Bukan tentang membuka kedai kopi sendiri, tapi mengenai pentingnya ikut membangun kedai kopi terdekat supaya jadi lebih akrab dan sehat.

Ada sebuah kedai kopi baru berjarak sekitar tiga ratus meter saja dari tempat tinggal saya. Saya segera mencobanya di hari pertama.

Dengan jurus seorang Coffee Snob, saya memesan “Split”. Sang Barista bingung apa maksud saya. Dalam hati saya langsung menghakimi, “Oh, ternyata kafe yang satu ini kurang jago!”

Saya jelaskan saja bahwa “Split” itu artinya saya minta dibuatkan sekaligus satu shot espresso tanpa ditambahkan apa-apa lagi dan satu shot espresso untuk jadi white coffee. White coffee-nya saya minta ukuran piccolo.

Oh, ternyata Sang Barista juga tidak paham apa itu “piccolo”. Daripada repot menjelaskan ini-itu, saya ganti saja piccolo-nya dengan cappuccino.

Baik espresso dan cappuccino-nya tidak sesuai dengan selera saya. Saya pun pergi dengan kecewa dan berjanji dalam hati untuk tidak kembali lagi ke kedai kopi dekat rumah itu.

Sebagai seorang Coffee Snob, lebih baik saya menempuh jarak jauh demi:

  1. Kopi yang sesuai selera (artinya: semacam di Melbourne)
  2. Barista yang mahir
  3. Disain interior yang “kekinian”

Maka, pergilah saya ke kedai-kedai kopi punya teman-teman. Jaraknya bisa lebih dari lima kilometer, atau bahkan tidak jarang sampai harus pindah kota. Dari Jakarta ke Tangerang, Tangerang ke Banten, misalnya.

DSC_0412

Di hari biasa, saya pergi ke kedai kopi keren yang tidak terlalu jauh. Saat akhir pekan tiba dan lalu lintas lebih bersahabat, barulah saya menempuh jarak belasan kilometer demi menikmati kopi-kopi sesuai selera di third wave specialty coffee shops; kedai-kedai kopi yang paham apa itu double ristretto, punya refractometer, dan kenal siapa itu Tim Wendelboe.

Seiring waktu, teman-teman pengusaha kedai kopi bergaya interior a la Melbourne campur Norwegia (dengan barang-barang yang diborong dari IKEA) bercerita bahwa kedai kopi mereka sebenarnya hanya ramai di minggu-minggu awal baru buka. Selanjutnya, kedai-kedai kopi tersebut jadi sepi di hari biasa, dan sekadar lumayan ramai saja di akhir pekan.

Demikianlah kenyataan yang ada: kedai kopi adalah alamat liburan di akhir pekan buat mereka yang takut ketinggalan tren. Café culture, bukan coffee culture. Sementara kedai-kedai kopi hanya jadi weekend destinations di café culture, coffee culture dibangun oleh sehatnya local coffee shops.

Sejatinya, sebuah kedai kopi juga bisa berfungsi secara lokal. Kedai-kedai kopi itu semestinya menjadi local coffee shops di mana pangsa pasar utamanya adalah orang-orang setempat. Bisnis pun jadi sehat.

DSC_0329

Saya jadi teringat pada si kedai kopi yang jaraknya hanya tiga ratus meter dari tempat tinggal saya. Setelah beberapa bulan, bagaimana ya bisnis mereka? Kasihan juga kalau sepi. Tutupnya satu kedai kopi bukanlah kabar bahagia buat kedai-kedai kopi lain, melainkan sebuah tanda bahaya.

Saya pun mendatangi lagi kedai kopi dekat rumah itu.

Ya, kopinya belum berubah. Masih tidak sesuai dengan selera saya. Tapi, saya bisa memberi masukan. Saya tidak perlu bilang kopi mereka tidak enak. Saya cukup jelaskan kopi seperti apa yang saya suka. Toh, barista mereka cukup baik untuk menerima input. Mereka bahkan mencoba sebisa mereka untuk memenuhi selera saya.

Ya, saya memang tidak kenal siapa yang punya kedai kopi itu. Baristanya juga baru. Instagram saja mereka tidak kenal. Tapi, saya bisa kenalan dan ajak ngobrol. Akhirnya, ditemani kopi yang “okelah rasanya”, saya jadi bisa menghabiskan waktu sejam di sana untuk bangun hubungan.

Ya, disain tempatnya mungkin kurang “kekinian”. Tapi, di rumah saya banyak majalah Monocle dan Kinfolk yang – tentunya – tidak pernah dibaca. Lebih baik saya taruh saja di kedai kopi itu, supaya jadi elemen dekorasi. Lebih baik saya beli saja terrarium dan saya sumbangkan ke kedai kopi itu. Akhirnya, mulailah bermunculan foto-foto latte art dari kedai kopi itu ditemani majalah hipster dan kaktus-kaktusan di Instagram.

Semakin saya disiplinkan diri untuk mengunjungi kedai kopi itu, semakin baik hubungan kami. Mereka jadi hafal kopi seperti apa yang saya suka. Dalam waktu kurang dari sebulan, tiba-tiba kedai kopi itu jadi salah satu favorit saya di Jakarta.

DSC_0326

Beberapa bulan kemudian, kedai kopi tersebut melakukan renovasi dan mempercantik diri. Lantas, semakin banyak orang-orang setempat yang mampir ke kedai itu, sekedar untuk takeaway kopi sebelum ke kantor. Mungkin karena paper cups-nya pun sekarang keren. Tidak lama kemudian, pemiliknya cerita ke saya bahwa ia mau buka cabang di lokasi lain. Business is good!

Bayangkan apabila di setiap sudut kota ini ada local coffee shops yang sehat dan akrab dengan penduduk sekitarnya. Jakarta jadi tidak kalah dengan Melbourne, ‘kan?

Kita semua, sebagai konsumen, berperan penting dalam ikut menciptakan kedai-kedai kopi tersebut. Dukung, dan berusahalah berkomunikasi dengan akrab.

Saat kedai kopi setempat jadi lebih baik berkat masukan-masukan dari kita, mulai dari pemilik kedai hingga konsumen pun jadi sama-sama senang.

abcd_160910_localcoffeeshops-edited_4

oleh Ve Handojo
ABCD School of Coffee

Ve Handojo

About Ve Handojo

Ve Handojo adalah seorang penulis sekaligus salah satu pendiri ABCD School of Coffee dan Ruang Seduh. Ia juga menjadi juri di berbagai kompetisi kopi. ABCD School of Coffee juga menyelenggarakan kompetisi-kompetisi kopi berskala nasional. Instagram: @vehandojo @abcd_coffee.

4 Comments

  • Timo says:

    Iya sih, saya sebenarnya penikmat coffee shop-nya, ketimbang coffee-nya. Sekalian buat nambah2in content di blog dan siapa tau bantu mempromosikan yang masih baru2 hehe.

  • Chisna says:

    I’m so happy reading this article… berguna bagi para coffee shop owner yang bisnisnya jalan gak begitu baik.. dan buat coffee geeks yang cuma bisa ngejudge coffee shop tanpa ada alasan yang jelas.. seharusnya memang masing-masing pihak bisa berkontribusi satu sama lain 😀

  • Tri says:

    Artikel menarik. Memang sekarang banyak bermunculan coffee shop tapi belum punya identitas karena mereka belum tahu pembeli apa yang bakal jadi pelanggan mereka. Sebaliknya, makin banyak coffee geek yang terlalu over acting tentang pengetahuan kopinya. Ingat, Padi semakin matang semakin merunduk bukan berkibar-kibar kayak ilalang.

  • M Rifqi says:

    makin kagum saya dengan pa Handojo hehe. untuk para coffee geek, comment negatif boleh tapi dengan aksi memberikan solusi dan apresiasi untuk kedai kedai yang menurut kita punya potensi berkembang, apalagi deket rumah. Untuk coffee owner, jujur saja saya lebih suka memberikan pendapat saya ke owner yang mau “mendengar” jeritan konsumen saja, kalau dia merasa fine fine aja yauda cukup senyum aja 🙂

Leave a Reply