Home Brewing, atau menyeduh kopi sendiri di rumah, bisa jadi masih terasa asing bagi kita yang terbiasa mampir ke coffee shop. Padahal, ini lebih dari sekadar soal penghematan biaya ngopi-ngopi di kafe. Dari rutinitas kecil ini, kita dapat menggelitik coffee shop untuk membuat secangkir kopi yang lebih nikmat.

Ada dua anggapan yang kurang tepat mengenai menyeduh kopi sendiri di rumah.

Pertama, “Wah, rumit itu!”

DSC_0084

Sederhana saja. Teko, termometer dapur, penggiling manual (manual grinder), timer, dan biji kopi pilihan sudah lebih dari cukup.

Anggapan ini bermula dari foto-foto di Instagram yang menunjukkan “seni manual brew”, lengkap dengan gerakan menuang berputar dari teko berleher angsa, serta seperangkat alat-alat seduh yang tampak geeky nan mahal.

Sesungguhnya, titik awal menyeduh kopi bukanlah soal pakai French press atau AeroPress atau Kalita Wave. Bukan juga teko-teko cantik itu. Alih-alih alat penyeduh yang cantik, gilingan kopi alias grinder jauh lebih penting untuk dimiliki. Untuk anda yang baru akan memulai, jangan ragu menggunakan manual grinder seperti Porlex atau Hario Skerton yang pemakaiannya sederhana dan harganya ramah.

DSC_0086

Penggiling biji kopi manual, alias manual grinder.

Dengan menggiling kopi sendiri sesuai takaran, bahkan kopi tubruk sederhana pun rasanya akan lebih kaya dan penuh aroma. Tidak ada rumitnya.

Kedua, adalah anggapan bahwa menyeduh kopi di rumah tidak berarti lebih. Hanya sekadar menghemat biaya ngopi-ngopi di kafe.

“Ngapain repot-repot bikin sendiri?”

Bagi kebanyakan orang saat ini, ke coffee shop adalah sebuah acara. Acara kumpul-kumpul dengan teman-teman, atau rapat, atau foto-foto. Bukan kebiasaan dan bukan kebutuhan. Ke coffee shop adalah sebuah “kekinian”, bukan “keseharian”.

Padahal, biaya untuk minum kopi di coffee shop akan mencakup banyak hal: minuman kopinya sendiri, makanan pendamping, biaya air putih premium (di beberapa coffee shop), biaya transportasi, “biaya” stress di jalan, dan sebagainya.

DSC_0099

Air mendidih malah akan menghilangkan rasa kopi. Idealnya, suhu air untuk menyeduh kopi berada di kisaran 90-96 derajat celcius.

Namun, lebih dari sekadar soal penghematan, homebrewing alias menyeduh kopi sendiri adalah sebuah perubahan gaya hidup.

Kebiasaan menyeduh kopi sendiri akan mengubah sudut kecil di rumah–atau mungkin kantor–menjadi coffee shop pribadi kita. Saat-saat menyeduh kopi sendiri juga menjadi break time buat kita. Konsentrasi ke pekerjaan dan kesibukan sehari-hari akan teralihkan untuk beberapa menit ke ritual menyeduh yang menenangkan.

Dari sekadar memenuhi kebutuhan asupan kafein harian, kita akan terpacu untuk menghasilkan segelas kopi yang lebih enak di rumah sendiri. Artinya, kita akan mengulik lebih dalam. Artinya, kita akan paham lebih banyak mengenai seduh-menyeduh kopi.

Perubahan ini akan membuat kita memikirkan kembali gaya hidup ‘mampir’ ke coffee shop.

Perlukah repot-repot dan bayar lebih mahal?
Perlukah berada di satu ruangan dengan pengunjung coffee shop yang ramai-ramai mengobrol dengan suara lantang?
Bukankah kita ingin menikmati kopi dengan lebih tenang dan syahdu?

Ketika fokus kita hanya tertuju pada kopinya, maka suasana dan disain sebuah coffee shop jadi tidak begitu penting.

DSC_0093

Kini, sudah banyak kedai yang menjual kopi dalam bentuk biji.

Akhirnya, waktu kita berada di rumah akan lebih banyak. Jatah waktu satu-dua jam yang biasa kita gunakan untuk pergi, nongkrong, ngobrol lalu pulang dari coffee shop akan beralih menjadi waktu yang kita habiskan di rumah. Dalam banyak kasus, kebiasaan menyeduh kopi sendiri bahkan menjalar jadi kebiasaan menyiapkan makanan sendiri. Gaya hidup akan semakin hemat, semakin sehat, dan semakin domestik.

Kita akan bepergian ke luar hanya untuk hal-hal yang esensial. Kita akan mengunjungi coffee shop benar-benar untuk kopinya, bukan hanya suasana.

DSC_0102

Dalam hal ini, home-brewing adalah sebuah revolusi mini. Ia melahirkan banyak konsumen yang lebih paham kopi. Konsumen akan mampu berkomunikasi lebih lugas dan akrab dengan para barista dan pemilik kedai kopi. Konsumen akan jadi lebih kritis terhadap kualitas kopi. Dari sana, barista dan pemilik kedai kopi akan terdorong untuk senantiasa meningkatkan produk dan pelayanan mereka.

Bukannya jadi momok, home-brewers malah menjelma jadi partner coffee shops dalam menyempurnakan kualitas secangkir kopi. Karenanya, makin banyak akan makin baik.

Ve Handojo
ABCD School of Coffee

Ve Handojo

About Ve Handojo

Ve Handojo adalah seorang penulis sekaligus salah satu pendiri ABCD School of Coffee dan Ruang Seduh. Ia juga menjadi juri di berbagai kompetisi kopi. ABCD School of Coffee juga menyelenggarakan kompetisi-kompetisi kopi berskala nasional. Instagram: @vehandojo @abcd_coffee.

2 Comments

  • Untuk share ke IG atau Facebook tentang artikel ini belom bisa ya?
    Soalnya saya mau share tapi gak nemu tulisan sharenya hehe *piss

    • Kopikini says:

      Sila arahkan kursor anda ke kotak abu-abu bertuliskan ‘shares’, di kolom atas ‘author’, kotak paling kiri.
      Niscaya banyak tombol pilihan media sosial di sana. Memang mereka agak-agak ngumpet, sih.
      Nanti coba kami bikin lebih kelihatan.
      Trims ya feedbacknya 🙂

Leave a Reply