“Kopi itu ibarat cinta,
tidak enak kalau dipanaskan kembali.”

Ungkapan Makmun, pemilik warung kopi Cut Zeim di Banda Aceh, siang itu mengundang gelak tawa dari kami. Kopi memang mantapnya dinikmati selagi panas. Seringkali di tengah keasyikan kita mengetik, membaca, maupun mengobrol, seduhan kafein kita kerap terlupakan.

Namun sentuhan rasa asam kopi akan pudar kalau ditinggal terlalu lama. Apalagi kalau sampai dipanaskan kembali. Cairan hitam dalam gelas anda tak beda dengan air comberan. Pecinta kopi hapal mati hukum ini. Namun, terlontar dari mulut seorang pemilik kedai di kota 1000 kedai kopi, perkataan ini menggelitik kami untuk menyusuri keintiman orang-orang Aceh dengan kopi mereka.


Bagi orang Aceh, kopi sudah kadung jadi bagian sehari-hari. Bang Makmun mengamini bahwa mereka bisa ngopi setidaknya 4-5 kali sehari. Kedai kopi lebih dari sekadar tempat istirahat jam makan siang. Masyarakat Banda Aceh sudah parkir di kedai kopi sejak awal hari. Orang-orang tua biasanya berkumpul habis sholat subuh, membuka hari dengan bertukar berita dan cerita.

Menurut Bang Makmun, subuh justru waktu-waktu kedai kopi miliknya paling padat pengunjung. Ibarat pasar, katanya. Transaksi jual beli mobil terjadi di sana pula. Kedai kopi pula jadi tempat lahirnya cinta.

Zaman perang Aceh, kedai kopi jadi satu-satunya tempat pihak GAM, tentara Indonesia, dan warga sekitar bisa duduk santai tanpa prasangka. Hukum damai ini berlaku merata di semua kedai. Semua orang sama rata di hadapan secangkir kopi.

Kopi sanger yang santer namanya itupun buah rasa persaudaraan. Suatu ketika ada segerombolan mahasiswa yang kebelet ngopi susu. Apa daya, duit di kantong tiris tanpa sisa. Bukannya mengusir layaknya pedagang yang memikirkan laba, sang pemilik kedai berbaik hati meracik kopi untuk mereka.

Tersajilah kopi sanger, kopi ‘sama-sama ngerti’. Haji Nawawi, pemilik kedai ‘Solong Coffee‘, menjadi saksi hidup terciptanya kopi sanger.

Sebagai minuman wajib di tengah budaya nongkrong masyarakat Aceh, secangkir kopi laiknya terjangkau oleh kocek semua pihak. Kopi Sanger di kedai ‘Solong Coffee‘, misalnya, boleh jadi harganya 10ribu secangkir, tapi yang ngopi satu kecamatan.

Menariknya, kaum hawa jarang terlihat di kedai-kedai kopi yang kami kunjungi. “Ya, memang. Memang kalau perempuan itu masih segan (untuk nongkrong di kedai kopi).”

Mengikuti tradisi jam malam setempat, warung kopi Cut Zeim milik Bang Makmun tutup bersamaan dengan waktu shalat maghrib. Ibarat cinta yang muncul seiring matahari, aman tersimpan kala gelap menyelimuti bumi.

Viva Barista - Aceh-41 (cropped)2

Disadur dari Viva Barista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply