Banyak, Coffeemates. Peserta-peserta ini bahkan rela merogoh kocek 2,5juta rupiah demi kelas roasting selama dua hari. Kelas panggang kopi oleh Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) tersebut diadakan di tengah acara Konvensi Kopi, Teh, dan Coklat (KKTC) Indonesia 2017, Jumat (19/5) & Sabtu (20/5) lalu.

Eric Susandi, pelatih kelas roasting tersebut, mengakui bahwa minat akan kelas roasting meningkat sejak tahun 2013. Eric mengamati, kebanyakan peserta berasal dari kalangan petani yang ingin ‘level-up’, pengusaha, dan pekerja yang memasuki masa pensiun. Menurutnya, model usaha roasting cukup menjanjikan karena membutuhkan modal yang tidak sebesar membuka kafe.

Para peserta kelas roasting AEKI di acara KKTC 2017, Sabtu (20/5).

Eric Susandi, Sekretaris Eksekutif AEKI Bidang Pelatihan dan Bisnis, yang rutin menjadi pelatih kelas roasting.

“Secara investasi, roastery itu dibandingkan buka kafe atau coffeeshop, cenderung low cost investment,” papar Eric, turut menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Pelatihan dan Bisnis AEKI. “Karena enggak memerlukan space yang besar. Selagi dia mempunyai mesin roaster, ada green beans, bisnisnya bisa jalan.”

Seperti halnya dunia seduh-menyeduh, dunia panggang memanggang kopi juga diwarnai tren yang silih berganti. Misalnya, karakter light roast atau panggang pucat yang dipercaya mengeluarkan karakter fruity sempat populer beberapa waktu lalu. Namun, papar Eric, sensasi fruity atau buah-buahan ini terlalu asam untuk lidah sebagian orang. Karenanya, Eric mengamati, tren profil panggang kopi kini kembali bergeser.

“Sekarang mulai lagi kembali ke habitat aslinya, yaitu mengurangi rasa asamnya,” jelas Eric. Ia mengingatkan tentang lidah orang Indonesia yang terbiasa dengan kopi panggang gelap (dark roast). “Jadi lebih less acid, sekarang.”

Namun Eric tidak semata mengajar sesuai dengan tren. Turut merangkap kelas cupping, kelas roasting dari AEKI ini memaparkan pengetahuan tentang kopi secara umum, pengenalan mesin roaster, dan teknik roasting. Intinya, segala macam hal yang dibutuhkan peserta agar tahu caranya me-roasting dengan baik dan benar sesuai dengan jenis green beans atau beras kopinya.

“Kopi yang sama, digoreng tingkat kematangan yang sama, tapi dengan teknik yang berbeda—itu bisa memberikan cita rasa yang beda,” papar Eric, mencontohkan salah satu materi kelas roasting.

Di tengah banjir informasi lewat internet maupun buku, otodidak mungkin menjadi pilihan utama untuk beberapa orang. Sebagai pelatih kelas roasting, Eric mendukung semangat otodidak tersebut. Dengan catatan, mereka yang belajar secara otodidak tetap bertanya kepada praktisi yang sudah berpengalaman.

(Liputan & tulisan oleh Klara Virencia.
Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply