“Nggak jual kopi tarik?” “Kalo di Gayo nggak ada yang tarik. Punya Aceh aja itu.”

Viva Barista - Takengon-115

Orang Gayo seperti punya hubungan khusus dengan kopi. Kebanggaan dan rasa ‘unik’ itu tercermin dari jawaban peracik kopi di kedai Asa Coffee, salah satu kedai di dataran Gayo. Meski populer dengan nama Aceh Gayo, kopi asli dataran tinggi Gayo ini hanya satu dari sekian banyak varian kopi Aceh. Reputasi Gayo tidak datang serta merta.

Mulanya, Gayo jadi sempat ‘anak bawang’ dan dijual sebagai kopi ‘Mandailing’ yang sudah lebih dulu dikenal di pasar kopi dunia. Namun karakter heavy body-low acidity dan aroma khas Gayo terlalu kuat untuk berada di balik layar. Kini Gayo menjadi salah satu kopi Arabika yang paling banyak diminati di dunia kopi[1].

Viva Barista - Takengon-37

Viva Barista - Takengon-44
Konon,Gayo pertama dibawa oleh Belanda. Lika-liku Gayo pun pelik pada mulanya. Dulu, biji kopi Gayo jarang ada yang matang sempurna. Di masa perang, ladang kopi tak lolos dari bahaya kontak senjata. Biji kopi pun dipetik sembunyi-sembunyi, ngibrit begitu ada kesempatan.

Masa-masa sulit usai, Gayo kini tumbuh subur melebur dengan masyarakat Gayo. Jauh ke pelosok gampong (desa) Wih Tenang Uken, kami menyaksikan sendiri tumbuh kembang Gayo di tengah kampung halamannya. Di desa yang namanya berarti ‘Air Tenang di Bagian Atas‘, kalau namu santunnya kudu ‘ngopi’. Hasan Basri, tokoh masyarakat setempat, mendongengkan asal muasal kopi Gayo sembari berlesehan.

Viva Barista - Takengon-91

Viva Barista - Takengon-97
“Orang sini malu kalau nggak ada kebun kopi,” Hasan memulai.

Gayo di tengah Wih Tenang Uken bukan cuma soal ekonomis, tapi juga harga diri. Tidak seperti di Medan, biji-biji kopi terbaik Gayo justru disimpan untuk dinikmati sendiri. Sisanya barulah dikirim ke berbagai pelosok Indonesia dan mancanegara.

Viva Barista - Takengon-106
Viva Barista - Takengon-105
Turun temurun sejak zaman Belanda, kebun kopi menjadi harta warisan masyarakat Gayo. Memiliki kebun kopi juga lebih dari cukup untuk menunjang kehidupan ureung-ureung Gayo. Hanya dengan 0,5 hektar sawah, kuliah anak di Jakarta sampai lulus terjamin sudah.

Viva Barista - Takengon-118

Tatkala bapak-bapak Gayo menemani kami menikmati kopi sambil meleseh, ibu-ibu Gayo turun memetik ke kebun kopi. Bersenjatakan sarung tangan untuk melindungi biji kopi dari kotoran dan luka, para perempuan nampak hati-hati memilah dan memanen biji unggulan.

Di tengah-tengah hamparan kebun kopi dan kampung yang masih asri ini, berdiri gudang besar tempat penyimpanan dan penjemuran biji kopi. Dirawat dengan hati dan diperlakukan dengan hati-hati, rasa dari setiap butir biji Gayo longberry tak ada duanya.

Viva Barista - Takengon-110
Viva Barista - Takengon-108

Viva Barista - Takengon-74             Viva Barista - Takengon-67 (1)

Viva Barista - Takengon-54
[1] ‘Produktivitas Kopi Belum Optimal‘, Kompas 18 November 2015

Disadur dari Viva Barista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply