Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menyediakan portal ekspor kopi untuk membantu para pengusaha kopi menyikapi harga ekspor kopi yang tidak stabil. Sebagai bagian dari Kemendag, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) bertugas mengembangkan program ini. Kepala Bappebti Bachrul Chairi menyatakan pihaknya akan menyediakan Portal Ekspor Kopi Indonesia (PEKI) sebagai pusat registrasi kontrak kopi tujuan ekspor.

“Melalui PEKI pemerintah dan pelaku usaha kopi akan memiliki informasi dan data tentang potensi ekspor kopi dan memetakan perdagangan kopi Indonesia,” kata Bachrul dalam keterangannya, Jakarta, Senin (1/8).

#76_coffee tree

Bappebti mengambil langkah ini untuk menanggapi keluhan para eksportir kopi nasional yang tergabung dalam Gabungan Eksportir Kopi (GAEKI). Menurut Ketua GAEKI, Moenardji Soedargo, sejak tahun 90-an, peraturan-peraturan kegiatan ekspor kopi menjadi longgar. Perusahaan-perusahaan asing diizinkan menjadi eksportir dan menjadi saingan para eksportir kopi nasional.

“Padahal di saat bersamaan, eksportir PMA tersebut juga bertindak sebagai pembeli sehingga terjadi iklim persaingan yang tidak sehat bagi eksportir nasional,” kata Moenardji.

Produk PEKI merupakan bagian dari konsep pendaftaran kontrak kopi dan pembentukan harga kopi di bursa, yang sedang dirancang Bappebti. Sistem registrasi kontrak kopi dapat menghasilkan data keseluruhan komitmen kontrak, jenis, kualitas, dan bulan pengapalan ekspor kopi nasional. Registrasi juga dapat meminimalisasi usaha manipulasi harga. Sistem PEKI nantinya akan terintegrasi dengan sistem Inatrade Kementerian Perdagangan.

#76_coffee beans_4

Sementara itu, perdagangan kopi akan menggunakan sistem lelang online untuk menentukan pembentukan harga penjual dan pembeli terbaik.

“Pembentukan harga kopi di Bursa Kopi akan membantu petani dan para eksportir memberikan harga acuan dalam menentukan harga jual kopi,” jelas Bachrul. Ketiadaan patokan harga kopi tidak hanya merugikan eksportir, namun juga para petani kopi.

Selama ini, banyak petani kopi lokal yang tidak tahu harga kopi di pasaran. Juni 2016 lalu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (AEKI) Irfan Anwar menyatakan keprihatinannya tentang kesejahteraan petani.

“Kopi kita itu terkenal di dunia, tapi petani kopi tak kunjung sejahtera,” ujar Ketua Umum AEKI Irfan Anwar, saat membuka diskusi kopi di Kementerian Perdagangan, Jumat (3/6).

Disadur dari okezone.com & bisnisjakarta.co.id.

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply