Coffeemates, di antara sekian banyak teknik seduh kopi kamu pasti cukup familiar dengan cold brew. Melihat popularitasnya saat ini, nyatanya cold brew memiliki sejarah yang panjang.

Sebelum cold brew menjadi tren di kedai kopi seluruh dunia pada tahun 2014, penyajian kopi seperti ini masyhur dengan nama Kyoto Coffee. Konon, Jepang pertama kali mengenal metode ini dari para pedagang Belanda di zaman kolonial. Kala itu, pedagang Belanda butuh kopi yang dapat disimpan dalam waktu lama sepanjang mereka berlayar.

Kopi yang diendapkan dalam air dingin dan disimpan untuk bekal perjalanan sebelum berlayar ini kemudian diseduh dengan air panas saat ingin dinikmati. Cara menyeduh kopi yang tak lazim ini mudah diterima oleh masyarakat Jepang.Tak lain tak bukan, karena Jepang sudah lebih dulu melakukannya dengan teh. Kyoto Coffee kemudian jadi metode yang populer di Jepang pada tahun 1600-an.

Di akhir tahun 60-an, seorang ahli kimia Todd Simpson menciptakan Toddy Cold Brew System setelah mencicipi konsentrat kopi dingin saat berkumpul dengan para pemilik perkebunan di Guatemala. Awalnya, konsentrat tersebut dibuat untuk dicampur dengan air panas sebagai sajian bagi orang-orang dengan perut sensitif. Kini, setelah berabad-abad, cara menyeduh ala Kyoto ini kian berkembang hingga ke teknik menyeduh yang lebih artistik.

Sebelumnya, untuk membuat cold brew, ekstrak kopi harus diendapkan semalaman di dalam lemari es. Kini, cara penyajiannya pun berkembang dengan menggunakan teknik seduh tetes. Cold brew kian berevolusi menjadi cold drip, yang dibuat dengan alat-alat atraktif yang membuat proses ekstraksi kopi dingin ini lebih menarik untuk diamati.

Sumber: imgur.com

Coffeemates, jika kamu ingin mencoba untuk membuat cold brew di rumah, ini adalah 3 hal yang harus kamu perhatikan:

1) Ukuran Giling

Stemplewski dari Stempels’ Slowbrew menyarankan untuk menggiling biji kopi hingga berukuran medium coarsed. Tentu saja kamu bisa menyesuaikan dengan selera, namun Stemplewski berpendapat, “Jangan percaya siapapun yang mengatakan gilingan kasar selalu lebih baik. Tapi perhatikanlah waktu ekstraksi.”

2) Waktu Ekstraksi

Dalam cold brew, kamu membutuhkan waktu ekstraksi setidaknya 12 hingga 24 jam. Setelah percobaan berkali-kali, Stemplewski menemukan bahwa waktu ekstraksi terbaik untuk cold brew adalah 18 jam. Sementara untuk cold drip, waktu yang dibutuhkan lebih sedikit. Hanya saja, pastikan kecepatan tetesan air satu tetes tiap detik.

3) Air

Kamu tidak perlu menggunakan es batu atau air bersuhu 0°C. Untuk hasil kopi dengan tingkat kepahitan rendah, jagalah suhu air di bawah 20°C. Merlin, penulis kuliner di kanal milik koki Inggris ternama Jamie Oliver, menyarankan untuk menggunakan ratio 1: 8 untuk mendapatkan hasil terbaik dan konsisten.

Butuh percobaan berkali-kali untuk menemukan resep seduh sesuai selera. Menurut J. Stemplewski, bisa jadi biji kopi favoritmu—yang mengeluarkan aroma begitu menggoda ketika diseduh air panas—tidak akan mengeluarkan potensi terbaiknya ketika diseduh dingin.

Layaknya metode seduh lain, rajin bereksperimen adalah kunci.

Sumber: youtube.com

(Disadur dari driftaway.coffee, perfectdailygrind.com,
theguardian.com, dailycoffeenews.com, & jamieoliver.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto disadur dari video ‘Yama Cold Brew Tower Brewing Guide’ oleh Clive Coffee di Youtube,
pinterest.com, & imgur.com)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply