Rangkaian kompetisi kopi internasional World of Coffee Budapest, Hungaria, baru saja usai Kamis (15/6) lalu. Juara-juara baru dalam dunia kopi internasional pun sudah terpilih. Kontingen Indonesia, Harison Chandra untuk WBrC, Ovie Kurniawan untuk WLAC, dan Dimas Juliannur Fajar untuk WCTC juga sudah memberikan penampilan yang membanggakan.

Berikut adalah nama-nama para juara dari empat cabang kompetisi di World of Coffee Budapest 2017:

Juara World Coffee in Good Spirits (WCiGS) 2017, Martin Hudak dari Slovakia

Setelah tahun lalu menempati posisi juara ke-2, Martin Hudak sang bartender senior di The American Bar at The Savoy Hotel London mengantongi gelar juara World Coffee in Good Spirits (WCiGS) 2017. Meski tinggal dan bekerja di London, Inggris, Martin Hudak tetap mewakili negara asalnya, Slovakia, dalam kompetisi internasional World Coffee in Good Spirits kali ini.

Kepada juri, Martin Hudak mempersembahkan Irish Coffee dengan menggunakan campuran kopi Los Lajones Estate Geisha dari Panama dan susu dari sapi jersey. Tak ada wakil Indonesia dalam cabang kompetisi ini, namun penampilan Martin Hudak cukup mencuri perhatian.

Sprudge sampai menyatakan, “Penyampaian Martin Hudak yang penuh gairah, digabung dengan musik dari Planet Earth, memastikan tidak satupun penonton pergi tanpa merasa merinding.”

Juara World Brewers Cup (WBrC) 2017, Chad Wang dari Taiwan

Juara ke-3 World Brewers Cup (WBrC) 2016, Chad Wang, kini berhasil meraih gelar juara seduh kopi dunia. Tidak tanggung-tanggung, Chad Wang mencoba setidaknya 300 jenis kopi berbeda sebelum bertanding tampil di Budapest. Hingga akhirnya, ia memilih kopi ke-227 yang ia coba–Geisha Estates dari Boquete, Panama–untuk dibawa ke kompetisi dunia.

Menggunakan metode seduh V60 dari keramik untuk menjaga kestabilan temperatur, Chad Wang menyeduh 15 gram kopi dengan 250ml air di suhu 92°C. Hasil akhirnya, ia menyajikan 220ml kopi untuk tiap juri. Nampaknya aroma buah persik, melon, dan butterscotch yang ia janjikan sampai ke indra penciuman para juri. Ditambah rasa melon, persik putih, jeruk dan karamel dengan likuor pisang serta kiwi di akhir rasa, para juri pun sepakat menobatkan Chad Wang menjadi juara dunia. Seduhan Chad, dengan keasaman seperti buah nanas ditambah rasa manis seperti madu, menjadi yang terbaik dari total 40 peserta.

Juara World Brewers Cup (WBrC) 2017, Chad Wang dari Taiwan.

Perwakilan dari Indonesia, Harison Chandra, mempersembahkan kopi Finca Deborah Geisha dari Panama kepada para juri. Ia mengalami sedikit kendala akibat kettle yang tidak bekerja dengan baik. Tatkala mengejar suhu 95°C, kettle yang ia gunakan berhenti memanaskan di suhu 85°C.

“Gak inget gimana bisa kejadian. Tapi waktu itu aku liat kettle-nya menunjukkan angka di 85°C. Pada dasarnya, aku harus memutuskan harus ngapain dan akhirnya aku mutusin buat lanjut aja karena udah gak ada waktu buat nunggu,” ujar Harison pada tim kopikini.com, melalui pesan pribadi dari akun sosial medianya, Jumat (16/6).

Harison Chandra, wakil Indonesia untuk WBrC 2017.

Juara World Latte Art Championship (WLAC) 2017, Arnon Thitiprasert dari Thailand

Pemilik kedai kopi Ristr8to dari Thailand, Arnon Thitiprasert, kini mengukuhkan posisinya sebagai yang terbaik dalam dunia lukis-melukis kopi. Arnon mengaku sudah memiliki target untuk menjadi juara dunia sejak bekerja bersama Jack Hanna—pemenang World Latte Art tahun 2007—ketika di Sydney.

Mengambil tema ‘Hutan di Bawah Bulan Purnama’, Thitiprasert menggambar “Kelinci Meloncat di Pohon” dan “Rusa Menengok ke Belakang” untuk free pouring, serta “Rubah Berjalan” untuk designer latte art. Seakan, Thitiprasert membawa para juri dalam sebuah perjalanan ke hutan dan melihat kehidupan hewan liar.

Wakil dari Indonesia, Ovie Kurniawan, membawakan “Kuda Laut” untuk free pour, “Panda Kembar” designer latte dan “Singa” untuk art bar.

“Kemampuan Ovie sudah berkembang jauh,” ujar Harison Chandra, sebagai sesama kontingen dari Indonesia. “Dan kami sudah berencana sebagai tim untuk bagaimana menjadi lebih baik lagi tahun depan.”

Motif ‘Twin Panda’ Ovie Kurniawan untuk teknik designer’s latte.

Motif ‘seahorse’ Ovie Kurniawan untuk teknik free pour.

Motif ‘lion’s face’ Ovie Kurniawan untuk babak art bar.

Juara World Cup Tasters Championship (WCTC) 2017, Lok Chan dari Hong Kong

Kompetisi ini dimenangkan oleh wakil dari Hong Kong, Lok Chan, dengan tebakan sempurna 8 dari 8 pada saat final dalam waktu 4 menit 46 detik, mengalahkan Satsuki Amano wakil dari Jepang dan Freda Yun dari Inggris.

Tidak ada juri atau presentasi, hanya bermodalkan sendok cupping dan kepekaan lidah luar biasa untuk lomba yang satu ini. Keseruan menonton cabang kejuaraan ini tidak perlu dipertanyakan. Terlebih, ketika kamu mendukung salah satu jagoan. Tentu saja, sorakan semangat semakin riuh dengan kehadiran Dimas Juliannur Fajar mewakili Indonesia.

Dimas mengaku mempersiapkan diri dengan berpuasa, sejak sebulan sebelum penyisihan nasional di Kuningan City pada Februari 2017 hingga kejuaraan internasional di Budapest. Dalam babak penyisihan pertama, Dimas berhasil lolos ke babak perempat final dengan nilai 7 dari 8 dalam waktu 6 menit 41 detik. Akhirnya, ia menempati posisi ke-13 dunia di WCTC 2017.

Dari tiga wakil Indonesia untuk tiga cabang kompetisi, hanya Dimas yang lolos hingga ke babak perempat final. Sebagai sesama juara nasional yang baru pertama kali mengikuti kompetisi, Harison dan Dimas mengaku pengalaman mewakili Indonesia dalam panggung kompetisi kopi internasional adalah sebuah pengalaman luar biasa.

Juara World Cup Tasters Championship (WCTC) 2017, Lok Chan dari Hong Kong.

(Disadur dari worldcoffeeevents.org & sprudge.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto disadur dari dokumentasi worldcoffeeevents.org,
& dokumentasi pribadi Ovie Kurniawan.
Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply