Sebelum memenangkan kejuaraan latte art level nasional maupun level dunia, semua jawara memulai dari nol layaknya manusia biasa. Juara World Latte Art Championship 2015, Caleb Cha, butuh lima tahun mengumpulkan tekad sebelum mengikuti kejuaraan latte art-nya yang pertama. Jagoan latte art lokal kita, Iwan Setiawan, yang kini akrab dipanggil ‘Johni D’Roadrunner‘, pun sudah mengulik latte art sejak tahun 2004 sebelum menjadi juara Indonesia Latte Art Championship (ILAC) 2014 & 2015.

Baik dalam karir Caleb maupun Johni, ada rentang waktu signifikan yang membentuk mereka dari ‘bukan siapa-siapa’ menjadi sosok ‘juara’. Selama masa-masa itu, hanya ada tiga kata berulang yang kemudian menjadi resep kemenangan mereka: latihan, latihan, dan latihan.

Berlatih pun ada pedomannya. Sebagai barista, Caleb Cha menyarankan para latte artist untuk memahami ekstraksi espresso terlebih dulu sebelum mengulik susu. Sementara itu, Johni D’Roadrunner percaya ada motif-motif dasar yang perlu dikuasai barista penganut mazhab latte art, sebelum mereka berkreasi membuat motif sendiri.

dsc00745

Johni D’Roadrunner, juara Indonesia Latte Art Championship 2014 & 2015.

dsc00742

Johni, saat memandu lokakarya latte art pada pembukaan BENEDICT Coffeebar, Minggu (9/10).

dsc00735

Johni, menginstruksikan cara kerja mesin espresso pada salah satu peserta lokakarya latte art, di pembukaan BENEDICT Coffeebar, Minggu (9/10).

“Saya sering lihat beberapa barista yang seneng latte art—ada beberapa yang nggak khatam basic,” papar Johni D’Roadrunner. “Jadi start mulai udah bentuk yang rumit, udah bentuk yang expert. Tapi hasil endingnya itu nggak jalan 100%.”

Johni memperingatkan, kebiasaan ‘loncat tingkat’ ini malah bisa jadi buruk untuk jangka panjang. “Kalau kita bisa satu bentuk pattern, tapi nggak bisa basic lain. Ya, you can stuck di situ,” ujarnya. “Nggak bakal  gerak ke mana-mana.”

Johni menyarankan tiga motif mendasar berikut untuk mereka yang baru mulai mengulik latte art: love (hati), tulip, dan rosetta. Sebelum khatam dengan satu motif, ia menganjurkan, jangan beranjak ke motif lain. Johni sendiri butuh waktu empat tahun lebih untuk menguasai ketiga motif tersebut.

1) Love

Motif ini merupakan motif standar cappuccino yang paling sederhana, dan bisa dilakukan dalam gerakan satu kali tuang.

161027_motif-love_3

Motif ‘love’ buatan Johni dalam gelas cappuccino.

161027_motif-love_2

Disajikan dalam gelas piccolo, motif ‘love’ buatan Johni D’Roadrunner memerlukan trik tuang yang berbeda.

Namun, tidak berarti motif sederhana ini bisa dianggap sepele. Johni sendiri menantang dirinya selama setahun untuk melukis motif ‘love’ dalam berbagai bidang, dari cangkir cappuccino biasa sampai media yang ‘tidak untuk diminum’.

“Pengalaman saya, hampir setahunan—setahun kurang. Itu untuk belajar love dalam segala objek,” ujar Johni. “Gelas kecil, gelas sedang, maupun media yang seharusnya nggak diminum.”

Ia mengaku pernah membuat motif ‘love’ dalam cetakan es batu.

2) Tulip

Level berikutnya, tulip. Jika tadi di motif ‘love’ Johni menghabiskan waktu hampir setahun, untuk motif ‘tulip’ Johni mengulik selama lebih dari setahun.

“Karena saya butuh tulip banyak, developing-nya banyak. Ada ‘tulip standar’, ada ‘wing tulip’, ada ‘flower tulip’, dan segala macem, banyak. Itu hampir-hampir—ya kurang lebih setahunan lah.”

161027_a-motif-tulip_3

161027_a-motif-tulip_2

Berbagai variasi motif ‘tulip’.

Usai berurusan dengan ‘tulip’, Johni baru beralih ke motif ‘rosetta’.

3) Rosetta

“Lebih susah lagi next level ada di ‘rosetta’,” jelas Johnni. “Nah, kalau sudah bentuk pattern ‘rosetta’, biasanya memang lama.”

Motif tersulit dalam tiga motif dasar, tentunya butuh waktu lebih lama.

161027_a-motif-rosetta_1

Motif ‘rosetta’, dilukis Johni saat lokakarya latte art di pembukaan ‘Coffee Bar’ Benedict, Sabtu (9/10).

161027_a-motif-swan_3

Motif ‘angsa’, variasi dari motif ‘rosetta’.

“’Rosetta’ lumayan, lumayan lama. Setahun lebih saya belajar ‘rosetta’,” ujar Johni. “Setiap kali buat kopi, bikin kopi, saya bikin ‘rosetta’.”

Semua ‘latihan’ ini ia lakukan setiap hari, dalam rutinitas sehari-harinya sebagai barista.

Berbagai Teknik
Bermodalkan tiga teknik dasar ini, niscaya barista akan lebih mudah berkreasi dengan motif-motif lain yang lebih rumit.

“Jadi, memang perjalanannya cukup sulit. Kalau kita nggak mulai dari sekarang, belajar dengan step-step yang benar, biasanya akan susah menghasilkan ke pattern-pattern selanjutnya yang lebih expert lagi, lebih sulit lagi.”

Motif-motif latte art level profesional yang lebih rumit memang biasanya merupakan kombinasi dari beberapa motif dasar, dipadu dengan beberapa gerakan memutar cangkir. ‘Flirting peacock’ ciptaan Caleb Cha, misalnya, merupakan perpaduan dari motif ‘love‘, ‘rosetta‘, dan ‘swan’ sekaligus.

161027_a-motif-swan-ver-2_2

Motif ‘angsa’ variasi berbeda, memadukan motif ‘tulip’, ‘rosetta’, dan teknik ukir (etching).

161027_a-motif-swan-ver-2_3

Johni meyakinkan, tidak apa-apa berlama-lama mengulik satu motif sampai khatam.

“Berlama-lama, sampai semua objek bisa, kalau perlu. Sampai tutup mata pun perlu, kalau bisa. Sampai, tangan kanan—kalau biasanya pakai tangan kanan—coba tuang pakai tangan kiri.”

Latte art di ‘mulut orang’
Selain berusaha menuang dengan dua tangan, Johni juga menjabani segala jenis medium untuk melatih kemahirannya. Mulai dari yang ‘normal’ seperti cangkir berbagai macam ukuran dan bentuk, yang ‘menantang’ seperti permukaan sendok makan dan cetakan es batu, hingga yang ‘nyeleneh’ seperti… mulut manusia.

“Jadi emang waktu itu gue nggak taruh espresso. Panas, kan. Jadi gue taruh coklat buat base-nya,” kisah Johni. “Itu gue taruh di mulu temen gue, gue suruh tahan.”

dsc00746

Sayang sungguh sayang, kala itu tidak ada yang mengabadikan aksi latte-art ‘akrobat’ ini. Motif ‘tulip’ berhasil ia gambar di dalam mulut temannya.

“Emang waktu itu lagi iseng sih. Lagi ngumpul gitu dan nggak ada bukti otentik, tapi pernah. Di mulut orang,” ujar Johni. “Sekecil apapun, sih, gue pernah.”

Seketika, masa ’empat tahun’ tidak lagi terdengar begitu menjemukan.

(Liputan, tulisan, & foto oleh Klara Virencia.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

  • Aditia Nurmala says:

    Informasinya menarik, semakin menambah wawasan saya ttg Latte Art.
    Tapi mau tanya apakah ada buku yg membahas tentang Latte Art keseluruhan ??

Leave a Reply