Hari Keadilan Sosial di Dunia yang dirayakan setiap tanggal 20 Februari kembali mengingatkan kita tentang takaran adil dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu jauh-jauh kita masuk ke ranah isu sosial politik. Kali ini, tim kopikini.com mengajak Coffeemates sejenak merenungi keadilan sosial sambil santai menikmati secangkir kopi.

Menjadi sila terakhir Pancasila, ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ tak lantas jadi sila yang paling tidak penting. Menghargai hasil karya orang lain bisa menjadi salah satu pengamalan butir sila ke-5 ini.

Sudahkah Coffeemates menghargai karya barista yang membentuk lekukan hati sempurna di cangkir latte-mu? Atau sudahkah Coffeemates sekedar berterima kasih dengan menyunggingkan senyum pada barista kesayangan yang mampu mengeluarkan karakter rasa kacang dan coklat dari kopi Bajawa dalam secangkir kopi seduh-manualmu?

Jika itu sudah Coffeemates lakukan, mari kita sama-sama tengok kotak tip di pojok kiri atau kanan meja kasir kedai kopi kesayanganmu. Apakah kotak ini sudah terisi dengan rupiah, atau malah penuh dengan kertas bon pembayaran?

Apapun ibadahnya.

Perlu atau tidaknya memberikan tip bagi seorang barista kerap menjadi perbincangan. Jika memang perlu, soal jumlah tip yang adil dan pantas untuk diberikan juga masih menjadi persoalan. Dalam beberapa artikel internet yang berisi saran untuk memberikan uang tip bagi tiap layanan di berbagai negara, profesi barista termasuk profesi penyedia jasa yang absen dari kemewahan ini. Beda halnya dengan profesi pelayan restoran ataupun hotel.

Biasanya, jika kita membeli makanan atau minuman di restoran, pajak pemerintah sebanyak 10% dan pajak pelayanan 5% sudah termasuk di dalamnya. Namun tak jarang, pajak yang tercantum dalam bon hanyalah pajak pemerintah. Kotak tip yang terpajang di depan meja kasir pun seakan memohon minta diisi.

Di Indonesia, memberi uang tip di kedai kopi belum menjadi keharusan atau budaya. Namun di beberapa negara, terutama Amerika dan Eropa, tips sebesar 15-25% atas nilai kepuasaan bagi sebuah pelayanan merupakan hal yang wajib.

Memang, tak berarti pemilik kafe boleh lengah memikirkan pelanggannya saat mereka mendahulukan kesejahteraan barista. Ketika pelanggan merasa ‘dipaksa’, salah-salah kafe itu malah masuk berita. Dikutip dari surat kabar New York Times, niat baik Cafe Grumpy di kota New York malah membuat pelanggannya tidak nyaman.  Pasalnya, beberapa pelanggan merasa ‘dipaksa’ memberi tips dengan jumlah yang ‘terlalu besar’. Lewat perangkat elektronik, setelah membayar tagihan setiap pelanggan di meja kasir otomatis dituntun kepada pilihan untuk memberi tips. Setelah tombol ditekan, akan muncul pilihan: 1$, 2$ dan 3$.

Jika pelanggan membeli kopi seharga 4$, artinya pilihan memberikan tips berkisar antara 25%, 50%, atau 75% dari total tagihan. Tanpa pilihan “tidak mau memberikan tips” dalam perkakas elektronik tersebut, tentunya keharusan ini membuat pelanggan merasa terintimidasi.

Timbulah pertanyaan, berapa jumlah tip yang pantas untuk barista yang berhasil memberikan kebahagiaan bagi Coffeemates melalui secangkir kopi yang mereka seduh?

“Kami jelas merekomendasikan tips sebesar 20%,” ujar Direktur Pelaksana Emily Post Institute, Peter Post. Emily Post Institute tempatnya bekerja bergerak di bidang penyedia jasa ahli yang memberikan pedoman ber-etika dalam ranah kehidupan sosial dan bisnis.

Kode keras #1.

Pada bulan Desember, sebuah restoran Italia di Los Angeles melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Mereka memberikan pilihan tambahan dalam tagihan untuk memberikan tip kepada para pelayan dan pekerja di dalam dapur, yang kerap absen dari kesempatan untuk mendapatkan tip.

Konsep memberikan tip sebagai sebuah bentuk apresiasi sempat meluas ke beberapa area. Maret 2015 lalu, Silicon Valley sempat membuat sebuah platform bernama ChangeTip. Melalui platform tersebut, siapapun dapat memberi uang tip dalam bentuk Bitcoin melalui media sosial, surat elektronik, atau Skype untuk menunjukkan apresiasi mereka terhadap pembuat konten atau siapapun di internet.

Mungkin saja terinspirasi oleh ChangeTip, muncul inovasi teknologi lainnya yang membawa perubahan bagi barista dan profesi setipe lainnya. DipJar, sebuah perusahaan yang membuat kotak tips elektronik, menawarkan alternatif bagi pelanggan yang membeli kopi dengan kartu kredit. Melalui DipJar, pelanggan yang membayar dengan kartu kredit tetap dapat memberikan tips bagi barista.

Dengan beragam pilihan untuk memberikan uang tip, siapapun akan lebih mudah untuk menyampaikan apresiasi mereka kepada para penyedia jasa.

Kode keras #2.

Kembali ke soal keadilan sosial, Coffeemates.

Jika bagi Coffeemates pergi ke kedai kopi mewah dan membayar harga segelas seduhan manual seharga Rp 50.000 dirasa sudah cukup adil, kenapa tidak?

Namun, jika barista yang menyediakan kopi tersebut langsung menyapa Coffeemates dengan menyebutkan nama dan senyum manis, mampu membuat Coffeemates tertawa sembari dia menyeduh kopi, dan kopi yang disediakan selalu melebihi ekspektasi, kenapa tidak juga memberi sedikit lebih banyak?

Niscaya, demi barista yang dapat selalu berseri setiap menyeduh kopi.

Terutama bagi yang bukan muhrim.

(Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia;

Informasi mengenai memberi tips disadur dari getrichslowly.org & newyorktimes.com.

Gambar-gambar disadur dari buzzfeed.com, huffingtonpost.com,
akun instagram @the_vanilla_guerilla,
& dokumentasi kopikini.com;

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Lani Eleonora

About Lani Eleonora

Lani Eleonora adalah seorang penikmat kopi yang senang berkelana, menapaki gunung, dan menyelami lautan. Musik adalah cinta pertamanya yang menuntun ia untuk menulis.

Leave a Reply