Tri Sukarno Putra, barista asal Sebastian Coffee Shop Bintaro, berhasil membuktikan kepiawaiannya menyeduh di alam terbuka pada ajang Tanding Ninyuh Aeropress 2 di Gunung Puntang, Bandung, Minggu (20/11) lalu. Gelar juara ini otomatis mengamankan Tri Sukarno untuk maju ke ajang kompetisi barista nasional Indonesia Brewers Championship 2017 (IBRC 2017). Didukung penuh oleh koperasi Klasik Beans, Tri tidak perlu pusing soal biaya pendaftaran yang kerap ‘memberatkan’. Kemewahan ini turut ia bagi bersama pemenang Tanding Ninyuh Aeropress 1, Sandi ‘Obit’ asal 5758 Coffee Lab Bandung.

Gelar pemenang diraih Tri usai ‘berjudi’ dengan suhu seduh saat berlaga di babak final. Di panggung terbuka berlatar udara pegunungan, ia memilih bertaruh menyeduh dengan suhu air 80°C.

dsc04415

“Time!” Barista Sebastian Coffeeshop Bintaro, Tri Sukarno Putra, memberi aba-aba pada pencatat waktu, usai menyajikan kopi Flores Wae Rebo di babak final Tanding Ninyuh Aeropress 2, Minggu (20/11).

Bukan sekadar jurus ‘asal tembak’, persiapan sudah Tri lakukan jauh sebelum naik ke panggung. Koperasi Klasik Beans, penyelenggara Tanding Ninyuh Aeropress 2, memberikan sampel kopi Flores Wae Rebo yang jadi modal tanding untuk dikulik peserta seminggu sebelum hari pertandingan. Tri pun mengeksplorasi titik seduh ideal untuk biji kopi ini, demi mengejar karakter ‘floral’ yang ia nilai unik.

“Saya kaget, Mbak, minum Flores Wae Rebo ini,” komentar Tri, saat berbincang dengan Kopikini.com, Minggu (20/11). “Karakter di mana-mana Flores tuh coklat. Di kopi ini tuh beda, coklatnya malah nggak ada sama sekali.”

Tidak sia-sia, suhu seduh rendah pilihan Tri berhasil memunculkan sensasi ‘floral’ kopi Flores Wae Rebo yang memukau dewan juri.

dsc04236

Tri Sukarno Putra (tengah), saat pengumuman lolos ke babak final, Sabtu (19/11). Bersamanya, Ichan Pratama dari Kiwari Farmers Bandung (kiri) dan Desky Arry dari Tinyuh Coffee Bogor (kanan).

dsc04410

dsc04414

Tri Sukarno Putra menyajikan kopi di hadapan dewan juri saat babak final Tanding Ninyuh Aeropress 2, Minggu (20/11).

“Saya bahagia ketika tadi, salah satu peserta menyajikan karakter Floral yang ternyata beneran nongol,” ujar Q-grader Adi W. Taroepratjeka, salah satu juri Tanding Ninyuh Aeropress 2.

Karakter floral ini memang khas kopi Flores Wae Rebo yang ‘diterbitkan’ koperasi kopi Klasik Beans. Roaster Klasik Beans, Imas Suryati, mengaku ia selalu dikejutkan dengan tasting notestropical fruits’ di kopi Flores Wae Rebo yang diproses secara semi-washed ini. Umumnya, sensasi buah-buahan tropis muncul dari biji kopi yang diproses secara natural washed.

dsc04350

Q-Grader asal Bandung, Adi W. Taroepratjeka, saat pengarahan penjurian.

dsc04085

Imas Suryati, roaster kopi Sunda Hejo di koperasi Klasik Beans.

“Memang unik. Ini tahun ke-2 kita dapet Kopi Flores (Wae Rebo—red),” papar Imas, yang mewakili kaum roaster di jajaran juri Tanding Ninyuh Aeropress 2. “Ternyata, setelah saya ngobrol sama yang lain, memang untuk (varietas kopi—red) Red Bourbon itu sendiri karakternya seperti itu.  Tropical fruits-nya memang pasti kuat. Meskipun dia prosesnya washed.”

Bagi Tri, nuansa floral ini senada dengan suasana penyeduhan alam terbuka Tanding Ninyuh Aeropress 2. Tak luput, ia turut menjanjikan sensasi ‘peach, herb, dan buah-buahan tropis’  saat presentasi model ‘open bar’ a la barista profesional di babak final.

“Ya, berbunga-bunga banget lah,” ujar Tri. “Nikmatinnya bener-bener kayak di alam terbuka juga gitu kita jadinya.”

Rangkul Pecinta Kopi, Hulu ke Hilir

Bersama Q-grader Mirza Luqman Effendi selaku Juri Kepala, petani Sunda Hejo Kodir A. Latif, barista juara IBRC 2016 Ryan Wibawa, Imas Suryati & Adi W. Taroepratjeka menjuri seduhan kopi 27 peserta Tanding Ninyuh Aeropress 2 sejak Sabtu pagi (19/11).

dsc04374

Jajaran dewan juri Tanding Ninyuh Aeropress 2. Kiri ke kanan: Mirza Luqman Effendi (Q-Grader dari Brewphobia), Ryan Wibawa (barista Juara IBRC 2016), Adi W. Taroepratjeka (Q-Grader dari 5758 Coffee Lab), Imas Suryati (Roaster Sunda Hejo), Kodir ‘Koko’ A. Latif (Petani Sunda Hejo).

Berselang tak sampai 7 bulan dari ajang yang pertama, pendaftaran Tanding Ninyuh Aeropress 2 diminati oleh 77 penyeduh kopi dari berbagai daerah dan berbagai kalangan. Bertempatkan di selter Gunung Puntang milik koperasi Klasik Beans, kompetisi yang secara harfiah berarti ‘Adu Seduh’ dalam bahasa Sunda ini turut memikat pelajar SMP dan SMA sebagai peserta.

Ketua Pelaksana Tanding Ninyuh Aeropress 2, Anes, mengakui tidak ada peraturan khusus di lomba seduh dengan format throwdown ini. Kopi dan alat seduh lengkap disediakan panitia. Air seduh? Langsung diambil dari Gunung Puntang. Peserta cukup modal bawa diri, dan ‘menyetel’ suasana hati.

Di tengah acara, Kopikini.com lancang menculik sang ketua pelaksana untuk duduk mengobrol di salah satu saung ala Sunda yang ada di area selter.

dsc04172

Ketua Pelaksana Tanding Ninyuh Aeropress 2, Anes, saat berbincang dengan Kopikini.com.

“Peraturannya sih, pertama hati kita harus riang gembira. Semua panitia dan peserta harus riang gembira,” ujar Anes. “Itu peraturan yang utama. Tanpa basa basi juga.”

Dilatari gemericik sungai dan gema suara pembawa acara di kejauhan, Anes bercerita soal mimpi yang berusaha ia bagi lewat acara ini.

“Niat kita bikin acara ini,  bukan lomba serius yang tegang-tegangan gimana,” papar Anes. “Nomor sekian lah kompetisinya. Tapi yang penting kayak nyatu dulu, gitu. Itu yang utama buat kita.”

dsc04066

Para peserta lomba Tanding Ninyuh Aeropress 2 mengangkat tampah berisi beras kopi, secara simbolis membuka acara, Sabtu (19/11).

dsc04428

Desky Arry, finalis asal Tinyuh Coffee Bogor, mengaku gugup di hadapan juri saat berlaga di babak final.

dsc04381

Finalis asal Kiwari Farmers Bandung, Ichan Pratama, menggunakan metode inverted (terbalik–red) di babak final Tanding Ninyuh Aeropress 2, Minggu (20/11).

dsc04154

Babak penyisihan Tanding Ninyuh Aeropress 2. Penyeduhan di udara terbuka dengan suhu pegunungan, lebih ‘menantang’. Suhu air cenderung cepat turun.

dsc04120

Pelajar SMP Athallah Satya, peserta termuda saat babak penyisihan Tanding Ninyuh Aeropress 2.

dsc04183

Eko Purnomowidi, salah satu pendiri koperasi Klasik Beans, turut menyeduh kopi di sela-sela acara.

Berbalut semangat mendekatkan para pecinta kopi kembali ke alam, Tanding Ninyuh Aeropress 2 mengusung slogan ‘kompetisi kopi tanpa sampah’. Mereka yang datang diminta tidak membawa botol air kemasan, ataupun makanan bungkusan yang bisa menimbulkan sampah plastik.

Alhasil, peserta acara niscaya bersukaria: kudapan dan makanan untuk 2 hari total disediakan panitia! Sepanjang acara, sajian ubi rebus dan pisang kepok terhidang di atas tampah. Di balik ‘bar’ kopi, siapapun yang hendak menyeduh dipersilakan meracik sendiri. Asupan kopi filter pun senantiasa terisi, meski penyeduhnya silih berganti.

dsc04087

dsc04090

dsc04093

Usai tanding ninyuh, para peserta bersama segenap panitia menanam pohon kopi di lereng kebun kopi Sunda Hejo. Pasca pengumuman pemenang Tanding Ninyuh Aeropress 2, segenap mereka yang datang diundang untuk berlesehan menyantap makanan di atas hamparan daun pisang. Jamuan massal, manis menutup acara dengan ramah tamah khas tanah Pasundan.

dsc04489

Menanam kopi di lahan sejauh 30 menit perjalanan dari selter Gunung Puntang koperasi Klasik Beans. Tak hanya peserta lomba, siapapun boleh memilih pohon kopi semai mereka sendiri.

dsc04491

Q-grader Adi W. Taroepratjeka, menanam pohon kopi semai pilihannya.

dsc04592

Para pemenang lomba Tanding Ninyuh Aeropress 2. Kiri ke kanan: Tri Sukarno Putra (Juara I), Desky Arry (Juara II), & Ichan Pratama (Juara III).

dsc04610

dsc04068

(Liputan oleh Andreansyah Dimas, Clarissa Eunike, & Klara Virencia;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Andreansyah Dimas & Clarissa Eunike;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply