Untuk tahun 2020, International Coffee Organization sudah memperkirakan akan ada defisit sedikitnya 10  juta karung kopi ukuran 60kg di seluruh dunia. Setara dengan 600.000 ton kopi.

Sampai tahun 2020, permintaan kopi di seluruh dunia diperkirakan meningkat sebesar 2,5% per tahun. Deputi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Mulyono Susilo, melihat bahwa permintaan kopi dari negara-negara seperti Jepang, AS, Eropa Barat, Italia, dan Spanyol cenderung stabil. Namun di beberapa negara, permintaan kopi terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Defisit ini karena peningkatan konsumsi di RRC dan negara-negara produsen kopi, seperti Indonesia dan Vietnam,” jelas Deputi AEKI Jateng, Mulyono Susilo, kepada antaranews.com, Jumat (12/8).

Andrea Illy, pemilik perusahaan roaster kopi Illycaffè asal Italia, bahkan memperkirakan untuk mengimbangi konsumsi kopi 10 tahun ke depan, produksi global kopi harus meningkat antara 40 sampai 50 juta karung. Mulyono melihat kekurangan ini sebagai peluang.

“Indonesia punya kesempatan untuk mengisi defisit kopi dunia ini,” tegas Mulyono.

Viva Barista - Takengon-112

Ia menambahkan, tantangan ini khususnya tertuju untuk seluruh pelaku industri kopi Indonesia. Mulai dari pemerintah, eksportir, hingga petani. Di level petani, misalnya. Mulyono menjelaskan, petani dapat meningkatkan produktivitas tanaman kopi dengan pemotongan cabang.

Namun, Mulyono menyayangkan, masih banyak petani kopi di Indonesia yang belum mengimplementasikan metode manajemen cabang.

“Kami betul-betul berharap para petani kopi bersedia berusaha lebih dalam merawat perkebunan mereka,” ujar Mulyono, selaku bagian dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI).

Petugas UPT Perbenihan Departemen Pertanian Kabupaten Bogor, Yuni, khususnya menemukan masalah ini di antara petani-petani daerah Bogor. Ia melihat, masih banyak kebun kopi yang tumbuh sampai 3 meter. Idealnya, pohon kopi rajib dipangkas dan tingginya dijaga, maksimal 160 m. Perkebunan Kopi

“Nah itu mereka (petani) nggak mau melakukan. Karena beranggapan kalau tanaman itu dipangkas, buahnya kurang (banyak),” jelas Yuni.

Usai panen, cabang-cabang mati bisa dipangkas agar jaringan-jaringan yang baru dapat berkembang. Hasilnya, bunga-bunga kopi juga cenderung tumbuh lebih rimbun. Mulyono mengamati, petani-petani kopi di negara-negara penghasil kopi, seperti Vietnam dan Brazil, sudah menggunakan metode ini.

“Inilah yang meningkatkan produksi kopi mereka,” Mulyono menambahkan.

Disadur dari antaranews.com, bloomberg.com, & indiatimes.com

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply