Mesin espresso mungil yang terpampang di bar Homebound Coffee itu suatu ketika pernah mengundang komentar pedas dari pelanggan.

“Kenapa nggak bermodal? Beli mesin yang gede?” cecar pelanggan itu, melirik Rocket tipe domestic pilihan Syarif Wahyudi, sang pencetus Homebound Coffee. Dirancang untuk penggunaan rumahan, mesin itu berukuran setengah dari mesin espresso kedai-kedai kopi pada umumnya.

DSC_0270

Syarif Wahyudi, pemilik Homebound Coffee, bersama mesin espresso Rocket pilihannya.

Lu ‘kan nggak ada sewa,” lanjut si pelanggan, mengomentari kedai kopi yang terletak di depan rumah Syarif sendiri. “Kenapa lu nggak invest mesin yang bagus?”

Syarif dengan anggun menjawab singkat.

“Ya, mesin segini cukup kok, Oom. Cobain dulu aja.”

Kunjungan itu ia terima tidak sampai seminggu pertama Homebound Coffee buka.

“Itu lumayan shocking buat kita, yang baru bener-bener buka,” ujar Syarif. Ia berpartner dengan Marcell Lukman dalam menjalankan kedai kopi yang terletak di daerah perumahan Kelapa Kopyor, Kelapa Gading, Jakarta Utara itu. Nyaris tersembunyi di antara rumah tinggal lainnya, pintu kuning milik Homebound Coffee instan menangkap mata dan jadi penanda.

DSC_0718

DSC_0681

Sejak awal memang tertanam dalam diri Syarif, bahwa secangkir kopi lebih dari sekadar soal mesin kopi yang dipakai.  Ilmu menyeduh kopi ia dapatkan dari sesi-sesi singkat setiap Sabtu pagi di kedai kopi Coffee Tree, Kelapa Gading.

Kala itu, Coffee Tree merupakan pionir kedai kopi spesial (specialty coffee) di Kelapa Gading. Kadung sering nongkrong, Syarif dan partnernya pun banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan pemilik Coffee Tree.

“Di situ akhirnya sempet diajarin bikin kopi sama ownernya. Dia owner sekalian barista kan,” ujar Syarif. “’Lu sini aja. Lu sering banget ngopi, belajar sini bikin kopi.’ Fast course, fast course gitu.”

Kehangatan di Kedai ‘Rumahan’

Senapas dengan namanya, Homebound Coffee menguarkan nuansa ‘rumahan’. Tempat duduk yang tidak berjauhan, atmosfir ruang tamu, lengkap dengan sapaan berbalut senyum untuk mereka yang datang.

DSC_0702

Di beberapa kedai kopi yang sering ia hampiri, Syarif mendapat perlakuan hangat layaknya anggota keluarga.  Di kedai kopi langganannya, daerah Pantai Indah Kapuk, sudah tidak janggal bagi Syarief untuk diaku sebagai ‘anak’ di hadapan pelanggan lainnya. Di Coffee Tree, acara makan bersama setiap malam Natal dan tahun baru wajib hukumnya.

“Tahun baru, tiba-tiba mereka telepon, ‘Eh, yuk ke sini. Kita makan-makan lagi‘,” ujar Syarif, mengenang kali pertama ia mendapat undangan makan-makan tahun baru dari pemilik Coffee Tree. Sebelumya, mereka sudah sempat menghabiskan malam Natal bersama.  “Jadi benar-benar kayak family banget.”

DSC_0686

Lucunya, nuansa kekeluargaan itu juga merebak di antara para pemilik kedai kopi di Kelapa Gading. Bukannya ‘bersaing‘, mereka malah saling merekomendasikan satu sama lain.

Coffee shop ownernya tuh banyak yang kayak—‘Oh udah cobain ini belum?’ ‘Udah cobain si ini belom?’—jadi mereka sharing,” papar Syarif. Atau menurut istilah salah satu pelanggan asal Sunter, ‘sodor-sodoran’ antar kedai kopi.

Beberapa kali, Syarif kedatangan peminat kopi dari luar daerah yang sengaja datang untuk mengulik ragam kopi daerah Kelapa Gading. Kala mereka meminta rekomendasi kedai kopi untuk disambangi, Syarif gesit membisikkan satu-dua nama untuk dihampiri. Lebih dari sebagai rekan bisnis, Syarif juga seorang pelanggan. Setiap hari libur kedai di hari Selasa, Syarif rutin ‘main’ ke kedai-kedai kopi di sekitarnya. Sementara para pemilik kedai  kopi di daerah itu tutup di hari Senin, mereka datang bertamu menikmati suasana ‘rumahan’ di Homebound Coffee.

‘Menjebak’ Peminum Non-Kopi

Menjadi magnet untuk para penggemar kopi di daerah sekitar? Tidak jadi masalah untuk Homebound Coffee. Namun, menggiring pengunjung yang enggan minum kopi menjadi pecandu kafein? Itu seni tersendiri. Di kedai kopi Rubiaceae, Fanny Winardi melakukannya lewat cerita. Di Homebound Coffee, Syarif Wahyudi punya cara yang berbeda.

DSC_0273

Alkisah ada seorang pelanggan perempuan yang khusus meminta minuman non-kopi.

“Sampe kita stok taro latte. Cuma untuk dia aja, karena nggak ada yang pesen lagi,” kisah Syarif. “Dan kita juga nggak masukin ke menu.”

Perlahan-lahan, tawaran demi tawaran kian dilancarkan. Pesanan sang penggemar taro bergeser menjadi cafe-latte. Dari latte bergeser ke cappuccino. Kini, cold brew lah yang jadi menu andalan si perempuan.

“Dia udah jarang banget minum yang taro,” ujar Syarif,  senang stok ‘taro’-nya kini menganggur. “Sampe udah nggak disentuh lagi.”

Adapula kisah seorang pelanggan yang selalu keukeuh memesan affogato di setiap kunjungan. Beruntung, Syarief telaten menunggu momen. Setelah sekian kunjungan, barulah ia kenalkan si pelanggan pada nikmat cappuccino. Kini, si bapak affogato fasih memesan piccolo.

Selain ‘meladeni’ selera pelanggan non peminum kopi, Homebound Coffee juga punya dua minuman pamungkas untuk mereka yang tidak terbiasa dengan kopi ‘keras’.

DSC_0688

Iced Salted Caramel Coffee, yang merupakan signature drink Homebound Coffee, menyeimbangkan rasa manis-asin dan menjanjikan rasa kopi yang ‘tidak terlalu kopi’.

Bagi pecinta cokelat, Iced Choco Malt, yang merupakan perpaduan antara espresso dan susu cokelat, bisa jadi pilihan. Usai berkenalan berkenalan dengan rasa pahit di bagian atas, lidah pelanggan akan dimanja rasa manis a la dari susu coklat di bagian bawah.

DSC_0280

Iced Choco Malt, menjanjikan pahit espresso di lapis atas dan manis susu coklat di lapis bawah.

Untuk menikmati penuh alur sensasi Iced Choco Malt, minuman pahit-manis ini tidak perlu diaduk. Nikmati saja perlahan. Tanpa sadar lidah anda dimanjakan kenikmatan.

DSC_0278

DSC_0261

Homebound Coffee
Jl.  Kelapa Kopyor Raya Blok CC 1 No. 1, Kelapa Gading
Jakarta Utara, 14240

Hari buka: Senin, Rabu – Minggu
Jam buka: Pukul 10.00 – 21.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply