Di Hari Kopi Internasional, 1 Oktober 2016 esok, sekolah barista binaan Kementerian Ketenagakerjaan ‘East Indische’ di Lembang, Bandung, resmi dibuka. Berikut reportase eksklusif Kopikini.com mengikuti uji coba program ‘East Indische’ di Lembang, 14-16 September 2016, bersama 20 calon barista dari dari berbagai daerah lintas pulau di Indonesia.

Kebun kopi, dapur roasting, bar racik kopi, dan kedai kopi. Hulu sampai hilir industri kopi dalam satu tempat. Para murid  tidak perlu membawa kualifikasi apa-apa, cukup bawa diri dan ikuti tes kepribadian. Tak perlu pusing pula soal bayaran, semuanya ditanggung asal peserta punya keseriusan.

tempat-pelatihan-venue-in-wide

Area sekolah barista ‘East Indische’ oleh Kemenaker di Lembang, Bandung, Jawa Barat

Demikian janji dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) untuk para calon peserta balai pelatihan barista yang bertempatkan di Bandung, Lembang ini. Kepala Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (BBPPK & PKK) Ir. Nana Mulyana menjelaskan, program ini merupakan kelanjutan aspirasi Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri untuk menciptakan variasi model perluasan lapangan usaha kerja.

“Uji coba model ini merupakan yang pertama kali, dan merupakan peer kami yang paling berat,” ungkap Nana Mulyana, saat pembukaan program uji coba, Rabu (14/9). “Nah, salah satu glondongannya adalah (program–red) barista ini.”

kiri-pak-purwanto-kanan-pak-nana

Kepala BBPPK & PKK Ir. Nana Mulyana (kanan).

Selama 3 hari, keseluruhan sesi pelatihan dipadu oleh Ade Irzal dan Aldi Rifaldi sebagai instruktur. Di hari pertama, para peserta mendapat pengetahuan mendalam mengenai kopi dan ilmu roasting di hari pertama. Hari kedua, para peserta mengenal cara penggunaan mesin espresso dan alat-alat penyeduhan kopi manual. Rangkaian pelatihan ditutup dengan kompetisi menyeduh di hari ketiga.

Penanggung Jawab program East Indische, Yoga Purnama Mafirion, sengaja menjaring peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang dan jenjang usia. “Ada beberapa orang petani, dan ada anaknya petani, mahasiswa, ada juga orang kantoran. Ada juga pensiunan,” papar Yoga Purnama. “Biar ada segmentasinya semua, gitu. Barista ini tidak harus anak muda.”

yoga-menjelaskan

Yoga Purnama, penanggung jawab proyek ‘East Indische’

Selain diramaikan peserta asal Jawa Barat, para peserta juga berasal dari berbagai kota besar di Indonesia. Angkatan pertama ‘East Indische’ pada sesi 14-16 September 2016, misalnya, mencakup peserta asal Medan, Serang, dan Jakarta. Pasca peresmian, sekolah ‘East Indische’ akan menggelar sesi pelatihan untuk yang kedua kalinya pada 18 Oktober 2016, mencakup peserta asal Papua, Batam, Medan, dan Jawa Barat.

Dalam merancang kurikulum pelatihan, Ade Irzal, selaku pemilik sekolah barista Prodigy ID Coffee & Academy, mengacu pada standar kompetensi lembaga sertifikasi profesi barista. Sementara itu, Aldi Rifaldi bertumpu pada pengalamannya sebagai barista dan roaster.

ade-2

Instruktur Ade Rizal, penyusun kurikulum pelatihan ‘East Indische’ dan pemilik kafe Prodigy ID Coffee & Academy

aldi-menjelaskan-manual-brew

Instruktur Aldi Rifaldi menjelaskan teknik manual brew.

Kurikulum yang diujicobakan pada 14-16 September 2016  tersebut akan disempurnakan menjadi modul resmi program Sekolah Barista berdurasi 3 minggu, yang mulai berlaku awal tahun 2017 nanti. Dalam program resmi tersebut, masing-masing peserta dapat memilih ‘penjurusan’ profesi industri kopi sesuai dengan minatnya. Antara barista, roaster, ataupun pemilik kedai kopi.

“Untuk tahun depan itu kita akan menjaring 600 peserta dalam 1 tahun,” papar Yoga. Penjaringan peserta akan digencarkan melaui laman resmi dari Divisi Litbang BBPPK & PKK, maupun lewat pemerintah daerah setempat. Yoga mengingatkan, proses seleksi berbasis psikotes ini akan berlangsung sengit.

“Tidak ada dipungut biaya sama sekali, jadi sangat ketat untuk seleksinya itu sendiri,” ujar Yoga. “Seluruh Indonesia. Berbarengan nanti.”

Selain menjanjikan sertifikasi profesi barista, sekolah ‘East Indische’ juga menjanjikan penyaluran barista dengan partner-partner kedai kopinya. Sementar itu, peserta yang memilih untuk menjadi roaster ataupun pemilik kedai kopi akan dimodali mesin kopi dan mendapat pendampingan, sampai setahun setelah memulai usaha.

penutupan-acara

(Liputan oleh Andreansyah Dimas;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.

Foto & suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

4 Comments

  • Khairil amin says:

    Saya Khairil amin, berasal dari bengkulu selatan, propinsi bengkulu, saya ingin mengembangkan usaha pengolahan kopi sebagai barista dan pemilik kedai kopi, atau usaha mandiri, mhn info nya untuk ikut program ini.

  • sefrudin aryanto says:

    dari penikmat kopi, saya ingin belajar management pengolahan kopi, hatur nuhun

  • Leni says:

    Mohon info nya untuk mengikuti program ini, apakah ada batasan usia dll…trmksh

  • Ferro says:

    Saya sangat berminat untuk membuka kedai kopi di tempat saya sulawesi utara. bagaimana caranya untuk ikut jadi peserta sekolah maupun program ini. terima kasih.

Leave a Reply