Menginjak usia yang ke-10 tahun ini, Anomali Coffee memutuskan untuk menggandeng ALUN-ALUN Grand Indonesia untuk mengkampanyekan gerakan #CeritainKopiIndonesia.

Menjadi saksi naik-turun industri kopi jauh sebelum tren kedai kopi yang berjamuran muncul di setiap pengkolan, Irvan Helmi selaku salah satu penggagas Anomali Coffee mengakui bahwa ada pergeseran tren minum kopi selama satu dekade ini.

Irvan Helmi, salah satu penggagas Anomali Coffee di konferensi pers kampanye #CeritainKopiIndonesia, Kamis (9/3) lalu.

“Lama kelamaan, kita lihat kalau kopi lama kelamaan itu udah jadi lifestyle,” ujar Irvan Helmi, saat sesi berbagi di ALUN-ALUN Grand Indonesia, Kamis (8/3). “Udah lifestyle, bahasannya jadi lebih universal, gitu lho.”

Di tengah tren spesialti yang memberi perhatian peminum kopi pada asal muasal biji kopi, Irvan mengamati bagaimana ritual minum kopi berubah jadi lebih dari soal mencari suntikan kafein di pagi hari.

“Dari jualan kopi, jadi jualan rasa. Dari jualan rasa, jadi jualan cerita,” tandas Irvan Helmi.

Irvan mengakui, Anomali Coffee sempat merasakan masa-masa di mana kopi ‘ice-blended’ menjadi minuman favorit para pengunjung. Setia pada tagline ‘Mengusung Kopi Indonesia’ sejak awal berdirinya di tahun 2007, Anomali Coffee senantiasa menyajikan kopi dari empat pulau besar penghasil kopi di Indonesia. Menariknya, imbuh Irvan, saat ini penjualan ‘ice-blended’ kian menurun seiring dengan penjualan kopi panas yang kian meningkat.

Setengah bergurau, Irvan menuturkan bagaimana barista-baristanya kini tak perlu jungkir balik menyeduh dengan alat-alat seduh ‘ajaib’ macam Siphon untuk meyakinkan pelanggan agar membeli secangkir kopi panas. Dalam kacamata Irvan, semakin banyak yang tertarik untuk mencoba kopi Indonesia dalam wujud ‘apa adanya’.

Agam Abgari, rekan Irvan Helmi dalam mendirikan dan membesarkan Anomali Coffee.

Namun di kala kopi lokal semakin dikenal, tren spesialti turut membawa serta popularitas kopi-kopi dari luar Indonesia. Agam Abgari, penggagas Anomali Coffee lainnya, melihat bahwa ada kecenderungan untuk mencari sesuatu yang baru di antara peminum kopi Indonesia. Alhasil, belum sempat kopi Indonesia mencapai klimaks popularitasnya, kopi luar Indonesia datang menyalip perhatian para peminum kopi lokal.

Sementara kopi luar Indonesia kian dielu-elukan di dalam negeri ini, kopi Indonesia sendiri kian diminati oleh peminum kopi mancanegara. Hal ini diamini Asri Wijayanti, pengelola gerai OLAH OLEH di ALUN-ALUN Grand Indonesia yang menjajakan souvenir bernuansa kearifan lokal. Asri memaparkan, 50% lebih dari penjualan gerai OLAH OLEH berasal dari souvenir dalam bentuk kopi.

Kabar baiknya, di tataran ‘hulu’ industri kopi, kini kian banyak anak-anak muda turun tangan. Jika sebelumnya urusan kebun kopi identik dengan generasi tua, Irvan melihat ada regenerasi yang mulai terjadi.

“Sampai ke Jawa Barat kita lihat justru movement-nya hulunya kopi itu banyak dipengaruhi sama anak-anak muda yang nyemplung jadi petaninya,” ujar Irvan.

Irvan menganggap peralihan ini sebagai sinyal positif bagi industri kopi. Selain turun langsung ke industri kopi, pergerakan muda-mudi dalam merayakan kopi turut nampak dalam semangat berkarya seni. Terpajang di sudut Palalada Restaurant ALUN ALUN Indonesia saat konferensi pers Kamis (8/3) lalu, adalah batik bermotif kopi karya Try Setyohadi. Batik berjudul ‘Pondok Kopi’ yang berlatarkan kisah awal masuknya kopi ke Indonesia lewat daerah Pondok Kopi di Jakarta ini merupakan pemenang Jakarta Souvenir Design Award 2014.

Presiden Direktur ALUN-ALUN Indonesia, Pinky Sudarman, menceritakan kisah di balik terciptanya ‘Batik Pondok Kopi’.

Agam sendiri menaruh harapan pada kaum-kaum muda dalam memajukan industri kopi. Kampanye #CeritainKopiIndonesia ia rangkai bersama Irvan agar semangat ini lestari di antara kaum muda-mudi. Menggandeng ALUN-ALUN Grand Indonesia dan Arterous dalam kampanye ini, Irvan dan Agam menyatakan bahwa kampanye #CeritainKopiIndonesia dapat diusung siapapun yang peduli dan punya cerita menarik tentang kopi Indonesia.

“Kalo misalnya emang enggak mau terkait ke brand tertentu, gitu,” tandas Agam, “Ini brand-nya bener-bener bebas dari bias. Cuma kata-kata doang.”

Topi, mug, serta kaos t-shirt bertuliskan #CeritainKopiIndonesia pun hadir untuk dimiliki tanpa sematan merk apapun. Niscaya, sejatinya memang semangat berceritalah yang diusung di sini. Persis inilah keahlian generasi muda saat ini, dengan gaya ‘viral’ yang  punya kekuatan besar dalam menyebarkan kisah. Setidaknya, itulah yang Irvan dan Agam percaya.

“Kalo misalnya enggak kita nih yang galakkin ini, ya, siapa lagi?” tantang Agam.

Yuk mari, Coffeemates!

[REVISI 15 Maret 2017, pukul 21.14; Sebelumnya, nama salah satu pemilik Anomali Coffee dituliskan sebagai ‘Agam Afghari’. Ejaan yang betul adalah ‘Agam Abgari’.]

(Liputan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia,
tulisan dan suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply