Dipatok hingga 100 dollar AS per cangkir, Kopi Luwak identik dengan kemewahan dunia kopi. Dengan aroma kacang-kacangan dan tingkat keasaman yang lebih rendah, secangkir kopi luwak memberi tekstur kopi yang lebih halus di mulut. Namun fakta gelap di balik secangkir kopi luwak membuat pemilik perusahaan ritel di Inggris enggan menjualnya.

April 2016 lalu, tim peneliti asal Universitas Oxford mengamati 50 ekor luwak pada 16 penangkaran di Bali. Hasilnya temuan mereka membuat kita perlu mempertanyakan ulang kebanggaan kita pada Kopi Luwak.

#68_civets in cage_ULET IFANSASTI

Idealnya, luwak hidup di alam liar dan menyeleksi buah-buah kopi yang akan mereka makan, di antara asupan makanan mereka lain. Kenyataannya, demi menghasilkan 135 kg kopi per bulan, para luwak hidup ditangkarkan dan diberi makan hanya biji kopi. Mereka berakhir antara kekurusan atau malah obesitas. Ukuran sarang tempat mereka dipelihara juga sangat kecil.

“Sangkar-sangkar ini benar-benar sangkar terkecil yang pernah kami temukan—kami menyebutnya kandang kelinci. Basah dengan urin dan kotoran di mana-mana,” ujar Neil D’Cruze, salah satu peneliti. Tapi yang paling parah adalah kawat-kawat besi yang menjadi bahan dinding, atap, maupun lantai kandang para luwak.

“Berdiri berlama-lama di atas kawat besi seperti itu akan membuat lecet kaki dan pegal-pegal. Mereka tidak punya tempat berpijak yang lain,” papar D’Cruze. “Lantai macam itu menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman yang amat sangat.”

#68_civet wire cage_NICKY LOH

Sejak 2013, setidak-tidaknya 13 perusahaan ritel terkemuka—termasuk Selfridges dan Harvey Nichols asal Inggris–berhenti menjual kopi luwak dan berkomitmen untuk menyelidiki proses produksi di baliknya. Sosok yang pertama kali memperkenalkan kopi Luwak di tahun 1991, Tony Wild, mengaku menyesal.

“Kopi Luwak kini sudah hampir tidak eksklusif, sudah sangat terindustrialisasi,” keluhnya. “Makhluk malam ini sangat stress dikandangkan dekat dengan luwak-luwak lainnya.” Di bawah tekanan dan stress berkepanjangan, para luwak akan menggigiti kaki mereka sendiri, bertengkar dengan sesamanya, dan menghasilkan kotoran yang bercampur darah. Banyak di antara luwak-luwak ini kemudian sakit dan mati.

#68_civet dung_ULET IFANSASTI

Sementara para aktivis binatang menganjurkan agar kopi Luwak berhenti dikonsumsi sama sekali, para pemilik perusahaan ritel mengambil langkah lain. Usai melakukan penyelidikan hingga ke kandang Luwak, perusahaan-perusahaan ini memonitor dengan ketat asal biji luwak mereka. Petani luwak yang tertangkap mengandangi luwak mereka akan diputus kontraknya. Meski produksi biji kopi luwak akan turun, para petani luwak liar diuntungkan dengan bayaran 10 kali lebih besar dibanding petani luwak kandang.

Membaik ataupun memburuknya pengelolaan kopi luwak, Indonesia sudah terlanjur identik sebagai produsen kopi luwak. Chris Shepherd, direktur regional Asia Tenggara organisasi non-profit Traffic, menyebut Indonesia sebagai “sumber tren konyol ini”.

Hingga sekarang, belum ada komentar resmi dari pemerintah Indonesia mengenai kisruh masyarakat internasional akan produk kopi nusantara yang kerap dielu-elukan ini.

Disadur dari nationalgeographic.com, qz.com,
& perfectdailygrind.com

Foto sesuai urutan oleh Ulet Ifansasti, Nicky Loh, & Ulet Ifansasti

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply