Dari 64 peserta seluruh Indonesia, Latte art Throwdown ALASKADABRA 2016 meloloskan Guntur Mukti dari Headline Espresso & Brewbar (Jakarta) untuk berangkat ke Seoul International CafeShow di Korea Selatan, 10-13 November 2016.

dsc01941

Para pemenang Latte Art Throwdown ‘ALASKADABRA’ 2016. Kiri ke kanan: Achmad Chomarudin (Juara III), Guntur Mukti (Juara I), & Hadi Mulyadi (Juara II).

Setelah melewati empat tahap penyisihan, Guntur Mukti beradu dengan Hadi Mulyadi dari Coffeesmith di babak final. Keduanya harus membuat 1 cangkir cafe latte yang menyamai motif ‘Flirting Peacock’ dan 1 cangkir piccolo yang menyamai motif ‘Love Triangle’ karya pemenang World Latte art Championship 2016, Caleb Cha.

dsc01871

Caleb Cha, juri sekaligus pemenang World Latte Art Championship 2015, melukis ‘Love Triangle’ di atas permukaan piccolo untuk acuan babak final.

Guntur mempersiapkan diri selama 3 minggu untuk pertandingan ini. Meski sudah beberapa kali mengikuti pertandingan barista baik di skala nasional maupun bergaya throwdown, Guntur mengaku masih akrab dengan perasaan gugup di atas panggung.

“Kendala paling gede di kompetisi adalah nervous dan pressure. Saya harap barista bisa ngendaliin itu, sih,” ungkap Guntur Mukti, pasca menerima piala kemenangan, Sabtu (15/10).  “Karena ketika bisa tenang, stage is like your cafe. It’s like your home.”

Dengan penjurian sistem voting buta (blind voting), beberapa kali terjadi perbedaan pilihan (split decission) saat penentuan hasil pertandingan. Latte art yang ditunjuk Caleb Cha bisa jadi tidak ditunjuk oleh dua juri lainnya, John Chendra dan Vito Adi. John Chendra, juri tersertifikasi World Latte art Championship, pun beberapa kali harus merelakan pilihannya yang tumbang oleh voting Caleb & Vito. Tak terkecuali di babak final ini.

Saat hitungan ketiga, telunjuk John & Vito jatuh pada dua latte art yang berbeda. John menjagokan Hadi, dan Vito menunjuk karya latte art Guntur. Sepersekian detik, telunjuk Caleb Cha masih menggantung di udara dan sukses membuat penonton menahan napas, sebelum akhirnya jatuh pada latte art karya Guntur.

dsc01932

Penyelenggara, para juri, &  para pemenang ALASKADABRA 2016. Kiri ke kanan: Ve Handojo, Vito Adi, Achmad Chomarudin, Hadi Mulyadi, Guntur Mukti, Caleb Cha, & John Chendra.

Menurut John Chendra, faktor detail lah yang jadi penentu keputusan juri di pertandingan kali ini.

“Kalau dibilang mirip dengan punya Caleb—saya lebih anggap yang punya Hadi lebih mirip,” jelas John, atas pilihannya yang berbeda dengan dua juri lainnya. Selain karena kemiripan motif, John Chendra menilai karya latte art Hadi ‘lebih dinamis‘, dengan kualitas yang kopi lebih bagus, dan kontras antar layer yang jelas.

“Tapi di hal-hal detail itu bisa menjatuhkan sebetulnya,” lanjut John.

Ia mengungkap beberapa detail yang ‘hilang’ dari latte art milik Hadi.

“Seperti ‘hati’. Hati yang di kopi Caleb seharusnya ada 5, dan di Hadi, dia bikin 3. Guntur bikin 5, dengan sempurna. Udah gitu arahnya si Hadi juga salah. Yang ekor bawahnya itu salah, ke kanan, mestinya ke kiri,” papar John.

Ia juga menambahkan, bahwa faktor simetris jadi poin penting saat pertimbangan.

“Jadi beberapa detail ini yang kayaknya membuat dua juri lain milih Guntur.”

dsc01877

Motif latte art ‘Flirting Peacock’ karya Caleb Cha, acuan babak final.

Sementara Juara II diraih oleh Hadi Mulyadi dari Coffeesmith (Jakarta), Ahmad Chomarudin dari BC Street Coffee (Bali) menempati Juara III, disusul oleh Vela Valentina dari Society Coffee House (Purwokerto) di posisi ke-4.

Latte art Throwdown ‘ALASKADABRA’ ini merupakan bagian dari Jakarta Coffee Week 2016, binaan ABCD School of Coffee, 15-16 Oktober 2016. Sukses mengadu 48 peserta di 2015, ALAS-KADABRA 2016 menjadi panggung bagi 64 peserta dari seluruh Indonesia.

(Foto oleh Andreansyah Dimas;
liputan oleh Andreansyah Dimas & Klara Virencia;
tulisan oleh Klara Virencia)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply