Tidak lagi. Jadi itulah alasan utamanya.

Aku mundur dari pekerjaan, dan membeli tiket ke Melbourne. Aku menceritakan hal ini pada temanku di Melbourne, dan dia bilang, “Datanglah”. Itulah momen aku menjelajah Melbourne.

KV: Lalu kau tiba di Melbourne, dan?

CTC: Di Melbourne, aku orang asing random. Aku tidak punya pengalaman apapun di Melbourne. Aku orang asing, dan juga ada kendala bahasa dengan bahasa Inggris. Sangat sulit bagiku untuk mendapatkan pekerjaan di Melbourne. Susah payah aku berjuang. Untuk beberapa bulan pertama, aku harus bekerja di sebuah restoran makanan Asia. Melayani orang, menyajikan makanan Asia, dengan bayaran yang sangat rendah. 8 dollar per jam. Itu habis untuk bayar sewa dan tagihan.

Oke, memang aku pindah ke Melbourne karena aku tidak bahagia dengan hidupku di Korea. Tapi kehidupanku di Melbourne juga tidak semanis itu. Aku berpikir aku cuma berpindah tempat saja, dan cuma buang-buang waktu saja.

‘Nggak benar, ini.’
Saat itulah aku mencoba mencari sesuatu yang lain.

Aku lalu menyadari, bahwa Melbourne adalah ibukota kopi. Jadi aku berpikir, ‘Oh, mungkin aku harus belajar kopi.’ Lalu aku melihat-lihat majalah. Ada pengumuman yang berbunyi seperti, ‘Ingin bekerja di restoran lokal? Ingin bekerja di kafe?’ Yeah, kenapa tidak. Itu pengumuman dari salah satu sekolah perhotelan terbesar di Melbourne. Jadi aku ambil kursus barista dasar, lalu yang advanced. Setelah itu, aku langsung dapat pekerjaan sebagai barista. Itu tahun 2008. Aku sangat beruntung bisa langsung dapat pekerjaan. Itu berlanjut sampai sekarang.

KV: Umur berapa kau waktu itu?

CTC: Umur berapa? Aku—(tertawa)

KV: Hahaha kita lewati saja bagian itu.

CTC: Yeah, aku sangat, sangat, sangat tua.

KV: Di umur berapapun, banyak orang yang masih bergulat dengan pilihan hidup mereka. Mereka merasakan hal yang sama denganmu, tidak puas, namun tidak pernah dapat momen untuk mengubah hidup mereka. Dan mereka memutuskan untuk tetap tidak mengubah apa-apa.

CTC: Yeah, kau harus berani. Terkadang kau harus ambil risiko untuk hidupmu. Itu hal yang sulit. Menyemangati dirimu sendiri, menantang masa depanmu sendiri. Mengubah semua hal. Mempertaruhkan hidupmu. Kupikir risikonya sepadan.

KV: Apa yang kau ketahui tentang kopi semasa di Korea?

CTC: Di Korea? Aku bahkan bukan peminum kopi. Aku selalu minum Starbucks, ‘caramel frappuccino’. Nikmat sekali. Aku tidak tahu apapun tentang kopi. Yeah, hanya bicara uang, uang, uang. Investasi, real estates.

dsc02033

KV: Lalu kau diselamatkan oleh kopi.

CTC: Yeah, kopi—tidak pernah aku bermimpi aku akan berurusan dengan kopi. Aku sangat beruntung aku memilih pergi ke Melbourne. Kalau aku pergi ke tempat lain, aku tidak akan pernah berada di tengah industri ini. Mungkin aku masih akan kesulitan menata hidup. Aku pergi ke Melbourne, dan dari situ aku punya kesempatan untuk belajar tentang kopi. Hidupku berubah secara total setelah itu. Berubah total untuk versi yang lebih baik—terbaik, bahkan.

KV: Kau menjadi barista tahun 2008. Lalu kau ikut kompetisi pertamamu di tahun 2014.

CTC: Yeah.

KV: Bagaimana kau berubah dari barista yang sekadar menjalankan pekerjaan, menjadi barista yang ikut kompetisi? Kapan kau menjadi serius soal hal itu?

CTC: Awalnya aku sangat tertarik dengan biji-biji kopi single origins. Tahun 2009, itu momenku menyicipi kopi Mandailing Indonesia. ‘Ohh, ini sungguh berbeda.’ Guatemala, ‘Ohh, spicy.’ Tapi di saat yang bersamaan, aku juga sedang keranjingan menuang motif-motif cantik di atas kopi. Aku tidak terlalu jago pada saat itu.

Suatu hari, mantan bosku memperlihatkanku sebuah foto.
“Kau bisa membuat motif ini?”
Beberapa kali aku coba buat.
Bosku lihat, dan dia sangat kaget sampai-sampai, “Ini benar kau yang buat?!”

Motif itu adalah motif buatan juara latte art dunia tahun 2009.

Aku semacam, ‘Whoa, oke. Mungkin aku punya potensi.’ Aku bicara dengan diriku sendiri, ‘Mungkin suatu hari aku bisa ikut kompetisi.’

Tapi di tahun 2010, 2011, 2012, 2013—empat tahun berturut-turut, setiap tahun aku, ‘Ah, mungkin tahun depan.’ Aku tidak punya motivasi untuk berkompetisi, untuk benar-benar serius ikut kompetisi. Di tahun 2013, aku benar-benar sudah ngebet ikut kompetisi, tapi aku melewatkan kesempatan. Aku kelewatan tanggal pendaftarannya. Jadilah aku ikut di tahun 2014, betul-betul berkompetisi.

Tahun 2014 itu, aku mulai dari baca peraturannya. Aku benar-benar buta soal ‘apa yang harus kulakukan?‘, ‘apa saja aturannya?‘, dan segala macamnya. Aku baca peraturannya—dan itu benar-benar panjang. Pikirku, ‘ya tuhan….’. Tapi, ya, aku mulai dari membaca peraturan dengan teliti. Untungnya, aku dapat posisi kedua se-Australia.

Aku pun semacam, ‘Oke, mungkin aku coba lagi.’ Turunlah aku di tahun 2015. Lalu, akhirnya, jadi juara.

KV: Langsung juara dunia.

CTC: Langsung juara dunia.

KV: Dari 2014 ke 2015, apa ada persiapan berbeda yang kau lakukan?

CTC: Yeah. Dari tahun 2014, aku sadar bahwa kemampuan presentasiku masih sangat kurang. Jadi, di tahun 2015, aku berlatih untuk lebih banyak tatap mata saat presentasi, lebih banyak beri penjelasan tentang motifnya, dan lebih merangkul para juri. Dan berhasil.

Di 2014, aku cuma main tuang-tuang saja. Tapi di peraturan, aku baru sadar ada aspek ‘penampilan profesional’ (professional attire—red). Kau tahu? Penjelasan, kontak mata, dan segala macamnya itu. Aku kehilangan banyak poin dari situ di tahun 2014. Jadi kulatihlah semua itu, di samping kemampuan menuang susu, tentunya. Aku berlatih sangat keras, berkali-kali. Harus sempurna. Dan lalu, yah, terjadilah.

Masih ada videonya di YouTube, penampilanku di kejuaraan nasional. Itu 150% dariku. Kuberikan semuanya. Itu sempurna.

dsc02029

KV: Kau juga pernah bilang bahwa sangat penting bagi para barista untuk punya tujuan yang jelas. Kau sudah capai tujuanmu untuk jadi juara. Apa selanjutnya? CTC: Mungkin, jadi juara barista? (World Barista Champion—red).

Ya, aku ingin itu. Sebelum menjadi latte artist, aku adalah seorang barista. Aku mulai dari menjadi barista, lalu menjadi latte artist.

Belakangan ini, saat aku keliling dunia, aku melihat banyak barista baru—mereka mulai sebagai latte artist. Aku bilang ke mereka, “jadilah barista, bukan latte artist.” Banyak sekali barista yang bisa menuang motif-motif cantik, tapi kurang mengerti soal ekstraksi dan asal usul kopi. Mulai dari pengetahuan itu dulu, baru berurusan dengan susu.

Kadang aku merasa ‘kosong’. Aku punya gelar ‘juara latte art‘, tapi sesungguhnya aku barista. Identitasku ‘barista’. Jadi kupikir, kenapa tidak sekalian ikut kejuaraan barista dan menantang hidupku sekali lagi? Seperti waktu tahun 2008. Aku menantang hidup dengan pindah ke negara lain. Begitu saja. Aku mau membuat tantangan sekali lagi dengan ikut kejuaraan barista dunia. Karena dulunya aku barista. Aku memang barista.

KV: Tahun depan?

CTC: Tidak, bukan tahun depan. Aku harus mengumpulkan tim dulu. Di kompetisi barista, kau tidak bisa maju sendirian. Kau butuh tim, tim yang bagus. Dan pelatih, atau mentor. Lalu, pemanggang (roaster). Dan pencari beras kopi (green bean). Kau butuh tim untuk itu. Segera setelah aku dapat tim yang oke, aku akan siap ikut kompetisi.

KV: Masih nanti, ya.

CTC: Mungkin dalam 2-3 tahun ini. Tidak ada kata terlambat.

KV: Di internet kau sangat terbuka soal teknikmu melukis motif ‘flirting peacock’, ‘love triangle’, dan ‘caffeinated zebra’. Bukankah itu seperti membuka ‘rahasia’ juaramu?

CTC: Berbagi itu ‘kasih’, tahu. Aku sangat senang bisa berbagi. Terutama untuk barista yang masih berjuang mencari trik menuang. Aku juga dulu seperti itu. Sebelum aku berkompetisi, aku riset. Aku google video-video latte art. Aku terinspirasi dari motif-motif yang kutemukan. Aku belajar dari situ. Toh, si pengunggah video tidak berniat ambil keuntungan dari situ, kan. Mereka cuma pengin berbagi. Mereka ingin menginspirasi. Mereka mau menyemangati barista-barista baru dengan video-video itu.

Jadi, itulah yang kulakukan juga. Itu yang kulakukan untuk barista-barista sedunia.
“Cobalah. Mungkin kalau kau bisa ini, kau bisa jadi juara dunia juga.”
Tidak ada yang namanya ‘rahasia’ di kompetisi. Saling menyemangati dan berkembang saja. Itu tujuanku.

KV: Dari ketiga motif buatanmu itu, manakah yang paling sulit kau kuiasai?

CTC: Uhh, ‘Flirting peacock’ selalu menantang.

dsc01877

Motif latte art ‘Flirting Peacock’ karya Caleb Cha, acuan babak final ALASKADABRA 2016.

 

dsc01871

Caleb Cha, saat melukis ‘Love Triangle’ di atas permukaan piccolo untuk acuan babak final ALASKADABRA 2016.

KV: Bukankah itu dasarnya dari motif rosetta?

CTC: Yeah. Buatku, tetap saja. Aku semacam perfeksionis. Aku ingin motifku—si ‘flirting peacock’—terlihat seperti motif ‘tulip’ sempurna dari setengah ke atas. Lalu, dua motif ‘rosetta’ sebagai ‘sayap’nya. Lalu yang menonjol adalah motif hati kecil-kecil di sekitar motif ‘tulip’ yang pertama kubuat. Membuatnya seimbang dan harmonis itu sangat, sangat sulit. Kau tuang susu beberapa kali, dan lalu kau harus memutar cangkirmu 360 derajat. Gerakan-gerakan itu masih menantang buatku.

Kemarin saja (saat membuat ‘flirting peacock’ untuk babak final ALASKADABRA 2016—red), aku masih kecele. Aku sampai harus menuang beberapa kali, dan baru berhasil di percobaan ketiga. Yeah—karena motif itu menguji tiga kemampuan sekaligus dalam satu cangkir. ‘Tulip’, tarik, ‘rosetta’, hati. Semuanya ada di situ.

Rasa-rasanya aku belum pernah melihat ada orang lain yang melukis motif itu lebih baik dariku. Tentu saja, itu motifku. Tapi ada banyak latte artist berbakat di dunia ini, kan. Tapi tidak ada yang menuang ‘caffeinated zebra’ lebih baik dariku. Tidak ada yang menuang ‘flirting peacock’ lebih baik dariku. Artinya, itu motif yang sangat sulit. Masih motif yang sangat sulit. Aku tahu itu.

KV: ‘Caffeinated zebra’! Aku sangat suka detail-detail seperti ‘uap kopi’ yang kau tambahkan. Sekilas terlihat sederhana.

CTC: Tidak terlihat begitu sulit. Tapi saat kau coba tuang, kau akan sadar dan memaki, ‘sial’.

caffeinated-zebra

Motif ‘Caffeinated Zebra’, presentasi Caleb Cha di babak final Australian Latte Art Championship 2015.

(Wawancara & liputan oleh Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia & Andreansyah Dimas;
foto-foto Caleb Cha oleh Andreansyah Dimas;

foto ‘caffeinated zebra’ diambil dari video
2015 Australian Latte Art Champion Caleb Cha’
oleh Specialty Coffee Association of Australia.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply