Coffeemates, kamu pasti setuju bahwa rehat sejenak dari waktu kerja yang panjang itu perlu. Selain jam makan siang yang selalu datang tepat di tengah hari, ada hal yang tidak boleh kamu lupakan jika kamu ingin tetap produktif. Yakni, coffee break.

Bukan tepat setelah makan siang, bukan pula sore menjelang jam kantor usai. Nyatanya Coffeemates, waktu terbaik coffee break justru di pertengahan pagi. Satu atau dua jam sebelum makan siang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Emily Hunter, Ph.D., dan Cindy Wu, Ph.D., di Baylor University, semakin panjang waktu bekerja sebelum waktu rehat, maka semakin tidak efektif hasilnya.

Definisi rehat yang dimaksud oleh para peniliti di sini adalah “rehat di waktu kapanpun, baik formal maupun informal, pada saat hari kerja di mana pada saat rehat tidak melakukan pekerjaan apapun, termasuk tapi tidak terbatas pada rehat makan siang, rehat ngopi, membuka email personal, atau bersosialisasi dengan rekan kerja, dan tidak termasuk pergi ke toilet.”

Setelah para peneliti menganalisa 95 koresponden selama lima hari kerja dengan total 959 waktu rehat — rata-rata tiap orang melakukan dua kali rehat dalam sehari — mereka pun menemukan fakta yang menarik. Para peneliti menangkap kesimpulan bahwa rehat yang dilakukan lebih awal justru lebih efektif untuk kembali meningkatkan energi, konsentrasi, dan motivasi dalam bekerja.

Hal ini disebabkan karena semua kualitas dalam bekerja tersebut ada dalam potensi terbaiknya tak lama setelah bangun tidur dan perlahan semakin berkurang hingga akhir hari. Niscaya, jika kamu rehat tak lama setelah dimulainya jam kerja maka tubuhmu akan lebih mudah untuk meningkatkan sumber-sumber energi yang dibutuhkan.

Para peneliti juga menyarankan agar para pekerja melakukan aktifitas yang mereka sukai pada waktu istirahat. Tak lantas berarti para pekerja tidak menikmati waktu kerja, Hunter dan Wu justru menemukan bahwa aktifitas yang berhubungan dengan pekerjaan juga memiliki andil dalam kualitas istirahat yang lebih baik.

Kualitas rehat yang lebih baik juga menyebabkan para pekerja memiliki kesehatan lebih baik dan meningkatkan kepuasan dalam bekerja. Terbukti setelah rehat di pertengahan pagi, para pekerja menyatakan bahwa gejala somatik mereka berkurang. Gejala somatik ini termasuk sakit kepala, mata pedih dan sakit pinggang. Para pekerja juga melaporkan bahwa mereka merasa lebih baik dengan pekerjaannya dan mengalami penurunan tekanan emosi.

Sama seperti ketika makan, bahwa lebih baik makan lebih sering dalam porsi lebih kecil daripada makan sekali dengan porsi sekaligus banyak, rehat pun demikian. Hunter dan Wu menyarankan meski mengambil waktu istirahat lebih lama tidak menjadi masalah, namun akan jauh lebih efektif jika rehat beberapa kali dalam waktu lebih singkat.

Kopinya, Mas?

Coffee Break Menurunkan Stres dan Meningkatkan Produktifitas Kerja

Tercatat dalam salah satu artikel Businessnewsdaily.com bahwa stres sudah dianggap “wabah kesehatan abad ke-21” oleh World Health Organization. Bahkan diperkirakan, stres sudah menyebabkan kerugian para pebisnis di Amerika sekitar $300 milyar per tahun.

Stres menyebabkan menurunnya produktifitas, meningkatnya resiko kesehatan, kesalahan dalam bekerja, konflik personal, hingga penurunan moral. Bisa jadi Coffeemates, hampir seluruh pekerja pernah merasakan stres dalam berbagai level. Tidak terkecuali kamu, hey.

Resep obat stres: tambahkan kopi dan teman, niscaya tawa pun tercipta.

Kabar baiknya, rehat ngopi adalah salah satu cara terbaik untuk menurunkan kadar stres para pekerja. Menurut Onesourcerefreshment.com, kopi mampu membuat para pekerja di Philadelphia, AS, menurunkan kadar stres mereka. Beranjak sejenak dari meja kerja dan menikmati secangkir kopi dapat membantu otak untuk lebih santai.

Kafein yang sudah terbukti dapat meningkatkan produksi dopamin pada akhirnya mampu memperbaiki suasana hati, energi, dan kemampuan kognitif. Survei terbaru yang dilakukan oleh Nespresso juga menunjukkan bahwa rehat ngopi memperkuat rasa memiliki terhadap tempat bekerja.

Nyatanya, 79% pekerja menganggap rehat ini sebagai cara paling efisien untuk meningkatkan semangat kerjasama tim dan mengurangi konflik. Sementara 91% pekerja lainnya menganggap rehat ngopi sebagai saat terbaik untuk membangun kedekatan personal dengan rekan kerja.

Bisa jadi, jika tiap dua jam sekali kamu bangkit dari tempat duduk dan ngobrol santai dengan rekan kerja atau melihat-lihat sosial media selama 5-10 menit justru akan membuat kamu lebih senang melakukan pekerjaan. Niscaya, keluhan pun akan semakin jarang terlontar. Stres pun akan mengucapkan selamat tinggal.

Mengutip Earl Wilson, jurnalis senior The Washington Post, “Science may never come up with a better office communication system than the coffee break.”

(Ilmu pengetahuan mungkin tidak pernah menciptakan sistem komunikasi kantor yang lebih baik dari rehat ngopi)

 

(Sumber data dan saduran dari businessinsider.sg, medicaldaily.com, bustle.com, onesourcerefreshment.com, dan qualitylifeobserver.com

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply