Kopi sudah jadi lebih dari sekedar sebuah komoditi. Kopi dapat jadi sebuah seni. Dapat pula kopi menjadi sumber inspirasi dan menuntun proses kreatif seseorang. Lebih-lebih lagi, kopi bahkan dapat membuat seseorang berani untuk merubah karirnya.

Andy Anderson, pemilik akun instagram @manmakecoffee, sadar betul akan hal ini. Ia memulai dengan memajang koleksi jepretan kopinya sendiri pada akhir tahun 2014. Tidak butuh waktu lama, akun instagram ini menjadi pusat komunitas kopi global yang menghimpun lebih dari 150.000 pengikut.

Melalui kurasi Anderson, kumpulan-kumpulan foto di  @manmakecoffee menjadi jendela dunia kopi, entah untuk mengintip sebuah kedai kopi atau untuk memahami profesi seorang barista lebih dalam. Mengambil model Humans of New York (@humansofnewyork) Andy Anderson,  merangkum kisah di balik orang-orang kopi melalui akun instagram @humansofcoffee.

Sehari-harinya, Anderson adalah  seorang marketing director untuk sebuah perusahaan teknologi global yang berbasis di Johannesburg, Afrika Selatan. Di sisa waktunya, ia mendedikasikan dirinya untuk kopi. Kisah Anderson terangkum  melalui wawancara oleh Anna Brones dari Sprudge.com.

Bayangkan apa yang teman-temanmu akan katakan jika harus melanjutkan kalimat, “Andy adalah…”?

…terobsesi dengan istrinya dan kopi. Entah yang mana yang duluan.

Selain mem-posting foto-fotomu sendiri, kamu juga mengunggah foto-foto yang orang lain kirimkan. Bagaimana awal mulanya dan bagaimana itu berkembang

Awalnya, akun instagramku cuma dipakai buat nyimpen semua jepretan kopi pribadi. Tidak berapa lama, aku sadar aku bakal kehabisan foto juga. Jadi aku bereksperimen sedikit dengan menanyakan para followers buat sharing foto mereka. Kupikir nggak bakal ada yang ikutan.

Tiba-tiba aja, koleksi jepretan latte-artku malah berubah jadi komunitas specialty coffee yang followersnya udah 120,000 yang udah lebih dari 150,000 kali nge-tag foto kopi ke akun itu. Sekarang mungkin 95% foto yang yang ada di akun instagram itu datangnya dari komunitas. Dan sejujurnya, dibandingin sama foto yang mereka kirim, fotoku jadi nggak ada apa-apanya.

?: @ang_sonny • tag your shot #manmakecoffee to be featured

A photo posted by Andy Anderson (@manmakecoffee) on

Kasih tau dong visi editorial kamu gimana? Gimana milih fotonya? Apa ada unsur estetis tertentu yang kamu cari?

Beberapa hal menarik perhatianku: Perspektif yang segar. Interior yang menarik. Teknik seduh yang sempurna. Aku mencari jepretan yang bisa kasih kisah baru tentang kopi. Setidaknya, ‘baru’ menurut ukuran halaman instagram-ku.

Harapannya, akun itu cukup menginspirasi banyak orang supaya mempelajari kopi lebih dalam dan orang-orang dibaliknya. Barista adalah seniman. Dunia harus tahu.

Kamu pernah ngerasa gak nama “Man Make Coffee” (‘manusia membuat kopi’, bisa juga diartikan sebagai ‘pria membuat kopi’—red) malah jadi penghalang untuk ‘membumi’?
Atau, selama ini kiriman foto yang datang dari perempuan memang sama banyaknya dengan yang datang dari laki-laki?

Jadi ceritanya gini. Kubeli kamera. Kubeli lensa. Kubeli tripod. Kungambil kelas fotografi. Kupunya semua hal yang dibutuhin buat jadi Steve McCurry berikutnya. Kecuali, bakat. Aku berhasil mendapatkan foto yang bisa kubanggakan, cukup bangga untuk memajangnya di instagram. Jadi kubuatlah akun instagram dengan nama @manmakepicture.

Akun ini nggak berkembang, cuma punya beberapa followers sekadarnya. Tapi akun ini tetap memiliki tujuan penting. Akun ini adalah inspirasi yang kubutuhkan pas nyari nama untuk akun kopi yang gue buat.

Jadi, “manmakecoffee” itu diriku sendiri. Dan aku nggak pernah berencana membuat ini jadi akun komunitas, nggak pernah kepikiran nama akun ini akan mengacuhkan setengah dari populasi manusia yang lebih baik. Untungnya, 46% dari followers akun ini perempuan. Dan, kebanyakan foto yang gue tampilkan dijepret sama perempuan.

Ceritain soal serial “Humans of Coffee” di website kamu dong. Apa yang menginspirasi? Apa yang kamu harap orang lain dapatkan dari itu?

Bertolak belakang sama karirku sebagai marketing, aku seorang introvert. Jadi aku nggak gampang ketemu orang baru. Sampai, kopi merubah itu.

Hal terbaik dari perjalanan kopiku sejauh ini adalah orang-orang yang kutemu sepanjang jalan. Dengerin cerita mereka membuatku  belajar banyak tentang diri sendiri, sebanyak aku belajar tentang mereka. Jadi, kumulailah serial Humans of Coffee. Kurasa aku mau orang-orang melihat kita semua lebih punya banyak kesamaan dibanding perbedaan.

Kopi apa yang kamu minum sekarang?

Lagi minum single-origin Nicaraguan, dan ini adalah satu dari kopi terbaik yang pernah kucoba. Kerennya lagi, aku dapat ini ini dari pasar lokal.

Kedai kopi favorit?

Oh, pertanyaan sulit. Ada beberapa. Tapi , ya, kalau kamu menggabungkan fakta bahwa kedai kopi ini berjarak lima menit dari rumahku, konsistensi pelayanannya baik, konsisten kopinya enak, dan mereka memiliki pandangan hal apa yang membuat mereka bergairah dan berkomitmen—mereka hanya menyajikan biji Afrika yang mereka ambil langsung dari para petani—itu pastinya “Bean There”. Sebuah coffee roastery  di Johannesburg.

Kalau kamu bisa minum kopi sama siapa aja di dunia ini, siapa orangnya dan apa alasannya?

James Freeman daru Blue Bottle Coffee. Aku suka banget kisahnya, passion-nya dan brand yang dia bangun. Juga, Jay-Z. Untuk alasan yang sama.

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Disadur dari wawancara Anna Brones kepada Andy Anderson untuk sprudge.com)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply