If you really love what you do, then I don’t see why you have to stop.” – Aston Utan

Kopi, lagi-lagi menjadi penyebabnya.

Nyatanya Coffemates, Common Grounds bukan Candi Prambanan, bukan pula situs Tangkuban Perahu yang sukses berdiri nyaris sempurna dalam semalam. Cerita kegagalan pun melatarbelakangi kisah suksesnya. Hingga menjadi rumah bagi para juara kompetisi, Common Grounds, dimulai dari kecintaan para pemiliknya terhadap kopi.

“Common Grounds sendiri sih dari tahun 2014. Tapi kita punya banyak pengalaman di industri kopi waktu kita buka Pandava Cafe di Epicentrum Walk tahun 2011 dan gagal.”, Yoshua Tanu mengungkapkan.

Yoshua Tanu, salah satu penggagas Common Grounds yang aktif dalam kompetisi.

Para penggagas Common Grounds tidak bisa dibilang baru dalam dunia bisnis. Sebelum pada akhirnya Common Grounds dikenal sebagai kedai kopi yang mampu mencetak juara dalam kompetisi, nama Pandava Cafe sudah lebih dulu digaungkan. Sebelum berakhir ditutup pada tahun 2015, Pandava Café menjadi wahana untuk mempelajari seluk beluk industri kopi lebih dalam.

“Kita masih mau bikin kopi tiap hari, masih mau mendalami semuanya dan masih mau ada di dalam bisnis kopi.” Aston menjelaskan usai bercerita mengenai kegagalan Pandava Cafe. “Kalo lo benar-benar cinta sama apa yang lo lakukan, gue gak melihat alasan kenapa lo harus berhenti. Gue pikir, pada akhirnya lo akan ketemu jalannya.”

Digawangi oleh Aston Utan, Yoshua Tanu, Daryanto Witarsa, dan Philip Chen, Common Grounds menganut paham ‘Berpencar dan Taklukkan!’ (Divide and Conquer). Tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan percaya pada kerjasama tim, membuat setiap individu di dalam Common Grounds menjadi selayaknya keluarga.

Aston Utan, salah satu penggagas Common Grounds yang fokus mengurus operasional dan marketing.

Kerjasama Tim Mengokohkan Pijakan

“Bisnis ini (kopi–red) bukan cuma tentang seberapa enak kopinya. Tapi ini juga soal interaksi antar manusia, bagaimana bisa saling berbagi pengetahuan, dan membangun komunitas. Itu bagian paling penting di dalamnya.”, Aston menjelaskan kepada tim kopikini.com.

Aston mengakui bahwa kunci kesuksesan Common Grounds ada pada ketika mereka dapat bertumbuh sebagai tim. Ke-empat penggagas Common Grounds masing-masing ahli di bidang berbeda. Dari situ mereka bekerjasama untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produk dari empat penjuru. Karena menurut Aston, mustahil untuk dapat melakukan semua sendiri.

“Itu membuat hidup semua orang lebih mudah. Karena, lagi-lagi bisnis kopi sangat rumit. Banyak sekali lapisan dan aspek di dalamnya.” Ungkap Aston.

Hubungan antar pekerja di dalam kedai kopi pun sama pentingnya. Tergambar jelas ketika para barista Common Grounds berkompetisi, tiap kompetitor saling mendukung layaknya keluarga. Kerjasama tim lebih ditekankan lagi di sini. Bagi Aston, jika kamu ingin berkompetisi, kamu tidak bisa bersaing dan berharap menang tanpa tim yang baik.

“Kuncinya ada pada tim yang baik, persiapan yang matang, mentor yang kompeten, peralatan yang mendukung, akses yang luas dan dedikasi kuat dalam meluangkan waktu untuk meningkatkan kemampuan diri.”, Aston menambahkan.

Tak sulit menembus pasukan barista Common Grounds. Jika, kamu bertanya-tanya bagaimana untuk dapat menjadi bagian dari keluarga besar Common Grounds, Aston mengatakan ia sangat menekankan pada pendidikan. Baginya, pendidikan tinggi tak hanya penting untuk mengembangkan pola pikir tapi juga dapat meningkatkan kedisiplinan. Namun, pendidikan pada akhirnya dapat dikesampingkan jika kesungguhan, kemauan untuk belajar, cinta, ataupun passion sudah memenangkan hati.

Menyatukan Peminum Kopi Generasi Lama dan Baru

Berkiblat kepada kedai-kedai kopi specialty dari Melbourne hingga LA, Common Grounds ingin memberikan pengalaman baru bagi para peminum kopi generasi lama. Sekaligus, menjadi rumah bagi siapapun yang merindukan pengalaman ngopi ketika berlibur di luar negeri, terutama generasi peminum kopi gelombang ketiga.

Memiliki dua jenis campuran kopi untuk espresso (houseblend), Common Grounds menyatukan cita rasa kopi dalam negeri dengan kopi-kopi dari Etiopia. Cloak and Dagger, dibuat khusus untuk campuran kopi dengan susu adalah gabungan dari kopi Toraja Wahana dengan Etiopia yang disangrai di level medium. Niscaya, karakter buah-buahan, rasa manis dan aroma bunga dari kopi Etiopia dan rasa coklat, rempah-rempah, beserta kuatnya karakter kopi Toraja akan berpadu harmonis.

Sementara untuk kopi hitam, seperti espresso atau long black, Common Grounds menyediakan Flora Technica, gabungan dari dua kopi Etiopia dengan dua proses paska panen berbeda, natural dan washed. Paduan keduanya mampu menciptakan espresso dengan karakter buah-buahan dan ringan di lidah.

Jika kamu berkunjung ke Common Grounds kamu akan menemukan bar kopi terletak di depan, terlihat jelas dari pintu masuk. Seraya hendak menunjukkan bahwa Common Grounds bukan sekedar restoran biasa, tapi memang tempat yang diciptakan untuk para pecinta kopi.

“Jelas, menempatkan bar di depan dan jadi sangat keliatan menunjukkan kalau kita perusahaan kopi dan fokus di kopi. Kita memang punya tim dapur dan menu yang bagus. Tapi pertama-tama dan yang paling penting, kita tetap coffee company.”

Karakter pengunjung Common Grounds dapat dikatakan sangat luas. Meski tidak dapat dibilang murah, tiap gerai Common Grounds di Jakarta tampak tak pernah sepi pengunjung. Karena, Common Grounds menjanjikan yang terbaik dari apapun yang disajikan. Lebih dari sekedar kemewahan interior atau kenyamanan meja dan kursi.

Mikael Jasin, salah satu barista Common Grounds

 

(Liputan oleh Klara Virencia

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply