Khusus diramu untuk warga sekitar Cipete, Kopi Tetangga dari Toko Kopi TUKU menawarkan perpaduan cita rasa cafe latte a la kopi sachet dengan kopi spesial (specialty coffee) dalam satu tegukan. Andanu Prasetyo, pemilik TUKU, meramu Kopi Tetangga berdasarkan selera ngopi para ‘tetangga’ di lingkungannya.

“Masyarakat sekarang itu masih minum gula,” cermat Andanu, yang akrab dipanggil Tyo. “Berhubung gue pengin banget ningkatin konsumsi kopi masyarakat itu, yaudah gue harus nyetting, ‘Gimana? Minuman apa yang bisa ningkatin konsumsi masyarakat?’”

Tyo pun meracik resep dan sensasi rasa Kopi Tetangga secara kroyokan. Bermodal masukan dari para pelanggan yang kerap mampir di TUKU, lahirlah sebuah racikan kopi dengan rasa yang berlapis.

Berlapis gula merah di permukaannya,  Kopi Tetangga seketika menyambut dengan rasa manis yang bersahabat. Perlahan tapi pasti, sensasi kopi susu a la Kopi Tetangga menuntun lidah penyecapnya kepada rasa kopi yang lebih ‘kencang’ di dasar gelas.

DSC_0381

DSC_0383

Secangkir Kopi Tetangga.

“Tidak terlalu acid, tapi masih ada aftertaste-nya. Nggak rasa kebakar terlalu kenceng, tapi masih cocok kalau ketemu gula,” Tyo mendeskripsikan rasa Kopi Tetangga, yang menjadi ciri khas Toko Kopi TUKU. “Gua bikin sedemikian rupa biar pas. Bahkan yang di es kopi susunya, pun, mirip.”

Baik untuk disajikan panas maupun dingin, Kopi Tetangga berbahan dasar kopi Garut dengan tingkat kematangan sedang-gelap, atau medium-dark roast.

Kopi Tetangga terhitung terjangkau untuk ukuran kopi Arabika, yakni 18ribu rupiah per cangkir. Baginya, yang terpenting warga sekitar bisa ngopi setiap hari.

Demi ‘meraba’ dan menyesuaikan selera masyarakat, Tyo menyediakan tiga jenis biji kopi dengan tiga level roasting. Tiga alat penggiling biji kopi (grinder), masing-masing bertuliskan light roast, medium roast, dan medium dark roast, berjejer di balik bar.

Tyo sengaja tak menulis asal daerah biji kopinya. Tak mau ia jejali peminum kopi sachet dengan macam-macam ilmu kopi, sebelum mereka terpincut oleh rasa.

DSC_0312 DSC_0313

“Yang light itu buat ngejar yang fruity,” jelas Tyo, mengacu pada aftertaste berry yang identik dengan cita rasa kopi specialty arabika. “Yang medium buat ngejar chocolate nut (rasa coklat-kacang–red), yang medium dark buat dapet balanced sweets (rasa manis yang seimbang–red).”

Demikian siasat Tyo untuk mengakali lidah masyarakat yang terbiasa dengan sensasi robusta a la kopi sachet. Jika sudah betah ngopi, pelanggan bisa mencoba sensasi berbeda dengan Kopi Premium yang diramu tanpa gula. Perlahan tapi pasti, TUKU memancing pelanggannya.

Dari yang mulanya berselera kopi sachet, hingga akhirnya tergelitik bertanya,
‘Ini single origin dari mana?’ Sampai situ, jalan Tyo untuk bicara lebih soal kopi mudah sudah.

“Dari situ, kita bisa ngobrol lebih banyak lagi.”

andanu-prasetyo

Andanu Prasetyo, siap meracik kopi sesuai selera para tetangga.

Toko Kopi TUKU
Jl. Cipete Raya No. 7

Jakarta Selatan, 12410

Hari buka: Setiap hari
Jam buka: Pukul 07.00 – 22.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

  • Yenni Kartabrata says:

    Setelah minum kopi tetangga dari warung kopi TUKU ini, jadi gak suka kopi sachet. Pengen nya tiap pagi minum kopi ini.
    Pokoknya top deh kopi nya.
    I’d prefer this rather than international brand

Leave a Reply