Sangat erat ikatannya dengan Toraja, Doma Dona Coffee membawa kesejukan dari atas ketinggian di tengah riuh ibukota. Diambil dari bahasa Toraja, memang Doma Dona memiliki arti ‘dari atas ketinggian’. Ketinggian, tempat di mana biji kopi mampu tumbuh subur dan mengeluarkan potensi terbaiknya.

“Menurut dari cerita si pemiliknya, itu yang menamakan itu neneknya,” ungkap Afandi, manajer operasional Doma Dona Coffee. “Neneknya itu kan orang Toraja asli.”

Memiliki perkebunan kopi sendiri memang hal yang sangat menguntungkan bagi sebuah kedai kopi. Dari situ, kualitas mampu diawasi dari hulu hingga ke hilir. Kopi Toraja yang disajikan Doma Dona Coffee pun berasal dari kebun mereka sendiri.

Berawal dari bisnis ekspor biji kopi ke beberapa wilayah di Asia, ekspor dari kebun kopi milik Bennie Litha Brent sang pemilik mencapai 10 ton sekali kirim. Melihat geliat usaha kedai kopi di Jakarta, Bennie Litha Brent pun memasarkan biji kopinya ke pasar lokal lewat Doma Dona Coffee sejak bulan Oktober 2016 lalu.

Memiliki mesin roasting sendiri, Doma Dona Coffee menyediakan biji kopi segar yang siap digiling bagi siapapun yang mencari biji kopi Toraja berkualitas. Tak hanya untuk penyeduh rumahan, Doma Dona Coffee juga menawarkan pasokan biji kopi bagi kedai-kedai yang tidak memilik mesin roasting.

Labuhan Para Ekspatriat

Di Jepang sendiri, kopi Toraja merupakan seduhan yang digemari. Menurut catatan portal berita detik.com, 40% kopi yang dikonsumsi Jepang adalah kopi Toraja. Santer beberapa waktu lalu, salah satu perusahaan asal Jepang turut mematenkan nama Kopi Toraja sejak tahun 2000 namun tetap mengimpor kopinya dari Indonesia.

Kini di Jakarta, para ekspatriat asal Jepang kembali menemukan selera lidahnya di Doma Dona Coffee.

“Karena lokasi kita di Jalan Wijaya, yang di mana itu banyak perumahan-perumahan expat (ekspatriat—red),” papar Afandi.

Dengan lokasi dan sajian kopi yang tepat, tak heran ekspatriat Jepang dan Korea kerap terlihat memasuki kedai kopi ini. Barista pun terlihat fasih langsung menyapa nama dan membuat minuman tanpa diminta.

“Bisa dibilang 70% nya lokal 30% nya ekspat Korea dan Jepang,” ujar Afandi. “Dan memang kita tau Korea sama Jepang ini suka kopi Toraja sih.”

Bukan sembarang pelanggan, ekspatriat yang kerap muncul di kedai kopi ini adalah para pelanggan setia yang bisa datang dua kali sehari demi menikmati kopi Toraja dari Doma Dona Coffee.

“Pagi-pagi pasti ada dateng namanya Mr. Kim ya, contohlah. Dia pasti setiap hari tanpa absen tiap pagi ke sini mesen americano. Terus dateng lagi 3 orang lagi ekspat Korea-Jepang  pasti minum cappuccino dan black coffee,” cerita Afandi tentang para pelanggan yang muncul sejak Doma Dona baru saja dibuka. “Terus abis itu dateng lagi pulang kantor, setelah itu pulang. Hanya ngopi aja.”

Afandi mengaku sangat menyayangi kehadiran para ekspatriat yang termasuk barisan pelanggan pertama Doma Dona Coffee. Tanpa diminta, para ekspatriat ini berperan serta membuat Doma Dona Coffee menjadi lebih baik dengan memberi kritik dan saran.

“Setelah mereka mencicipi kopi kita, comment-nya yang kita tampung. Kurangnya apa,” ujar Afandi yang sehari-harinya selalu menjaga hubungan dengan pelanggannya.

Kedekatan antara pelanggan dengan kedai kopi ini tak lepas dari bagaimana pelayanan yang diberikan. Tak hanya sekedar angin lalu, pendapat pelanggan bahkan mampu mempengaruhi bagaimana cara Doma Dona Coffee memanggang biji kopinya.

“Awal-awal sih kita nge-roasting light roast atau cinnamon roast, ternyata gak cocok sama lidah mereka. Mereka bilang itu terlalu watery atau terlalu enteng banget gitu,” papar Afandi. “Akhirnya kita memperbaiki segi roasting, kita mulai dari medium dan medium to dark level roasting-nya.”

Pelanggan kian doyan, penjualan kopi dari bulan ke bulan pun kian meningkat. Berkat pelanggan yang merasa didengarkan dan kedai kopi terus menerus berusaha memperbaiki diri, hubungan antar pelanggan dan kedai kopi pun semakin erat. Bahkan beberapa pelanggan setia selalu pamit setiap akan absen selama beberapa hari. Sebelum pergi, mereka membeli biji kopi untuk persediaan.

“Mereka bilang ‘sampai jumpa ya tiga hari lagi’,” kisah Afandi. “Berarti, mereka tuh gak ke sini, pasti mereka bilang.”

Incaran Pengguna Instagram

Memiliki kedai kopi nan rupawan untuk dipamerkan di akun Instagram rupanya bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan.

“Ada customer yang dateng cuma intinya minta foto tapi gak beli,” kenang Afandi. “Ya kita bolehin aja.”

Secara tidak langsung menggaungkan nama Doma Dona Coffee dengan cuma-cuma, pelanggan yang senang ‘numpang foto doang’ ini diterima Afandi. Namun, riuh-riuh ini bisa jadi tidak menyenangkan ketika kedai sedang ramai.

Dengan kejelian dan kepandaian menangani berbagai perangai pengunjung, Afandi mampu membuat pelanggan yang berfoto-foto tetap menyempatkan diri  menyicip kopi.

Berbeda dengan pelanggan lokal, pelanggan ekspat yang tiap hari selalu muncul lebih mengutamakan koneksi internet. Di saat pelanggan lokal sibuk posting foto di instagram, pelanggan ekspat menjadikan kedai kopi ini sebagai tempat bekerja.

“Saat wifi kita downhaduh wifi-nya, di Jepang dan Korea itu wifi-nya kencang-kencang sekali’, gitu,” papar Afandi tentang komentar para ekspatriat pelanggannya. “‘Kalau misalnya ada wifi-nya yang lama itu pasti sepi’, kita digituin sih.”

Sebisa mungkin memenuhi setiap kebutuhan pelanggan membuahkan kesetiaan. Apresiasi kepada barista juga tidak sungkan ditunjukkan oleh para pelanggan setia ini. Di tengah-tengah tren seduh manual dan kopi campur susu, para ekspatriat lebih gemar memesan kopi hitam murni.

Buat saya sih, itu mereka lebih menghargai kualitas kopi Indonesia,” ujar Afandi. “Saat kita memberikan harga 33ribu untuk black coffee mereka malah memberikan lebih untuk tip.  Terkadang mereka bayar 50 ribu gitu lupa kembalian, sering.”

Dengan suasana tenang dan rancang ruang nan rupawan, Doma Dona menghadirkan nikmat kopi asal Tana Toraja kepada mereka yang mencarinya.

Doma Dona Coffee
Jl. Wijaya I No. 9AB, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan, 12170

Hari buka: Senin – Minggu
Jam buka: Pukul 09.00 – 23.00 (Senin – Jumat)
Pukul 08.00 – 23.00 (Sabtu & Minggu)

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto & suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.

Informasi mengenai paten kopi Toraja di Jepang disadur dari artikel detik.com (25/6/2008)
‘Kasus Kopi Toraja Dibahas di EPA Jepang’. Diakses pada 23 Februari 2017.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply