Kopikini.com menemui juara IBC 2017 Yoshua Tanu untuk mengungkap rahasia di balik kemenangan beruntunnya di IBC. Juara yang akan mewakili Indonesia di ajang dunia ini memaparkan rutinitas latihan yang sukses mengamankan posisi juara bertahan untuk yang ketiga dan, mungkin, terakhir kalinya.

Derita jadi penonton lomba kopi, memang. Cuma bisa dibuai janji rasa-rasa kopi, tapi enggak kebagian mencicipi. Meski begitu, performa Yoshua Tanu di IBC 2017 tetap saja mengundang untuk dipandangi berlama-lama. Presentasi berbahasa Inggris lancar mengalir beriringan dengan gerakan meracik kopi. Di tengah performanya, salah satu penonton dari samping panggung IBC berbisik pelan, “Effortless banget.”

Meski membawa beans dan konsep presentasi yang berbeda-beda, ia dan para barista Common Grounds yang turun bertanding di Indonesia Coffee Events (ICE) kemarin punya satu kesamaan: semuanya kerap bikin penonton megap-megap dengan catatan waktu yang mepet namun tepat. Tidak, para kontingen Common Grounds tidak kenal kata overtime.

Saat ditemui di Common Grounds Pondok Indah Mall, Yoshua Tanu mengakui bahwa overtime memang momok yang haram hukumnya.

“Kita selalu tell our kids, overtime is never an excuse. Kelebihan waktu itu bukan alasan. Karena 1 detik itu minus 1 point. Dan 1 poin itu besar sekali dalam kompetisi,” ujar Yoshua. “Kami selalu pastikan mereka tidak lewat batas waktu.”

Waktu 15 menit yang tersedia bisa jadi mencekik dengan tuntutan membuat masing-masing empat gelas untuk tiga jenis minuman. Ya, itu 12 minuman dalam waktu 15 menit. Belum lagi ditambah presentasi. Berikut tips dari Yoshua Tanu untuk menyiasati waktu sempit ini:

1) Bagi waktu

Kompetisi harus selalu bagi waktu, imbuh Yoshua. Ini pula yang ia sarankan untuk barista-barista Common Grounds. Baginya, penting untuk selalu mencatat masing-masing waktu yang dibutuhkan untuk presentasi, bikin espresso, milk-beverage, dan signature beverage.

Yoshua sendiri menyisihkan 1-2 menit untuk speech, 2 menit untuk espresso, 4 menit untuk cappuccino, dan 5 menit untuk signature beverages.

Selain itu, ia menganjurkan untuk selalu menyisakan 30 detik tambahan di akhir performa. Dengan kata lain, berlatihlah seolah batas waktunya 14 menit 30 detik.

“Karena di kompetisi, semua orang cenderung tampil lebih panjang dari waktu mereka latihan. Karena mereka merasa mereka perlu ngejelasin lebih banyak. Dan perlu lebih memikirkan apa yang mereka lakukan,” jelas Yoshua. “So, 30 detik jeda ini yang akan membantu ke depan.”

Dengan kata lain, berlatihlah untuk hal-hal yang tak terduga.

2) Atur jadwal latihan

Selain pembagian waktu penampilan, Yoshua juga membagi waktu persiapan selama 6 bulan dengan seksama.

Bulan pertama, ia habiskan untuk memilih kopi. Bulan ke-2, ia merancang rutinitas performanya sembari tetap pilih-pilih kopi. Bulan ke-3 adalah masanya ia memanggang kopi, mencari profil panggang kopi dan mengulik tanggal roasting terbaik. Bulan ke-4, barulah ia berlatih dengan kopi sungguhan.

“Juga untuk tahu, tanggal persisnya (setelah roasting—red) kopi itu paling enak. Sekalian memilih dua profil kopi dari 5-6 pilihan profil panggangan kopi.”

Lalu masuklah bulan ke-5, yang menjadi bulan paling intens baginya.
Di masa satu bulan sebelum latihan ini, setiap hari ia berlatih 4 jam sehari, 6 hari seminggu, untuk sebulan penuh.

Barulah di bulan ke-6, ia mulai mengistirahatkan dirinya dengan berlatih lebih santai.

“Sedikit ‘kurang intens’, lebih nyaman, lebih rikes, dan beristirahat untuk seminggu. Lanjut beberapa hari lagi latihan sebelum kompetisi,” papar Yoshua. “Istirahat sehari, lalu kompetisi.”

3) Beans yang betul-betul kau suka

Biji kopi pilihan Yoshua Tanu, Panama Geisha, memang identik sebagai beans andalan para juara kompetisi barista dari berbagai belahan dunia. Namun bukan semata-mata karena itu ia memilih si Geisha. Belum lagi, ada berbagai pilihan Panama Geisha yang tersedia di luar sana. Akhirnya, ujung-ujungnya balik ke selera.

Finca Deborah, my favorite,” ucap Yoshua, menyebutkan perkebunan asal kopi Panama Geisha favoritnya. “Finca Deborah and Finca Morgan Estate. It’s my favorite.

Setelah membawa Finca Deborah di WBC 2016, Yoshua memutuskan untuk kembali menggunakannya di ajang IBC 2017 kemarin. Alasannya sederhana. Pertama, ia sudah paham betul cita rasa yang akan keluar dari kopinya. Kedua, ia ingin menyajikan kembali kopi yang benar-benar ia suka.

“Jadi memang pengin kubawa lagi ke sini buat ditampilkan ke orang-orang yang kukenal di sini. Karena pas selesai WBC, kopinya udah keburu habis.”

Ia mengaku, memilih beans yang akrab dengannya membantu meringankan beban kompetisi untuknya.

4) Bersiap untuk kalah

Saat pertama kali turun IBC di tahun 2013, Yoshua Tanu bahkan tidak lewat babak eliminasi. Dari situ ia belajar, banyak hal yang bisa barista bawa pulang selain dari piala. Karena itu pula, ia dan rekan-rekannya di Common Grounds selalu menyarankan agar para barista Common Grounds turut mencicipi panggung kompetisi.

“Satu, itu memberi mereka pengetahuan yang sangat banyak dalam waktu singkat. Ada banyak pengalaman yang tak bisa kami ajarkan cuma dari keseharian di outlet.”

Selain pengetahuan, kompetisi juga bicara soal mental. Ibarat ‘ujian’, kompetisi barista akan merangsang para barista untuk belajar mandiri. Tentu saja, semua persiapan ini tidak berarti kemenangan sudah terjamin di tangan. Belajar kalah, bagi Yoshua, juga jadi hal yang penting untuk dipelajari.

“Selain dapat pengetahuan, mereka juga akan mengerti bahwa kalau mereka kalah ya tidak apa-apa. Kalau menang, mereka belajar untuk rendah hati,” ujar Yoshua, yang pernah mencicipi menang dan kalah. “Kalau tidak, akan selalu ada lain kali. Selalu ada hal yang bisa diperbaiki.”

Tahun berikutnya, di IBC 2014, Yoshua Tanu melesat ke posisi Juara I dan berlanjut hingga sekarang. Untuk mewakili Indonesia di World Barista Championship 2017 bulan November nanti, ia mengaku akan berjuang sejauh yang ia bisa. Tentu, ia tetap mengincar posisi pertama.

I always aim for first. But—you don’t know. It’s hard,” aku Yoshua. “Competition’s hard.”

Yoshua selalu tampil rendah hati dalam menilai dirinya sendiri. Saat pengumuman juara IBC 2017, ada raut kaget bercampur haru yang merebak di wajahnya. Dalam perbincangan singkat sesaat setelah penerimaan piala, ia mengaku masih ada yang ia rasa kurang dari penampilannya.

Of course ada, pasti. Tapi untungnya bisa menutupi sampai menang,” ujarnya sambil tertawa.

Mengingat panggung WBC 2017 akan jadi panggung kompetisi barista terakhirnya, sangat mungkin ada lebih dari 100% usaha yang akan ia pertaruhkan di sini.

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;
foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply