Ketika membulatkan tekad akan kemari, ikhlaslah untuk nyasar. Sang pemilik, Randy Aliwarga, sudah terlebih dulu memperingatkan: dari 100 calon pengunjung, 95 orang terbukti nyasar.

Bertempatkan di tengah gang-gang sempit belakang perkantoran Kuningan, Fillmore Coffee tersimpan rapat-rapat di balik pagar hitam Seven at Suites. Tanpa palang penunjuk arah, serta palang nama yang tertutup sulur-sulur daun, Fillmore seolah minta tak ditemukan.

dsc_0300

dsc_0296 dsc_0310

dsc_0304

“Terus semua orang komplain, ‘Kenapa nggak taruh sign (penanda—red) di depan?‘,” Randy bercerita. Keluhan demi keluhan tidak menggoyahkannya. Sejak awal, Randy memang mempromosikan Fillmore sebagai hidden spot.

“Beda dong ceritanya kalau kita udah promote ‘hidden’ (tersembunyi—red), ternyata di depan saya taruh sign.”

Untuk Randy, curhat pelanggan soal nyasar-nya malah kerap jadi pencair suasana.

“Kita jadiin itu cerita,” ujar Randy. “Kita malah jadi ngobrol.”

dsc_0292

Randy Aliwarga, membangun Fillmore usai kuliah akuntansi.

Interior Serba Custom

Memasuki Fillmore, nuansa tenang memenuhi ruangan. Perjalanan susah payah mencari alamat pun tertebus sudah. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar, pencahayaan kuning temaram, limpahan cahaya alami, dan sentuhan-sentuhan interior organik, Fillmore bagaikan  ‘gua berlindung’. Terhindar dari keriuhan jalan besar, Fillmore bersahabat bagi mereka yang butuh istirahat sejenak dari kebisingan ibukota.

dsc_0333

Terdapat pula beranda mini semi-terbuka bagi mereka yang mencari udara segar. Ruang di lantai dua ini membuktikan bahwa kenyamanan bukan soal ukuran.

Sekilas, interior Fillmore terlihat serupa dengan sejumlah kedai kopi di ibukota lainnya. Meja kayu, dekorasi tanaman hidup, dan lampu-lampu dengan kerangka geometris seketika menarik mata. Namun, ada sentuhan antik yang membuat masing-masing dekorasi itu terlihat unik.

Selidik punya selidik, interior Fillmore memang tak akan ada duanya. Alih-alih beli bahan jadi, Randy memilih untuk menggali kembali koleksi gelondongan kayu milik ayahnya.

“ Ini sebenarnya bantalan kereta api,” ungkap Randy.  “Ini udah dibelah tiga, makanya ada yang kasar, ada yang alus. Sama kayak yang saya pakai di bawah. Buat meja.”

dsc_0363

dsc_0369

dsc_0350

dsc_0375

Set bohlam-bohlam lampu dengan kerangka besi asimetris yang menggantung di atas kasir pun merupakan rancangan Randy sendiri.

“Itu framenya benar-benar saya yang desain. Itu nggak bakal nemu ada yang jual,” papar Randy. “Saya lagi browsing lagi liat apa, ada karyanya siapa. Besoknya saya bikin, pakai besi behel.”

Di salah satu sisi ruangan, terpampang tulisan lampu neon ‘I Am Home’. Ini, juga bukan beli jadi.

“Itu literally tulisan calon istri saya. Betul-betul tulisan tangannya dikonversi ke neon. Persis, tulisan tangan,” papar Randy. “Saya nggak mau sekadar neon sign. Di mana-mana orang bisa bikin. Kalo yang di sini, nggak bakal bisa ditiru.”

Paling antik adalah ubin-ubin Fillmore, yang diangkut langsung dari rumah Randy. Umurnya kurang lebih empat puluh tahun.

dsc_0340 dsc_0338 dsc_0353

“Itu ubin di bawah nggak bakal bisa ketemu di mana-mana,” ujar Randy. Ia membawa setiap tegel ubin itu dari rumahnya yang bekas pabrik batik. “Semua orang bingung pas saya congkelin di rumah.”

Warna yang tidak lagi mengkilat, serta noda lilin batik mengering di sana-sini justru memberi sentuhan ‘usia’ yang Randy inginkan.


Singgah dari Luar Kota

Bermodal cerita di setiap jengkal interiornya, Fillmore berhasil menarik pelanggan dari pelosok ibukota. Terletak tepat di dalam kompleks apartemen, 90% pelanggan Fillmore justru berasal dari luar daerah.

“Kita kaget juga, ternyata yang antusias malah bukan orang sini,” papar Randy. “Kita dulu berani buka di sini, sebab kita mikir kita sudah ada pasar di sini.”

Sementara itu, para pemukim ‘Suites at Seven’ yang didominasi oleh kalangan ekspatriat asal Eropa dan Jepang tersebut lebih gemar memesan kopi untuk dinikmati sembari berkegiatan.

Untuk kedainya, pilihan biji kopi Fillmore tak jauh-jauh dari sensasi Amerika Latin. Kopi asal Brazil, Costa Rica, El Salvador, Guatemala, adalah beberapa di antara biji kopi yang langganan ‘singgah’ di Fillmore. Randy sendiri menggemari cita rasa ‘Ethiopia Misty Valley’ yang, sayangnya, terhitung langka di roastery langganannya.

dsc_0329
Turun Tangan Kalibrasi Harian

Randy mengakui, Fillmore menjagokan espresso sebagai minuman andalan. Khusus espresso, Randy memastikan ia sendiri yang akan turun tangan meramu untuk pelanggan.

“Saya dalam kalibrasi, hati-hati banget,” ungkap Randy. “Itu tuh yang namanya jantung coffee shop. Saya tuh, espresso.”

Hubungan yang cair dengan pelanggan tidak membuat Randy lengah soal kualitas.
Meski, saat hubungan antara pelanggan dengan kedai kopi sudah terbangun, niscaya kopi hanya jadi perantara. Rasa kurang pas? Bisa didiskusikan bersama. Salah satu penggagas ABCD School of Coffee, Ve Handojo, pun melakukan umpan balik berkala  saat berkunjung ke kedai kopi di dekat tempat kediamannya.

dsc_0291

Lebih dari sekadar memimpin kalibrasi, kegigihan Randy dalam mencari cita rasa yang pas untuk lidah pelanggannya ditandai dengan jaminan ia akan hadir setiap hari.

Dari 100 hari beroperasi, Randy menjanjikan bahwa dirinya akan absen sebanyak-banyaknya 5 hari saja. Sisanya, ia memandu para barista meracik kopi, merawat Fillmore yang menyimpan ketenangan di tengah sesak ibukota.

Fillmore Coffee
Suites at Seven Lt. 1

Jalan H.Sidik No. 7, Karet Kuningan, Setiabudi
 Jakarta Selatan, 12940

Hari buka: Selasa – Minggu
Jam buka: Pukul 08.00 – 20.00 (Selasa – Jumat);
pukul 09.00 – 21.00 (Sabtu & Minggu)

dsc_0346

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;
foto oleh Andreansyah Dimas.)

[PERBARUAN 9 Nov 10.16: Oleh karena ketidaksesuaian penempatan kutipan Randy Aliwarga mengenai pelanggan, redaksi Kopikini.com memutuskan untuk tidak menyertakan kutipan tersebut dalam artikel ini.] 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply