Meski ajang lomba barista seduh manual (manual brew) Al-Munawar ini merupakan panggung kemenangannya yang pertama, Muhammad Aji Firdaus sudah memperoleh basis fans. Semenjak dari babak semifinal, sorakan anak-anak kampung Al-Munawar untuk Aji kian mengeras. Menyeduh sembari disoraki, Aji mengaku gugup.

dsc02970

Muhammad Aji Firdaus, biasa dipanggil ‘Aji’, mengikuti kompetisi seduh manual Al-Munawar secara independen, Sabtu (29/10).

“Sempet, sempet nervous juga. Disorakkin ‘Aji, Aji‘, gitu,” ujar Aji, saat diwawancara Kopikini.com pasca momen kemenangannya, Sabtu (29/10). Kompetisi ini juga merupakan kompetisi seduh manual pertama untuk Aji. “Baru pertama kali begini, kan. Ada orang rame. Apalagi aku orangnya nervous-an.”

Juri kepala kompetisi ini, Laila Dimyati, berkomentar bahwa kopi Aji ‘sangat menyenangkan untuk diminum’ dibandingkan dengan 2 peserta lainnya di babak final.

dsc02494

Kepala juri lomba seduh manual Al-Munawar, Laila Dimyati, saat mengumumkan nomor cangkir kopi pemenang, Sabtu (29/10). Sistem penjurian lomba barista Al-Munawar menggunakan sistem kompetisi a la ‘throwdown’, dengan metode penilaian icip buta (blind cupping).

“Bedanya di—dia long aftertaste sama di tactile-nya (dengan peserta lain—red). Lalu, pleasant, dan balanced,” papar Laila Dimyati, yang berasal dari 3 AM Coffee Jakarta. “Kita, terus terang, menghabiskan kopinya paling banyak. After taste-nya yang menyenangkan. Jadi tidak terasa nyangkut di leher dan tenggorokan.”

Sebagai Q Grader tersertifikasi, Laila Dimyati menilai kopi arabika Semendo yang menjadi kopi kompetisi di ajang ini memiliki karakteristik ‘chocolaty, earthy, dengan sedikit asam citrus yang ada di belakang’.

“Dan sepertinya Aji sudah bisa mengeluarkan semuanya,” komentar Laila Dimyati, menyimpulkan penilaiannya.

Aji sendiri tidak sempat menyicip kopinya di babak final. Terhimpit waktu dan keterbatasan air, Aji hanya mengandalkan aroma pasca penyeduhan untuk ‘meraba’ kenikmatan kopi racikannya.

dsc02350

Aji mengandalkan penciuman untuk me’rasa’ kopi buatannya, Sabtu (29/10).

dsc02352

Nggak terlalu nyicip. Soalnya kan kapasitas airnya tadi yang pas final tadi, abis. Cuma tadi aromanya aja,” Aji mengaku. “Aku biasanya kalau aroma enak, dapet enak. Pas. Itu enak buat saya.”

Di babak final, Aji berhadapan dengan Ahmad Fajar Septian & Rita Elisa. Tak hanya Aji, Fajar dan Rita juga berlomba seduh manual untuk pertama kalinya di ajang kompetisi ini.

Di samping Laila Dimyati sebagai juri kepala, tiga orang juri lainnya terdiri dari jajaran barista lokal Palembang, antara lain: Raymond Ali (pemilik kafe ‘Luthier’), Burlian (pemilik kafe ‘History Coffee’), & Rangga (Ketua komunitas ‘Barista Independent Palembang’). Menggunakan sistem ‘throwdown‘, ketiga juri tersebut menunjuk kopi yang ‘paling ingin dihabiskan’ usai mencicip. Jika ketiga juri menunjuk tiga cangkir yang berbeda, barulah juri kepala Laila Dimyati turun tangan sebagai penengah.

juri-al-munawar_3

Para dewan juri kompetisi seduh manual Al Munawar, Sabtu (29/10). Kiri ke kanan: Rangga (Ketua Barista Independent Palembang), Raymond (pemilik kafe ‘Luthier’), & Burlian (pemilik kafe ‘History Coffee’).

Dengan sistem penjurian tanpa skor, jenjang rasa kopi antar finalis tidak dapat diketahui secara objektif. Menurut salah satu dewan juri, Raymond, selisih ‘kenikmatan’ antar ketiga finalis tersebut sangatlah tipis.

“Jadi sangat disayangkan adalah, tadi yang close (sedikit selisihnya—red) itu si Aji sama si Rita. Kopi si Rita stabil, tapi brightness-nya agak kurang di awal,” jelas Raymond. “Sedangkan kopi Aji itu kompleks dari awal. Itu yang membedakan.”

Pasca perebutan juara I, Rita & Fajar kembali bertanding untuk penentuan Juara II & III. Fajar keluar sebagai pemenang Juara II, sementara Rita mendarat di posisi ke-3.

dsc02502

Rita Elisa, satu-satunya barista perempuan peserta kompetisi seduh manual Al-Munawar, Sabtu (29/10).

dsc02463

dsc02958

Ahmad Fajar Septian (kanan), saat menerima piala dan hadiah uang tunai atas pencapaian Juara II di lomba seduh manual Al-Munawar, Sabtu (29/10).

“Untuk juara II dan ke-3, itu cukup close juga. Cuma yang membedakan mungkin di body,” jelas Raymond. “Kopinya Fajar itu memiliki body yang lebih stable dibandingkan kopinya Rita.”

Sebelumnya, 18 peserta kompetisi barista Al-Munawar terbagi dalam enam grup berisikan tiga orang di babak penyisihan. 6 peserta yang lolos kemudian bertanding di babak semi final, untuk memperebutkan tiga slot di babak final.

Kompetisi barista ini merupakan bagian dari Festival Al-Munawar, yang berlangsung di bagian ulu (hulu) Sungai Musi, Palembang, Sabtu (29/10) & Minggu (30/10) lalu.

dsc02964

Para pemenang lomba seduh manual Al-Munawar, Sabtu (29/10). Kiri ke kanan: Muhammad Aji Firdaus (Juara I), Ahmad Fajar Septian (Juara II), dan Rita Elisa (Juara III).

 

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Klara Virencia;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply